Revitalisasi pelabuhan Cirebon ada ditangan Direksi Pelindo II. Menyusul telah diterimanya Rencana Induk Pelabuhan (RIP) Cirebon dari Kementerian Perhubungan, pada bulan November 2017 lalu, dan kemudian sudah diteruskan oleh Pelindo II Cabang Cirebon kepada direksi Pelindo II untuk diputuskan kapan memulai pengembangan pelabuhan tersebut.
Anggaran yang dibutuhkan untuk merevitalisasi pelabuhan Cirebon sekitar Rp 5-7 triliun.
Kepada Ocean Week, Deputi Hukum dan Pengendalian Internal PT Pelindo Cabang Cirebon, Iman Wahyu menyatakan bahwa revitalisasi akan membuat pelabuhan Cirebon lebih berkembang lagi sebagai gerbang utama ekspor berbagai komoditi dari wilayah Cirebon dan sekitarnya.
“RIP dari Kementerian Perhubungan itu sudah diteruskan kepada Direksi Pelindo II. Kami sekarang menunggu keputusan dari direksi. Jadi bolanya sekarang ada di direksi (Pelindo II),” ujarnya per telpon, Kamis (7/12).
Sekitar dua tahun lalu, revitalisasi pelabuhan Cirebon juga pernah didiskusikan antara Pelindo II dengan stakeholder terkait. Sejumlah pelaku usaha di wilayah Cirebon sangat mendukung adanya pengembangan pelabuhan ini. Bahkan, mereka (industri) di Cirebon dan sekitar sudah siap mensupport komoditinya dikapalkan lewat pelabuhan ini.
Iman Wahyu menambahkan, revitalisasi diharapkan dapat dimulai tahun 2018 mendatang. “Kami berharap paling lambat pertengahan 2018 sudah bisa,” ungkapnya.
Dalam revitalisasi itu, akan ada lahan seluas 50 hektare yang direklamasi untuk dermaga baru. Dermaga yang berjarak sekitar dua kilometer dari bibir pantai tersebut akan dikeruk dengan kedalaman sekitar sembilan meter. Dengan demikian, maka dermaga itu bisa dilabuhi oleh kapal-kapal besar, seperti kapal kargo.
Iman menyatakan, revitalisasi tersebut ditargetkan selesai selama dua tahun, sehingga di 2020, dermaga baru itu sudah bisa digunakan.
Iman mengatakan, pihaknya sudah menandatangani MoU dengan Himpunan Pengusaha Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI). Setelah revitalisasi rampung, maka ekspor mebel rotan dari Cirebon bisa dilakukan dari Pelabuhan Cirebon.
Seperti diketahui bahwa selama ini, ekspor mebel rotan dilakukan dari Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Tak kurang dari 3 ribu kontainer mebel rotan dari Kabupaten Cirebon diekspor melalui pelabuhan tersebut setiap bulannya. “Potensi itu akan kita kejar,” tegas Iman.
Ketua HIMKI Cirebon, Supriharto, menyambut baik rencana revitalisasi Pelabuhan Cirebon. Dengan adanya revitalisasi itu, maka kedepan ekspor mebel rotan bisa dilakukan dari Pelabuhan Cirebon. “Biaya operasional akan lebih hemat sekitar 30 persen dibandingkan jika harus melalui Pelabuhan Tanjung Priok,” kata Supriharto. (***)



























