PT Pelindo Terminal Petikemas melalui Terminal Petikemas Semarang (TPK Semarang) memulai uji coba operasional unit pertama Rubber Tyred Gantry Crane (RTG) berbasis listrik sebagai bagian dari transformasi energi melalui elektrifikasi peralatan bongkar muat.
Langkah ini menjadi wujud komitmen perusahaan dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar diesel melalui pemanfaatan energi listrik yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Uji coba operasional tersebut merupakan bagian dari proyek elektrifikasi tiga unit RTG dengan total nilai investasi mencapai Rp30,7 miliar.
Dari total tujuh unit RTG yang dimiliki TPK Semarang, satu unit telah memasuki tahap uji coba operasional, sementara dua unit lainnya akan menyusul secara bertahap setelah seluruh proses instalasi, pengujian, dan commissioning selesai.
Transformasi energi melalui elektrifikasi RTG merupakan bagian dari strategi modernisasi peralatan Terminal Petikemas Semarang dalam mendukung implementasi Green Port, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperkuat komitmen Pelindo terhadap operasional pelabuhan yang berkelanjutan.
Selain mengonversi sistem penggerak RTG dari berbahan bakar diesel menjadi tenaga listrik, proyek ini juga dilengkapi dengan teknologi cerdas untuk meningkatkan keandalan dan keselamatan operasional. Proyek ini merupakan tindak lanjut dari pekerjaan elektrifikasi yang dimulai pada tahun 2024.
Terminal Head TPK Semarang, I Nyoman Sutrisna, mengatakan bahwa elektrifikasi RTG menjadi salah satu langkah strategis perusahaan dalam mendukung transisi energi di sektor kepelabuhanan.
“Transformasi energi merupakan bagian penting dari upaya TPK Semarang dalam mewujudkan operasional terminal yang lebih efisien, modern, dan berkelanjutan. Melalui elektrifikasi RTG, kami mulai mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar diesel dengan beralih ke energi listrik yang lebih ramah lingkungan. Selain mendukung pengurangan emisi karbon, transformasi ini juga diharapkan meningkatkan keandalan peralatan serta kualitas pelayanan kepada para pengguna jasa,” ujarnya.
Dia menyampaikan bahwa modernisasi peralatan akan terus dilakukan secara bertahap sebagai bagian dari transformasi operasional perusahaan dalam menghadapi tuntutan industri logistik dan kepelabuhanan yang semakin mengedepankan efisiensi serta aspek keberlanjutan.

Sementara itu, Joko Dwi Cahyono, Project Manager PT Bima, menjelaskan bahwa proyek elektrifikasi RTG merupakan pekerjaan rekayasa yang kompleks karena tidak hanya mengubah sumber energi dari diesel menjadi listrik, tetapi juga mengintegrasikan sistem kelistrikan, sistem kontrol, dan teknologi keselamatan agar alat tetap beroperasi secara optimal.
“Elektrifikasi tiga unit RTG ini mencakup modifikasi sistem penggerak dari diesel menjadi listrik, pembangunan infrastruktur kelistrikan pendukung, integrasi sistem kontrol, hingga pengujian menyeluruh terhadap fungsi dan aspek keselamatan alat. Tahap uji coba operasional yang saat ini berlangsung menjadi bagian penting untuk memastikan seluruh sistem bekerja sesuai spesifikasi teknis dan memenuhi standar operasional sebelum dioperasikan secara penuh,” jelasnya.
Menurut Joko, modernisasi RTG tidak berhenti pada elektrifikasi, tetapi juga menghadirkan teknologi pendukung yang meningkatkan keselamatan dan keandalan operasional.
“Selain elektrifikasi, kami juga memasang Auto Gantry Steering System (AGSS) berbasis Global Positioning System (GPS) yang membantu menjaga pergerakan RTG tetap presisi pada jalurnya. Selain itu, setiap unit juga dilengkapi Anti Collision System (ACS) yang memanfaatkan teknologi laser scanner dan kamera beresolusi tinggi untuk mendeteksi potensi tabrakan dengan objek di sekitar area operasi. Integrasi teknologi tersebut meningkatkan keandalan peralatan sekaligus memperkuat aspek keselamatan operasional,” katanya.
Dia menambahkan bahwa kombinasi elektrifikasi dan penerapan teknologi cerdas tersebut merupakan bagian dari modernisasi peralatan bongkar muat yang mengedepankan efisiensi, keselamatan, dan keandalan.
“Dengan beralih ke energi listrik serta didukung teknologi AGSS dan ACS, RTG tidak hanya lebih efisien dalam penggunaan energi, tetapi juga lebih aman, lebih andal, dan lebih presisi dalam operasional. Selama masa uji coba, tim proyek akan terus melakukan monitoring dan evaluasi untuk memastikan seluruh sistem bekerja optimal sebelum seluruh unit dioperasikan,” ungkapnya.
Selain meningkatkan efisiensi operasional, elektrifikasi RTG juga menjadi bagian dari kontribusi TPK Semarang dalam mendukung upaya dekarbonisasi sektor kepelabuhanan melalui pengurangan penggunaan bahan bakar fosil dan penerapan teknologi yang lebih bersih.
Elektrifikasi RTG menjadi salah satu langkah strategis TPK Semarang dalam mendukung transformasi energi di sektor kepelabuhanan. Seiring penyelesaian elektrifikasi terhadap dua unit RTG lainnya, perusahaan optimistis modernisasi peralatan ini akan semakin meningkatkan efisiensi operasional, keandalan layanan bongkar muat, serta memperkuat implementasi Green Port di Pelabuhan Tanjung Emas. (***)






























