Direktur Utama PT Djakarta Lloyd (DL) Arham S. Torik menyatakan perseroan sedang mengikuti tender pengadaan/pembelian kapal, dengan alasan sekarang harga kapal sedang turun.

“Kami rencana beli kapal, harga sedang turun, kalau kami diberi kesempatan, untuk membeli kapal sebanyak mungkin, lima tahun pertama (2016-2020) kami jadi operator, 2027 kami sudah jadi player asset,” kata Arham kepada Ocean Week, saat peresmian kantor PT Tanto Intime Line, di Jakarta.
Dia mencontohkan, harga kapal handymax tahun 1999 senilai Rp 142,5 miliar. Saat ini harga kapal sejenis tidak lebih dari sekitar US$ 6 juta atau setara dengan sekitar Rp 70-80 miliar. “Kapal ini akan dibeli mengikuti mekanisme internasional, melalui broker, sekarang sedang proses tender,” katanya.
Menurut Arham, untuk jenis kapal yang akan dibeli difokuskan untuk kapal kebutuhan batubara.
Kapal ini akan mengangkut batu bara.
Seperti diketahui, PT Djakarta Lloyd merupakan perusahaan BUMN yang dulu aktif di sector angkutan container. Namun, sejak 2011 perusahaan ini tak lagi mampu bersaing dengan pelayaran-pelayaran bidang container lain, dan terpaksa istirahat.
PT Djakarta Lloyd kemudian terpuruk, bahkan banyak asetnya yang dipindah-tangankan, seperti Kantornya di Jakarta Pusat (Sekitar Senen), lalu banyak kontainernya di beberapa pelabuhan yang tertahan tidak dapat dioperasikan karena dijadikan jaminan ke Pelindo.
Konon, perseroan ini sudah mempunyai enam kapal, masing-masing satu di Batam, tiga di Priok, dan dua di Surabaya.
Pada 31 Desember tahun 2015 lalu, Djakarta Lloyd berhasil mendapatkan penyertaan modal pemerintah Rp 350 miliar. Dana PMN itu akan digunakan untuk membeli dua kapal jenis handymax.
Namun, Sumber Ocean Week mengatakan ada sejumlah kapal milik Djakarta Lloyd yang mangkrak di luar dam pelabuhan Priok, tidak beroperasi karena rusak. (***)


























