Kegiatan bongkar muat batubara di dermaga Pelita (Multipurpose) Pelabuhan Cirebon cukup ramai.
Pada Rabu (17/6/2026), Ocean Week yang berkesempatan mengunjungi dan melihat langsung aktivitas sandar kapal dan bongkar barang di sejumlah fasilitas pelabuhan ini, didampingi BM PTP Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) Cabang Cirebon, Hari Priyatna, tampak beberapa tongkang sedang membongkar muatannya.
Terbukti throughput yang berasal dari general cargo, bag cargo, curah cair, dan curah kering yang ditangani perseroan terus menunjukkan peningkatan.
Dari data yang diperoleh, mencatat bahwa total pada tahun 2024 sebesar 3.572.811 ton, naik menjadi 3.833.493 ton di tahun 2025, sementara tahun 2026 (sampai dengan Mei) sudah tercapai 1.744.888 ton.
“Trend nya terus menunjukkan peningkatan. Karena itu, service pun kita tingkatkan sesuai dengan permintaan pelanggan (pengguna jasa),” ujar Hari Priyatna sembari menelusuri dermaga, melihat bongkaran batubara.
Tak hanya diajak oleh Hari Priyatna melihat kesibukan di dermaga, namun juga menyempatkan ke lokasi pencucian truk-truk muatan batubara, sebelum keluar pelabuhan.
“Sebelum truk muatan batubara itu keluar pelabuhan, disemprot lebih dulu agar tak menimbulkan polusi,” ujar Hari didampingi Tarmizi.
Hari juga menceritakan bagaimana Pelabuhan Cirebon memiliki peran penting sebagai jalur distribusi barang dari berbagai daerah di Indonesia.
Pelabuhan Cirebon melayani bongkar sekitar 14.900 ton garam impor asal Australia dan 4.700 ton jagung dari Pelabuhan Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Bulan lalu ada bongkar sekitar 14.900 ton garam impor dari Australia serta 4.700 ton jagung dari Dompu, NTB,” katanya.
Menurut Hari, komoditas yang masuk melalui Pelabuhan Cirebon berasal dari berbagai wilayah seperti Kalimantan, Sumatera hingga Indonesia bagian timur. Barang-barang tersebut kemudian disalurkan ke sejumlah daerah untuk memenuhi kebutuhan industri maupun masyarakat.
Hari menjelaskan, bahwa PTP juga memiliki peran penting bagi kelancaran distribusi logistik di kawasan Pantura.
“Selain didistribusikan ke wilayah Cirebon dan sekitarnya, juga menjangkau sejumlah daerah di Jawa Barat hingga Jawa Tengah,” ungkapnya.

Kata Hari, sedikitnya terdapat sekitar 1.200 armada truk yang terdaftar untuk mendukung aktivitas distribusi barang dari kawasan pelabuhan Cirebon. Armada tersebut setiap hari membawa komoditas menuju daerah tujuan seperti Bandung, Ajibarang, Songgom, Tegal hingga wilayah Jawa Tengah bagian timur.
“Barang-barang dari sini didistribusikan ke banyak daerah. Jadi aktivitas pelabuhan ini memang berkaitan langsung dengan pergerakan ekonomi,” ujarnya.
Kesibukan di area pelabuhan tidak hanya terlihat dari banyaknya kendaraan pengangkut barang, tetapi juga aktivitas pekerja bongkar muat yang berlangsung hampir tanpa henti selama 24 jam.
Hari juga mengungkapkan, beberapa jenis komoditas mulai dari curah cair, curah kering, general cargo hingga peti kemas yang dibongkar dari kapal (tongkang) langsung diarahkan menuju tempat penyimpanan sesuai jenis muatan.
Untuk komoditas cair, pelabuhan memiliki fasilitas tangki timbun sebagai tempat penampungan sementara sebelum barang didistribusikan. Sementara untuk komoditas curah kering seperti garam dan jagung, proses bongkar dilakukan menuju gudang atau area penampungan.
