Tim kajian rencana pembentukan holding pelabuhan indonesia sudah terbentuk. PT Pelindo II ditunjuk sebagai koordinator dari tim tersebut.
Direktur Utama Pelindo II Elvyn G. Masassya menjelaskan bahwa saat ini sudah terbentuk tim untuk mengkaji rencana tersebut. Pelindo II didapuk sebagai koordinator tim tersebut.
“Sudah dibentuk tim, tetapi intinya adalah mengambil kekuatan dari masing-masing Pelindo untuk nanti diangkat menjadi satu sistem yang sama,” kata Elvyn G. Masassya, Dirut PT Pelindo II, saat menjawab wartawan di kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Selasa (21/1)
Menurut Elvyn bahwa selama ini operasional pelabuhan dibawah PT Pelindo I, II, III, dan IV dibatasi oleh wilayah geografis. Nanti dengan adanya Holding Pelabuhan, pembatasan tersebut sudah tidak lagi berlaku. “Nantinya ruang lingkupnya adalah Indonesia, dengan standardisasi operasional yang sama, infrastruktur yang sama, dan yang melaksanakan aktivitas operasionalnya itu akan dibentuk suatu perusahaan yang spesifik dari yang ada sekarang,” ungkapnya.
Elvyn menyatakan dengan tidak adanya pembatasan ruang lingkup operasional, Holding Pelabuhan bisa bekerja secara efektif dan efisien. Standardisasi operasional dan infrastrukturnya juga akan sama di semua wilayah. “Saat ini kan begitu banyak pelabuhan di Indonesia tetapi aksesnya beda beda. Ada infrastruktur yang premium, ada yang kurang baik. Kalau nanti satu holding, akan ada one policy for all. Jadi satu sistem, satu manajemen, satu kebijakan,” jelas Elvyn.
Saat ini, ujar Elvyn, tahapan pembentukan holding, masih pada tahap kajian bersama konsultan. Dari kajian tersebut, dipetakan secara mendalam kompetensi dari masing-masing Pelindo. Diharapkan proses ini akan selesai tahun 2020. Sehingga nanti akan terbentuk suatu holding pelabuhan Indonesia dengan cakupan geografis Indonesia. “Setelah dibentuk holding, Pelindo-nya tentu akan dibentuk operating company sesuai dengan core-nya masing-masing,” katanya lagi.
Operating Company yang dimaksud, bisa berupa merger dari anak-anak usaha Pelindo yang pengelompokannya didasarkan pada kesamaan bidang kerja operasional. Misalnya yang core bisnis petikemas dikelompokkan sendiri, non petikemas sendiri, dan seterusnya. “Jadi akan ada yang meng-handle peti kemas, meng-handle peralatan, dan seterusnya, dengan cakupan area Indonesia,” ungkap Elvyn. (***)






























