Kemacetan di wilayah Tanjung Priok (jalan Cilincing dan Marunda) hingga sekarang masih belum ada solusinya.
Dan akibat hal itu, semua saling tuding. Yang satu mengklaim bahwa macet dikarenakan depo petikemas yang menjamur. Di sisi lain menilai bahwa kemacetan itu disebabkan oleh jalannya yang sudah tak seimbang antara jumlah kendaraan yang melewati jalan dari dan ke pelabuhan Tanjung Priok.
Karena macet pula kemudian nongol statemen kerugian. Trucking menyatakan rugi hingga ratusan juta rupiah, terminal pun sama, karena pergerakan barang lambat, maka pihaknya juga dirugikan.
Kapal bongkar muat menjadi terhambat, karena di luar pelabuhan macet, sedangkan areal penumpukan tak mungkin bisa menampung secara besar-besaran.
Begitu pula dengan BUP PT Pelindo. Sumber Ocean Week dari perseroan menyebut kerugian Pelindo tak bisa dinilai dengan uang. Mengingat akibat macet, image masyarakat terhadap BUMN menjadi negatif.
“Padahal macet terjadi di luar kawasan pelabuhan, dan itu bukan tanggung jawab kami (Pelindo). Tapi, masyarakat kan taunya Pelindo. Nah, image itulah yang tak bisa dinilai dengan uang,” ujar Sumber yang keberatan disebut identitasnya, di Jakarta Utara, Jumat sore.
Mestinya Pemerintah Daerah Jakarta melalui Dinas Perhubungan dan asosiasi depo petikemas (Asdeki) turun tangan untuk mendiskusikan persoalan kemacetan ini, bagaimana solusinya.
Padahal, Pemda (dinas Perhubungan) memiliki andil besar terhadap kemacetan di seputaran Pelabuhan Tanjung Priok.
Sebab, ada puluhan, bahkan hampir seratusan usaha depo beroperasi di Jakarta Utara. Bayangkan saja, kalo truk-truk petikemas (empty atau full) secara bersamaan membawa muatannya menuju dan keluar dari dan ke depo, bisa dipastikan akan berpotensi macet.
“Tapi bagaimana mengatasi hal itu, sulit ya,” ungkap Sumber bertanya.
Kita juga hampir setiap hari disuguhi pemandangan antrean truk petikemas, terutama di jalan Cilincing mulai dari KBN hingga perempatan lampu merah menuju ke Semper, Marunda dan Cilincing. Terkadang dari tol JORR yang keluar Marunda, Semper, Cilincing juga mengular panjang.
Nah, banyak yang menanyakan, sebenarnya kemacetan di jalan raya di sekitar pelabuhan Tanjung Priok itu menjadi tanggung jawab siapa.
Karena sekali lagi akibat macet, semua menjadi rugi. Bukan saja dunia usaha, namun juga Pelindo sebagai BUP. Dan ini sampai kapan. (***)






























