Kinerja operasional PT Pelindo Multi Terminal (SPMT) non petikemas Tanjung Emas Semarang sepanjang tahun 2025 tumbuh positif dibandingkan setahun sebelumnya.
“Total arus barang non petikemas tahun 2025 yang dihandle PMT Tanjung Emas naik 5,6% mencapai 4.868.254 ton dibandingkan dengan realisasi tahun 2024 sebesar 4.608.710 ton,” ujar Capt. S Joko, Branch Manager PMT Tanjung Emas kepada Ocean Week, di Semarang, Jumat.
Menurut GM Pelindo Regional 3 Tanjung Emas ini, pencapaian tersebut tidak terlepas dari sinergi dengan mitra usaha, peningkatan efisiensi operasional, serta perbaikan infrastruktur terminal yang mendukung kelancaran arus logistik.
Joko juga menyampaikan bahwa saat ini Pelindo sedang melakukan perbaikan dermaga dengan meninggikan sekitar 2 meter yakni dermaga Samudera 1 dan Samudera 2. Selain itu back up areanya juga ditinggikan. “Untuk dermaga Samudera satu sepanjang 275 meter sedang proses peninggian dan Samudera 2 sepanjang 300 meter sudah selesai peninggian. Tahun ini sudah bisa dioperasikan, tapi nantinya ada yang dioperasikan oleh terminal petikemas,” ungkap Joko.

Mantan GM Pelindo Bengkulu ini mengungkapkan bahwa realisasi total arus barang untuk perdagangan dalam negeri pada Tahun 2025 dalam satuan ton tercatat sebesar 3.663.224 ton atau meningkat 5% apabila dibandingkan dengan realisasi Tahun 2024.
Selain itu, peningkatan terjadi pada kinerja pelayanan barang curah kering dalam negeri.
Pada Tahun 2025, produktivitas curah Kering mencapai 128,99 T/G/H (Ton/Gang/Hour), meningkat sebesar 43% dibandingkan realisasi Tahun 2024.
Peningkatan kinerja ini didukung oleh optimalnya kegiatan bongkar muat, pada bongkar clay dengan produktivitas mencapai 168,38 T/G/H, bongkar batubara dengan rata-rata 157,40 T/G/H, serta bongkar jagung dan pupuk dengan rata-rata 101,95 T/G/H sepanjang Tahun 2025.
Joko juga menyampaikan jika Pelindo terus memperkuat kualitas layanan kapal dalam negeri, salah satunya melalui peningkatan optimalisasi terminal multipurpose.
Menurut dia, tahun lalu kinerja Terminal Multipurpose menunjukkan capaian yang cukup baik, khususnya pada indikator Berthing Time (BT) atau waktu sandar kapal. Realisasi BT tercatat sebesar 47,35 jam, atau mengalami efisiensi waktu sandar kapal sebesar 13% bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2024.
Capaian ini dipengaruhi oleh meningkatnya kegiatan kapal dalam negeri, antara lain bongkar LPG PT Opsico dengan rata-rata BT 18,91 jam serta bongkar RBD Palm Oil dengan rata-rata waktu sandar 36,63 jam.
“Ke depan, manajemen berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan terhadap aspek operasional, infrastruktur, serta koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan, guna menekan waktu tunggu dan meningkatkan efektivitas proses bongkar muat di Terminal Multipurpose,” katanya.
Joko juga menyampaikan terkait kinerja pelayanan barang non petikemas luar negeri untuk komoditas curah kering dalam satuan T/G/H juga mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Realisasi produktivitas curah kering tahun 2025 tercatat sebesar 152,64 T/G/H atau meningkat 6% apabila dibandingkan dengan realisasi Tahun 2024. Sementara itu, produktivitas curah cair pada Tahun 2025 mencapai 158,36 T/G/H, meningkat 5% jika dibandingkan dengan realisasi Tahun 2024.
“Ke depannya, kami akan terus berusaha meningkatkan kualitas layanan dan kelancaran distribusi barang di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Kami akan terus memperkuat peran pelabuhan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya di sektor logistik dan perdagangan,” katanya.
Menjawab mengenai banjir Rob yang sering melanda kawasan pelabuhan Tanjung Emas, Joko mengatakan, sekarang sudah tidak ada lagi banjir rob, karena pihaknya menyiapkan sekitar 50 pompa. “Sudah tidak ada lagi banjir, karena kami siap siaga, begitu ada rob, langsung kami pompa,” ujarnya.
Pelabuhan Batang
Capt Joko menambahkan PMT juga menjadi operator di pelabuhan Batang. Menurut Joko, operasional terminal tersebut sudah dilakukan tahun 2025 lalu.

Kata Joko terminal Multipurpose Batang dilengkapi causeway sepanjang 350 meter, trestle sepanjang 361 meter, dermaga sepanjang 152 meter dengan kedalaman kolam saat ini minus 5 meter (LWS).
“Targetnya minus 10,5 meter dari level air laut surut (LWS) setelah pengerukan, sehingga memungkinkan untuk disandari kapal-kapal berbobot mati hingga 10.000 DWT,” jelasnya.
Sebenarnya, sekarang sudah ada beberapa industri di kawasan industri terpadu Batang bekerjasama dengan PMT, untuk melakukan kegiatan kepentingan industri tersebut menggunakan pelabuhan Batang.
Hanya saja, kata Joko, untuk saat ini penggunaannya perlu dioptimalkan. Mengingat break water nya belum juga ada.
Padahal kata Joko, pelabuhan Batang yang dilengkapi dengan lapangan penumpukan seluas kurang lebih 2 hektare itu dirancang untuk menangani curah kering, curah cair, peti kemas maupun kargo umum, serta telah didukung oleh fasilitas kantor operasional, akses jalan pelabuhan, sistem utilitas mekanikal dan elektrikal, serta jaringan keamanan terintegrasi.
Untuk mendukung operasionalisasi terminal, aliran listrik dari PLN dengan kapasitas daya sebesar 82,5 KVA dan tegangan 380 volt telah resmi disambungkan sejak 18 Juli 2025 lalu. Dengan infrastruktur listrik ini, terminal kini dapat dioperasikan penuh secara mandiri dan efisien.
“Kami terus berupaya pelabuhan Batang bisa digunakan oleh industri yang berada di kawasan pelabuhan,” katanya. (***)






























