Antrean kapal terjadi di pelabuhan Pangkalbalam, Bengkulu karena alur masuk ke pelabuhan dangkal. Beberapa kapal kandas. Penumpang dievakuasi, sementara kendaraan dan sopir terpaksa menunggu di dalam kapal.
Ketua DPC INSA Bangka Eko Supriyadi menyampaikan hal itu kepada Ocean Week, melalui WhatsApp nya, Jumat malam. “Lagi-lagi kapal kandas di alur GOSONG,” ujarnya prihatin.
Bahkan, kata Eko, kapal Karsa Jaya Vidi, KMP Sakura gagal berangkat karena takut kandas. “Sejumlah kapal bakal tiba yakni Tetap Jaya, Fukujin, Karsa Jaya, BG LL, dan TBI Jaya akan repot harus menunggu lama,” ungkapnya.
KMP Sewindu juga tidak bisa masuk dan sandar karena kondisi air kecil (surut). “Tadi air 19 saja kandas apalagi besok cuma 17, kalau masuk bisa gawat, para penumpang sudah dievakuasi, kendaraan dan sopirnya masih menunggu di kapal,,” kata Eko.
Ketua INSA Bangka ini menceritakan bahwa kondisi atau kedalaman alur gosong hanya beberapa meter saja, dan sampai sekarang tidak ada yang peduli. Padahal perekonomian di Bangka 90% melalui jalur laut.
“Kami pelayaran sudah minta alur dikeruk, tapi tidak ada yang menanggapi,” katanya kesal.
Menurut Eko, ada kapal-kapal isap timah yang kerja di wilayah sekitar nya ikut andil dalam pendangkalan alur. “Seharusnya para pemangku kepentingan memikirkan hal ini terutama PT Timah dan Pertamina, perusahaan besar plat merah ini tolonglah ikut memikirkan nya,” ujarnya lagi.
INSA Bangka berharap, pemerintah (Hubla) segera mengeruk alur pelayaran pelabuhan Pangkal Balam ini, jika tidak dilakukan bisa saja seperti yang terjadi di pelabuhan Bengkulu, kapal tak bisa keluar masuk pelabuhan. “Kalau sudah terjadi begitu, siapa yang rugi, dampaknya perekonomian di Bangka berhenti,” ujarnya. (***)





























