Kemenhub mengklarifikasi bahwa penggunaan peralatan sistem identifikasi otomatis (AIS) klas B yang dikeluhkan pelayaran karena meski sudah menghidupkan alat AIS tetap saja tak terdeteksi posisi kapal berada dimana, dan itu tak dibenarkan oleh pemerintah (Kemenhub).
Mengacu kepada keputusan Dirjen Perhubungan Laut, HK.205/8/5/DJPL/2019, tentang Standar Operasional Prosedur Pengujian Peralatan Sistem Identifikasi Otomatis Klas B, dimana AIS Klas B merk SPAT 1000B telah memenuhi persyaratan.
Sebab sebelum melaksanakan pengujian Balai Teknologi Keselamatan Pelayaran (BTKP) memastikan bahwa perangkat AIS Klas B telah terinstall sesuai manual book dan perangkat pendukung seperti antena GPS, Antena VHF serta Power Suplly (Sumber Tenaga) sesuai dengan spesifikasi.
“Dalam melaksanakan pengujian diatas kapal salah satu uji yang dilakukan adalah uji fungsi dimana kami berkoordinasi/berinteraksi dengan stasiun VTS Tanjung Priok untuk memastikan apakah perangkat AIS tersebut terbaca pada stasiun VTS Tanjung Priok hingga jarak 12NM dan kami berinteraksi juga dengan kapal disekitar yang menggunakan AIS klas A, dan hasilnya bahwa AIS SPAT 1000B dapat di lihat di perangkat AIS mereka,” kata Gigih Retnowati, Kepala Balai Teknologi Keselamatan Pelayaran, kepada Ocean Week, di Jakarta, Kamis (23/1).
Menurut Gigih, uji fungsi juga dilakukan oleh pihaknya dengan kecepatan yang berbeda-beda dan jarak yang berbeda-beda.
Data-data yang dibaca oleh Stasiun VTS Tanjung Priok ataupun Perangkat AIS di kapal lain adalah Nomor MMSI, Call Sign, Posisi, Speed Over Ground (SOG), Course Over Ground (COG).
“Selain uji fungsi tersebut kami juga melakukan pengujian dengan menggunakan AIS tester,” ungkapnya.
Gigih juga mengungkapkan bahwa perangkat AIS klas B terdiri atas AIS transponder, Antena GPS, Antena VHF dan Power Suplly (sumber tenaga).
“AIS klas B akan bekerja secara maksimal apabila semua parameter tersebut sesuai dengan spesifikasi yang dikeluarkan oleh masing-masing merk tersebut. Apabila salah satu parameter tersebut tidak sesuai maka akan menyebabkan salah satu fungsi tidak maksimal,” kata Gigih lagi.
Sebelumnya dalam berita yang dilansir Ocean Week menyebutkan bahwa penggunaan AIS banyak dikeluhkan pelayaran.
Dalam berita tersebut, Abdullah, ketua umum Pelra Sunda Kelapa menyatakan bahwa bukan AIS nya tidak bekerja tetapi karena sumber tenaga atau AKI (ACCU) sebagai alat bantu stroom ke AIS kurang berfungsi dengan baik, sehingga daya dukung energinyapun berkuran dan bahkan sampai hilang.
Pernyataan tersebut, menurut Gigih benar adanya. Banyak faktor yang menyebabkan perangkat AIS tidak berfungsi maksimal antara tegangan (Voltase) sumber tenaga tidak stabil atau kurang mencapai sesuai spesifikasi perangkat, koneksi kabel juga mempengaruhi kinerja perangkat AIS, oleh sebab itu dalam menyimpulkan kualitas perangkat AIS klas B harus dilakukan Investigasi ke lapangan, untuk memastikan penyebab Penurunan Kualitas AIS tersebut.
“Kami juga sudah menghubungi distributor per telpon, dimana kami menanyakan tentang keluhan pelanggan terhadap produk tersebut. Dari pihak pabrikan menjawab bahwa hingga saat ini belum ada keluhan,” tutur Gigih.
Sementara itu, ocean week yang kembali mengkonfirmasi kepada pelayaran, menyebutkan kalau ingin membuktikan kebenaran informasinya, mestinya pihak Kemenhub (BTKP) menurunkan timnya untuk mengecek ke lapangan, supaya realitanya menjadi jelas. (***)






























