INSA Semarang menyatakan wacana memindahkan Tanjung Emas ke Kendal, dinilainya kemungkinan bisa lebih baik karena struktur tanah di Kendal lebih keras, manuver kapal juga tak terlalu sulit, dan lahan pun masih sangat luas.
“Kalau secara teknis mungkin bisa lebih baik karena slain struktur tanahnya lebih keras di Kendal, juga manuver kapal tidak sulit, lahan pun masih luas. Tapi yang lainnya saya belum tahu,” kata Ketua DPC INSA Semarang, Ridwan, menanggapi adanya wacana pemindahan pelabuhan Tanjung Emas ke Kendal, Jumat (25/5) pagi.
Wacana memindahkan Tanjung Emas tersebut karena pelabuhan terbesar di kota Semarang ini sering didera banjir Rob air laut.
Ridwan juga menyatakan, maraknya pembangunan pelabuhan dimana-mana itu dinilainya hanya sekadar ertimbangan ekonomi global saja yang saat ini dipakai sebagai pedoman. “Kayaknya langkah-langkah kita sedang terjebak dalam era global yang tanpa arah. Khawatirnya, tahu-tahu nanti dalam kurun waktu 5 tahun lagi kita sudah dalam genggaman asing, termasuk wacana memindahkan Tanjung Emas itu,” ujarnya prihatin.
Sebelumya Ketua ALFI Jateng Ariwibowo juga menyatakan, wacana memindahkan pelabuhan Tanjung Emas ke Kendal (sekitar 30 kilo) dari Semarang, sangat
bagus, sepanjang alur pelayaran diKendal memiliki kedalaman diatas 10 meter.
“Sangat bagus jika ada keinginan memindahkan Tanjung Emas ke pelabuhan Kendal, karena di Tanjung Emas setiap hari tergenang banjir Rob (air pasang laut). Namun asal perairan di Kendal memiliki kedalaman lebih 10 meter,” kata Ketua ALFI Jawa Tengah Ariwibowo kepada Ocean Week, Jumat pagi (25/5) per telpon.
Ari juga menyatakan bahwa selama ini akibat dari banjir Rob yang terus melanda Tanjung Emas, menjadikan pelaku usaha mengalami kerugian cukup besar, aktivitas sering terhambat, dan akhirnya menimbulkan cost logistik tinggi.
Namun, ungkap Dirut PT Arindo ini, dirinya mendengar jika alur pelayaran di Kendal sendimentasinya tinggi, sehingga perlu pengerukan kontinu. “Kalau seperti itu kondisinya, kenapa tidak ke wilayah Jepara saja. Tapi jauh ya,” ungkap Ariwibowo.
Ari menekankan, wacana pemindahan Tanjung Emas merupakan hal yang tepat, daripada setiap tahun harus meninggikan bangunan bangunan perkantoran atau fasilitas lainnya di Tanjung Emas, lebih baik dipindahkan saja.
Sementara itu, General Manager Pelindo III Cabang Tanjung Emas Semarang Ardhy Wahyu Basuki mengatakan, banjir rob sering menggenangi beberapa lokasi di pelabuhan. Kondisi itu berakibat menghambat kinerja bongkar muat di pelabuhan.
“Peninggian tanah kita lakukan terus-menerus antara 10-15 cm. Terutama di kawasan Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) yang masih dilakukan peninggian setiap tahun. Untuk tahun ini, tinggi muka tanahnya semakin ditambah karena limpahan air laut ke daratan semakin meningkat,” katanya.
Untuk tahun 2018 ini, Ardhy menyatakan, pihaknya sedang meninggikan di tiga titik. Dua di antaranya berada di kawasan Kali Baru Barat dan Kali Baru Timur.
Mengenai Kedal, Ardhy mengungkapkan masih dikaji. “Hasil kajiannya belum keluar, masih progres terus. Kalau Kendal lebih baik maka akan kita pindah ke sana. Kita harus pastikan kondisi tanah di Kendal apakah lebih baik ketimbang Semaramg. Baru kita lakukan perpindahan bertahap,” ungkap Ardhy. (***)





























