Tahun 2026, pelayaran nasional masih prospektif. Bukan hanya petikemas saja, namun semua sektor, apalagi yang bisa memperoleh kontrak jangka panjang.
Dipastikan pelayaran tersebut tak akan goyah dengan situasi apapun. Meski begitu industri pelayaran masih dihadapkan pada persoalan dukungan perbankan yang kurang total, mengingat usaha pelayaran dinilai berisiko tinggi.
Tapi benarkah demikian, bagaimana usaha pelayaran untuk tetap bertahan, dan bagaimana rencana Indonesia National Shipowners Association (INSA) kedepan, Ocean Week (OW) mencoba meng-interview Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto (CH), berikut petikannya.
OW : Bagaimana kondisi dan situasi usaha pelayaran nasional di tahun 2026?
CH : Kami melihat pelayaran nasional masih tetap prospektif untuk tumbuh baik di 2026, meski memang tekanan ketidakpastian global masih terasa, tapi kita melihat ekonomi kita masih kuat untuk terus tumbuh selama daya beli masyarakat terus diperkuat, agenda-agenda strategis ekonomi nasional masih berjalan konsisten seperti pembangunan ataupun hilirisasi, terlebih proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 yang ditarget mencapai 5,4 persen yang membuat kita menatap 2026 dengan optimis.
OW : Sektor pelayaran apa yang masih dan bakal eksis di tahun ini?
CH : Sebenarnya industri pelayaran seluruh segmen masih akan terus eksis selama air laut belum surut. Beberapa sektor diproyeksikan tetap eksis dan bahkan terus tumbuh berkembang, antara lain pelayaran kontainer seiring pertumbuhan ekonomi dan distribusi logistik nasional 2026, kapal curah untuk mendukung agenda hilirisasi. Selain itu, sector tug and barge juga masih akan tumbuh karena bagaimanapun batubara sampai saat ini masih tetap menjadi sumber energi kita kan dan batubara juga kan masih jadi komoditas ekspor Utama Indonesia. Untuk sektor offshore dan tanker juga akan terus terdorong tumbuh untuk mendukung aktivitas eksplorasi migas oleh SKK Migas. Selain itu, kapal pariwisata kami yakini tumbuh positif sejalan dengan pengembangan destinasi wisata bahari nasional.
OW : Apa saja kendala yang masih dan bakal dihadapi usaha pelayaran domestic?
CH : Tantangan kita masih dihadapkan pada kondisi klasik ya, salah satunya dari sisi market misalnya, tantangan itu tentang bagaimana pelayaran nasional ke depan bisa mendapatkan kontrak jangka panjang, dan usaha bersama kita semua untuk menumbuhkan volume muatan di wilayah timur Indonesia. Dari sisi moneter kita masih memerlukan dukungan perbankan dan lembaga pembiayaan dalam peningkatkan kualitas armada nasional dengan bunga yang kompetitif dan tenor panjang, dan kita juga butuh dukungan fiscal yang lebih bersahabat bagi pelayaran nasional.
OW : Benarkah perbankan sampai saat ini masih belum berpihak pada usaha pelayaran nasional?
CH : Kita bicara secara umum, memang akses pembiayaan perbankan bagi pelayaran nasional masih terbatas, karena industri pelayaran dipandang berisiko tinggi dan padat modal sehingga pembiayaan biasanya bertenor pendek dan bunganya dua digit. Sehingga kita perlu lah dukungan dan keberpihakan yang lebih konkret melalui dukungan bank maupun non bank untuk pengembangan armada pelayaran nasional agar lebih kompetitif.
OW : Apa rencana INSA di tahun 2026 ini?
CH : Di tahun 2026, INSA akan terus mendorong peningkatan daya saing dan pengembangan usaha anggota. Kami juga akan memperkuat advokasi kebijakan, serta meningkatkan sinergi dengan berbagai pihak. Karena Industri pelayaran tidak bisa berjalan sendiri. Untuk itu, kami berharap Presiden bisa memberikan perhatian lebih terhadap pelayaran merah putih. Presiden dapat memberikan arahan kepada kementerian dan lembaga terkait agar bisa duduk bersama dan berkoordinasi. Karena bagaimanapun pelayaran sangat membutuhkan perhatian mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan meski belum menjadi negara maritim. Dan pelayaran nasional berperan sangat strategis dalam banyak hal, salah satunya ikut serta menjaga kedaulatan negara.
Selain itu, kita ingin terus berkolaborasi degan pemangku kepentingan lainnya seperti pengelola pelabuhan, asosiasi terkait, biro klasifikasi, perbankan dan lainnya.
OW : Seberapa besar dukungan pemerintah terhadap pelayaran nasional?
CH : Kita patut apresiasi komitmen pemerintah yang tampak begitu kuat terutama dalam menjaga konsistensi kebijakan yang memang telah terbukti positif bagi kedaulatan negara seperti kebijakan asas cabotage. Tapi memang seperti tantangan yang kami sebutkan sebelumnya masih perlu dicarikan solusi ke depannya.
OW : Harapan Ibu sebagai Ketua Umum INSA ke depan untuk usaha pelayaran?
CH : Kita berharap, pelayaran nasional terus tumbuh positif sehingga bisa memberikan dampak bagi masyarakat lebih luas melalui penyerapan tenaga kerja, kelancaran distribusi logistic di seluruh wilayah, maupun memberikan efek tumbuh berganda bagi sector pendukung pelayaran seperti pelabuhan, asuransi, sekolah pelaut, galangan, dan lainnya. Hal ini mengingat pelayaran bukan cuma tulang punggung kegiatan logistic nasional tapi juga motor ekonomi nasional, sehingga pelayaran nasional yang terus tumbuh dan berkembang akan memperkuat kemandirian dan kedaulatan negara di sector maritim. (ridwansaid/ow)






























