Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menyampaikan perkembangan terkini mengenai insiden hilang kontak dan tenggelamnya speedboat SB. Mister Un (GT 2) di perairan Teluk Tomini, Gorontalo.
Berdasarkan manifes, kapal membawa 13 orang yang terdiri dari 11 penumpang Warga Negara Asing (WNA) dan 2 orang awak kapal. Hingga Sabtu (25/7) sore, Tim SAR Gabungan telah mengevakuasi seluruh penumpang dalam keadaan selamat, dan saat ini operasi pencarian difokuskan untuk menemukan satu awak kapal yang masih dalam pencarian.
Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Muhammad Masyhud, menjelaskan bahwa seluruh korban selamat telah berhasil dievakuasi dan mendapatkan penanganan medis.
“Berdasarkan pembaruan data pada Sabtu (25/7) pukul 15.00 WITA, Tim SAR Gabungan telah menemukan 12 orang dalam keadaan selamat, termasuk 11 penumpang WNA. Seluruh korban selamat telah dievakuasi ke Resort Sanctum di Una-Una untuk penanganan awal, dan selanjutnya dibawa ke RSUD Ampana untuk pemeriksaan medis lanjutan,” ujar Masyhud.
Terkait satu korban yang belum ditemukan, Dirjen Masyhud menyatakan bahwa seluruh unsur SAR terus mengintensifkan upaya pencarian di lokasi kejadian.
“Saat ini, satu orang awak kapal, yakni Nakhoda atas nama Ferdiansyah, masih dalam proses pencarian. Tim SAR Gabungan tengah melakukan penyisiran di sekitar area penemuan korban selamat,” tambahnya.

Sebagai langkah penanganan, UPP Kelas III Ampana telah mendirikan Posko Penanganan untuk mengoordinasikan operasi pencarian dan penyelamatan.
Speedboat yang dioperasikan oleh PT. Farmaz Jaya Abadi diketahui bertolak dari Pelabuhan Una-Una, wilayah kerja Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Ampana, dengan tujuan Pelabuhan Marisa, Gorontalo, pada Jumat (24/7) pukul 07.30 WITA.
Berdasarkan informasi awal di lapangan, speedboat SB. Mister Un mengalami kendala teknis berupa mati mesin, yang kemudian diperburuk oleh kondisi hidrometeorologi di lapangan hingga menyebabkan kapal tenggelam di sekitar area penemuan korban.
Kondisi ini kemudian mengalami perburukan ekstrem pada malam hari dengan gelombang yang makin tinggi disertai cuaca buruk, yang sempat menghambat jalannya operasi penyelamatan.
Dirjen Masyhud menegaskan bahwa Ditjen Hubla terus berkoordinasi secara intensif dengan seluruh unsur terkait guna memastikan operasi SAR berjalan efektif dan optimal.
“Ditjen Hubla terus berkoordinasi dengan Basarnas Gorontalo, TNI AL, Polairud, SROP Ampana, dan pihak terkait di lokasi. Operasi pencarian sempat ditunda pada Jumat (24/7) malam karena kondisi gelombang tinggi di perairan Teluk Tomini demi keselamatan personel SAR. Operasi telah dilanjutkan kembali pada Sabtu pagi,” jelasnya.
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menyampaikan keprihatinan kepada para penumpang dan keluarga korban serta menegaskan komitmennya dalam mengawal proses penanganan insiden ini.
“Kami memantau secara berkala jalannya operasi SAR dan memastikan upaya pencarian nakhoda dilakukan secara optimal bersama seluruh unsur yang terlibat,” katanya.
Ditjen Hubla kembali mengingatkan seluruh operator kapal dan masyarakat maritim untuk memastikan kesiapan teknis armada serta memperhatikan kondisi cuaca sebelum melakukan pelayaran. (***)






























