Rencana pemerintah untuk menjadikan 7 pelabuhan nasional sebagai hub masih belum tuntas. Tujuan pemerintah tersebut semata untuk efisiensi, dan menghindari pengapalan ekspor impor lewat pelabuhan Singapura.
Rencana yang cukup bagus, tapi kenapa pemerintah alergi dengan Singapura, bagaimana jika pelayaran tak lewat Singapura tapi transhipment di Tanjung Pelepas Malaysia, atau Thailand.
Bagaimana sebenarnya konsep matang Indonesia untuk pelabuhan terpadu ini
Dan betulkah hal itu efisien, atau sebaliknya justru high cost logistik, untuk itu Ocean Week, mencoba mewawancarai Yukki Nugrahawan Hanafi, Ketua Umum ALFI yang juga Chairment AFFA (Asean Freight Forwarder Association), berikut petikannya.
Apa pandangan Anda mengenai pelabuhan terpadu yang digagas pemerintah?
Konsep pelabuhan terpadu diperlukan penjelasan yang lebih detail oleh pemerintah dikarenakan pelabuhan itu tidak berdiri sendiri harusnya. Kita dapat belajar dari kejadian di Kuala Tanjung dan Bitung ini sebagai contoh. Ship follow the trade . Kami melihatnya sangat terburu-buru, dan tidak melakukan analisa yang mendalam. Jangan-jnagan yang mengusulkan ini kepada Pak Luhut (Menko Meritim) dan Pak Bambang (Kepala Bappenas) tidak memahami persoalan yang ada.
Kenapa?
Logistics Performance Index yang dirilis oleh World Bank pada tahun 2018, menempatkan indonesia pada urutan ke 46 dari sebelumnya pada urutan ke 63, di kawasan Asean kita malah turun dari urutan ke 4 menjadi urutan ke 5, artinya yang bekerja itu bukan hanya indonesia dimana Singapore sebagai urutan pertama, diikuti oleh Thailand, Vietnam, Malaysia dan Indonesia di urutan ke 5.
Jadi Menurut Anda?
Rencana ini cukup mengelitik untuk pelaku Logistik . Apakah kita yakin akan perang terbuka dengan Singapore , karena kalau kita salah dalam mengambil kebijakan, bukannya biaya logistik itu akan semakin efisien tetapi akan sebaliknya dan akan sangat berdampak pada daya saing produk export non migas Indonesia .
Tapi Kenapa?
Kalau kita ingat dan kembali pada era tahun 1960 dan 1970 dimana volume pelabuhan kita itu lebih tinggi dan terus sama pada saat itu dengan Singapore karena Indonesia pada saat itu juga mempunyai 3 pelayaran nasional yang melakukan direct call sendiri jadi pelayaran Nasional kita juga perlu diperkuat.
Sebaiknya Bagaimana?
Bagaimana dengan Industri kita karena diperlukan banyak investasi baru untuk kita dapat bersaing, jadi perlu adanya kepastian Industri kita. Pola perdagangan dan persaingan dunia saat ini telah berubah dengan cepat.Just in time merupakan indikator dalam memperbaiki biaya logistik Indonesia . Tahun 2025 kita akan masuk Asean Connectivity . Silahkan kalau pemerintah mau merivisi sislognas dan kami setuju untuk itu tetapi kita harus cepat dan tepat ibarat sebuah peperangan kita ini bisa kalah sebelum pergi berperang. Jadi perlu saya ingatkan Pelabuhan bukan satu-satunya indikator dalam memperbaiki Logistik Indonesia.
Maksudnya?
Harus jelas dan terang dengan analisa yang matang tinggalkan ego sektoral di kementrian dan Lembaga Pemerintah. Mempunyai visi yang sama. Bagaimana kita mendorong export kita karena dengan export non migas kita akan menghasilkan devisa. (RS/***)




