Selain menjadi pintu masuk barang dari luar daerah, Pelabuhan Cirebon juga melayani pengiriman komoditas ke luar daerah. Salah satu komoditas yang pernah dikirim melalui pelabuhan tersebut adalah semen curah produksi industri di wilayah Cirebon menuju Kalimantan.
Hari menyebutkan, pengiriman semen curah tersebut sebelumnya pernah mencapai sekitar 90 ribu ton untuk kebutuhan pembangunan di Kalimantan.
“Untuk semen curah sebelumnya pernah sampai sekitar 90 ribu ton yang dikirim ke Kalimantan,” katanya.
Selain semen, juga pernah melayani pengiriman komoditas pangan milik Bulog dari wilayah Losarang menuju Dumai, Riau. Total pengiriman saat itu mencapai sekitar 2.000 ton.
Meski demikian, Hari mengakui arus barang keluar melalui Pelabuhan Cirebon masih belum sebesar volume barang yang masuk.
Kata dia, hal itu karena belum banyak industri besar di wilayah Cirebon yang memanfaatkan pelabuhan sebagai jalur distribusi utama.

“Kita berharap industri di Cirebon bisa lebih banyak menggunakan pelabuhan untuk pengiriman barang. Kalau ada kegiatan muat, pasti kami dukung,” tegasnya.
Kendala
Meski begitu, menurut Hari, untuk proses bongkar muat tetap saja ada sejumlah hal yang masih perlu ditingkatkan. Dan itu tidak, fasilitas kapal menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kecepatan pekerjaan di lapangan.
“Masih ada kapal yang proses bongkar muatnya dilakukan secara manual menggunakan tenaga manusia. Hal itu terjadi karena kapasitas derek kapal terbatas sehingga tidak mampu mengangkat barang dalam jumlah besar,” katanya lagi.
Dalam satu palka kapal, puluhan pekerja harus masuk ke dalam untuk menyekop muatan sebelum diangkat menggunakan jala-jala.
“Satu palka bisa sekitar 24 orang. Kalau dereknya kecil, barang tidak bisa langsung diangkat besar-besar, jadi masih pakai tenaga manusia,” jelasnya.
Berbeda dengan kapal yang sudah menggunakan alat grab. Proses bongkar muat dapat dilakukan lebih cepat karena barang langsung dipindahkan menuju hopper atau corong penampung sebelum dimasukkan ke kendaraan pengangkut.
Selain tantangan teknis bongkar muat, keterbatasan area penumpukan batu bara juga menjadi perhatiannya.
Saat ini Pelabuhan Cirebon tidak lagi memiliki stock file batu bara di area pelabuhan karena lokasinya berdekatan dengan permukiman warga.
“Meski sudah dibuatkan jala-jala (jaring) untuk menangkal debu batubara, tapi tak ada stock file batu bara di dalam pelabuhan karena dekat dengan masyarakat,” ungkapnya.
Namun, sejumlah tantangan itu mesti dihadapinya. Dan Hari memastikan operasional pelabuhan secara umum berjalan lancar tanpa kendala berarti. Peningkatan aktivitas bongkar muat dalam beberapa waktu terakhir dinilai menjadi sinyal positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Dengan posisinya yang strategis di jalur Pantura, Pelabuhan Cirebon masih menjadi salah satu simpul penting distribusi logistik yang menopang kebutuhan industri dan masyarakat di Jawa Barat maupun Jawa Tengah.
Di penghujung melihat aktivitas di pelabuhan Cirebon, Hari pun menyempatkan bercerita bagaimana pelabuhan ini sudah menggunakan sistem Pelindo Terminal Operating System (PTOS).
PTOS merupakan platform digital yangvdikembangkan oleh PT Pelindo untuk mengelola dan mengintegrasikan operasional terminal di pelabuhan.
Sistem ini dirancang guna meningkatkan efisiensi, transparansi, dan kecepatan layanan kapal dan terminal.
Hari menambahkan bahwa PTOS (Multipurpose) digunakan untuk mengelola kargo non-petikemas (curah cair, curah kering, dan kargo umum), mencakup perencanaan, pemantauan, hingga pelaporan.





























