Direktur Komersial PT Pelindo Farid Padang mengatakan bahwa pihaknya terus mempersiapkan fasilitas pendukung di Terminal Kijing dan menargetkan penambahan peralatan untuk memperkuat pelayanan kepelabuhanan.
“Untuk Pelabuhan Kijing tetap kita buka, Insya Allah bulan depan alat datang dari Medan untuk menambah peralatan yang sudah dipersiapkan di sana,” ujar Farid dikutip dari Antara.
Menurut dia, Pelindo menyiapkan dua “rubber tyred gantry” (RTG) dan dua “quay crane” (QC) untuk mendukung kegiatan bongkar muat di Terminal Kijing. Penguatan fasilitas tersebut juga dilakukan seiring rencana bertahap mengalihkan sebagian aktivitas kepelabuhanan dari Pontianak ke Kijing.
Farid mengatakan aktivitas ekspor alumina saat ini telah berlangsung rutin sekitar 1.000 boks per bulan dengan tujuan Jepang, Korea Selatan, China, dan India. Ekspor tersebut sebelumnya sempat terkendala regulasi, namun kini kembali berjalan setelah dilakukan koordinasi dengan pemerintah.
“Kita sudah rutin ekspor seribu box per bulan, tujuannya Jepang, Korea, China, dan India. Kemarin memang sedikit bermasalah karena aturan, tetapi alhamdulillah dengan koordinasi pemerintah, ekspor bisa langsung dari sini,” katanya.
Farid menambahkan, optimalisasi Terminal Kijing diharapkan memperkuat posisi Kalbar sebagai salah satu simpul perdagangan internasional sekaligus meningkatkan efisiensi arus barang dari dan menuju wilayah tersebut.
Penguatan fungsi pelabuhan juga dinilai penting untuk mendorong Kalbar tidak sekadar menjadi daerah penghasil bahan mentah, tetapi mampu mengembangkan rantai industri dan perdagangan bernilai tambah sehingga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan daya saing daerah.
Sebelumnya, Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan di Pontianak, mengungkapkan Pelabuhan Kijing ke depannya akan menjadi pintu utama aktivitas ekspor berbagai produk unggulan dari berbagai daerah di provinsi itu.
Dia mengatakan pengoperasian maksimal Pelabuhan Kijing diperlukan untuk mengatasi kendala aktivitas ekspor dari Pontianak akibat keterbatasan kedalaman alur Sungai Kapuas.
Menurut dia, Pelabuhan Kijing yang memiliki akses langsung ke jalur pelayaran internasional dapat menjadi solusi strategis bagi Kalbar dalam memperlancar distribusi komoditas ekspor, termasuk alumina yang kini kembali dikirim langsung dari daerah tersebut.
Dia mengatakan pemerintah daerah juga terus mendorong penyelesaian infrastruktur pendukung, seperti akses menuju pelabuhan dan pengerukan alur Sungai Kapuas, sehingga rantai logistik Kalbar dapat berjalan lebih efisien.
Kinerja Positif
Terminal Kijing mencatat kinerja operasional yang positif sepanjang Semester I 2026. PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Cabang Pontianak melaporkan hampir seluruh indikator pelayanan mengalami pertumbuhan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan lonjakan tertinggi terjadi pada arus bongkar muat general cargo yang meningkat 205,6 persen.
Menurut General Manager PT Pelindo Regional 2 Cabang Pontianak, Kalbar Yanto, bahwa peningkatan tersebut didorong oleh meningkatnya aktivitas industri di Kalimantan Barat, termasuk pembangunan pabrik baru di wilayah Mempawah. Kondisi ini sekaligus memperkuat peran Terminal Kijing dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan kelancaran arus logistik di Kalimantan Barat.
Berdasarkan data operasional Semester I 2026, pertumbuhan terjadi pada berbagai indikator, mulai dari kunjungan kapal, volume kapal berdasarkan gross tonnage (GT), hingga aktivitas bongkar muat berbagai komoditas.
Capaian tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas perdagangan, industri, serta distribusi barang untuk kebutuhan domestik maupun ekspor-impor.
Jumlah kunjungan kapal meningkat 35,2 persen, dari 358 unit pada Semester I 2025 menjadi 484 unit pada periode yang sama tahun ini. Sementara itu, volume kapal berdasarkan GT naik 59,6 persen menjadi 2.064.356 GT.
Pada sektor bongkar muat, seluruh komoditas mencatat pertumbuhan. Arus bag cargo meningkat 30,2 persen dari 51.429 ton menjadi 66.936 ton. Sementara itu, general cargo mencatat kenaikan tertinggi, yakni 205,6 persen, dari 8.494 ton/m³ menjadi 25.955 ton/m³.
Komoditas curah kering juga tumbuh 97,2 persen, dari 955.574 ton menjadi 1.884.222 ton. Adapun curah cair meningkat 77,5 persen, dari 732.979 ton menjadi 1.300.872 ton.
“Capaian tersebut merupakan hasil sinergi antara Pelindo, pengguna jasa, mitra kerja, dan para pemangku kepentingan dalam menjaga kelancaran arus logistik di Kalimantan Barat,” kata Kalbar.
Ekspor Lewat Petikemas
Pada Senin (29/6) lalu, PT Pelindo resmi melepas ekspor petikemas perdana (maiden voyage) menggunakan kapal milik PT Pulau Laut Line, melalui Terminal Kijing Mempawah yang dioperasikan oleh PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas).
Layanan perdana ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat konektivitas logistik, meningkatkan efisiensi rantai logistik, serta memperkuat daya saing komoditas unggulan di pasar global sehingga mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan biaya logistik nasional, menarik investasi baru, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Barat.
Pada pelaksanaan ekspor perdana tersebut, sejumlah eksportir dari kawasan Pelabuhan Kijing dan Tayan mengirimkan berbagai komoditas unggulan.
Dari Pelabuhan Kijing, PT Borneo Alumina Indonesia mengekspor 12 kontainer 20 feet berisi Alumina Hydroxide menuju Pasir Gudang, Malaysia.
PT Unicoco Industries Indonesia turut mengirimkan dua kontainer produk olahan kelapa (Dedicated Coconut) ke tujuan yang sama, sementara PT Ferrindo mengekspor 10 kontainer kelapa bulat menuju Yangpu, Tiongkok.
Sedangkan dari kawasan Tayan, PT Indonesia Chemical Alumina mengirimkan sebanyak 150 kontainer berukuran 20 feet dengan tujuan Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan.
Namun sayang, setelah ekspor perdana kapal petikemas tersebut, saat ini belum terdengar lagi menyusul kapal-kapal petikemas beraktivitas di terminal Kijing ini. (**/ant/ow)





























