Pelayaran komplain terhadap layanan moring yang sering terlambat saat kapal sandar di pelabuhan Tanjung Priok.
Mereka minta jika tak ada layanan maka jangan muncul tagihan. “Ini tak ada layanan tapi masih menagih untuk jasa moring atau Kepil,” kata mereka, kepada Ocean Week, baru-baru ini.
Suparno, pelaku usaha pelayaran di Batam menyatakan sebaiknya moring ada di setiap pelabuhan, dan pengelolaannya tidak monopoli. “Moring bisa jadi usaha yang menarik, kalau perlu INSA bisa kelola itu,” ujarnya.
Sementara itu, H. Sungkono Ali dari PT TJK sebagai pelaksana moring di pelabuhan Tanjung Priok mengungkapkan, jika ada komplain dari pelayaran mengenai layanan moring, sebaiknya dilihat lebih dulu dimana kerugiannya.
“Kalau masalah adanya tagihan, namun praktiknya tak merasa ada layanan, silahkan datang ke TJK, uang yang dikeluarkan pelayaran itu akan kami ganti, dengan catatan menyertakan bukti nota tagihan yang dikeluarkan Pelindo. Kalau nggak ada bukti ya ngga bisa,” ungkap Sungkono kepada Ocean Week, Kamis sore, di Jakarta.
Sungkono juga mengatakan, sebenarnya pihaknya terus berupaya meningkatkan service kepada pengguna jasanya. “Kami juga sudah mengikuti permintaan Pelindo untuk menambah tenaga lapangan dari tadinya 60-an orang, sekarang jadi 83 orang,” ujarnya.
Jadi sekali lagi, kata Sungkono, kalau ada kompalin soal tagihan itu, datang saja ke TJK, akan diganti berapa besarnya asalkan ada bukti notanya. (***)




























