Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI) menggelar Seminar Nasional dan Rakernas, bertempat di Hotel Aryaduta, Jakarta, pada Rabu dan Kamis (22-23 April 2026).
Kegiatan yang dibuka oleh Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno, dihadiri pula oleh Dirjen Hubla Masyhud, dan para anggota ABUPI dari seluruh Indonesia.
Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno dalam kesempatan ini menyoroti posisi Indonesia dalam jalur pelayaran global yang dinilai belum optimal. Padahal, sebagian besar pelabuhan utama dunia yang berada di jalur navigasi global justru berlokasi di kawasan Asia.
“Pelabuhan utama yang menjadi hub dalam jalur navigasi global memang berada di Asia, tetapi tidak ada yang berada di Indonesia,” kata Havas.
Havas menjelaskan, saat ini Indonesia belum sepenuhnya masuk dalam jalur pelayaran utama dunia atau main line. Akibatnya, banyak kapal besar tidak langsung singgah di pelabuhan Indonesia dan harus melalui pelabuhan hub di negara lain.
Menurut Havas, persoalan mendasar yang perlu dijawab adalah arah strategi pembangunan pelabuhan nasional sebagai negara kepulauan.
“Pertanyaannya, sebagai negara kepulauan kita mau apa?. Apakah kita ingin memiliki banyak pelabuhan kecil, atau membangun satu-dua pelabuhan besar yang berfungsi sebagai hub,” ujarnya.
Havas menilai, pembangunan pelabuhan hub berpotensi meningkatkan efisiensi logistik dan memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan perdagangan global. Namun, pembangunan pelabuhan hub harus memenuhi sejumlah persyaratan strategis.
Pertama, pelabuhan harus berada dekat dengan jalur pelayaran utama dunia. Kedua, pelabuhan harus memiliki kedalaman alur atau draft sekitar 20 meter agar dapat disinggahi kapal-kapal besar. Ketiga, tarif layanan pelabuhan harus kompetitif dibandingkan negara lain.
Selain itu, pelabuhan hub juga harus memiliki kepastian hinterland atau dukungan kawasan industri di sekitarnya. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah membangun aliansi dengan perusahaan pelayaran global atau main liner.
“Jika strategi ini dijalankan secara konsisten, dalam 10 tahun kita bisa memiliki pelabuhan hub yang kuat,” kata Havas.
Peran Strategis
Sementara itu, Menhub Dudy Purwaghandi dalam sambutannya yang diwakili Dirjen Hubla Masyhud menyampaikan bahwa Pelabuhan memiliki peran sangat strategis sebagai tulang punggung konektivitas nasional dan simpul utama dalam sistem logistik.

“Transformasi sektor kepelabuhanan menjadi kunci dalam memperkuat efisiensi layanan serta meningkatkan daya saing logistik nasional. Hal ini kita mulai dari penguatan fondasi kebijakan dan regulasi, sebagaimana diamanatkan dalam penyelenggaraan pelabuhan yang menjamin keselamatan, konektivitas, serta iklim usaha yang sehat dan kompetitif,” ujarnya.
Namun demikian, ungkapnya, kita masih menghadapi sejumlah tantangan. Biaya logistik nasional masih relatif tinggi, belum meratanya kualitas layanan pelabuhan, serta konektivitas hinterland yang belum optimal menjadi isu utama yang harus kita jawab bersama.
Oleh karena itu, ujarnya, peningkatan konektivitas tidak hanya kita maknai sebagai keterhubungan antar pelabuhan, tetapi juga integrasi yang kuat dengan kawasan industri, pusat logistik, dan moda transportasi lainnya, sehingga tercipta ekosistem logistik nasional yang mengalir dan lebih efisien.
Masyhud juga menyampaikan untuk meningkatkan daya saing, perlu fokus pada perbaikan kinerja operasional pelabuhan melalui standar pelayanan yang teratur, peningkatan produktifitas, serta optimalisasi pemanfaatan fasilitas pelabuhan.
“Yang tak kalah penting, transformasi digital melalui integrasi sistem seperti National Logistics Ecosystem dan platform maritim terintegrasi menjadi akselerator utama dalam menghadirkan layanan yang lebih transparan, cepat dan efisien,” ungkapnya.
Dirjen Hubla juga mengungkapkan, pihaknya komitmen untuk terus melakukan pembenahan kebijakan, peningkatan layanan, serta penguatan kolaborasi.
“Mari kita jadikan momentum ini sebagai langkah konkret untuk memperkuat kolaborasi, mempercepat transformasi, dan menghadirkan sistem kepelabuhanan yang modern, efisien, dan berdaya saing global,” ujarnya.
Sebelumnya Ketua Umum ABUPI Liana Trisnawati mengatakan Upaya pembenahan pelabuhan tidak hanya menyangkut pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga penguatan konektivitas dan sinergi antar pelaku usaha di sektor maritim.
“Pelabuhan harus mampu menjadi garda terdepan dalam memenangkan kompetisi global, terutama di tengah dinamika perdagangan internasional yang semakin kompleks. Dalam konteks tersebut, sektor pelabuhan memegang peran strategis sebagai simpul utama dalam rantai logistik nasional,” katanya pada seminar nasional kepelabuhanan bertema “Memperkuat Sinergi, Mendorong Transformasi Pelabuhan”.
Menurut Liana, pelabuhan harus mampu menjadi garda terdepan dalam memenangkan kompetisi global, terutama di tengah dinamika perdagangan internasional yang semakin kompleks. Dalam konteks tersebut, sektor pelabuhan memegang peran strategis sebagai simpul utama dalam rantai logistik nasional.
“Jika kita ingin meningkatkan daya saing ekonomi, maka pembenahan sektor pelabuhan harus menjadi prioritas. Pelabuhan tidak hanya sekadar tempat bongkar muat barang, tetapi menjadi garda terdepan dalam membangun daya saing global,” ujar Liana.
Dia menambahkan, pemerintah menargetkan penurunan biaya logistik nasional hingga sekitar 12 persen dari produk domestik bruto (PDB). Target tersebut hanya dapat tercapai jika pelabuhan di Indonesia mampu beroperasi secara efisien, terintegrasi, dan didukung konektivitas yang kuat.
Liana mengungkapkan, pembenahan pelabuhan tidak cukup hanya melalui pembangunan infrastruktur fisik atau perangkat keras. Aspek konektivitas antar pelabuhan, integrasi dengan kawasan industri, serta sinergi antar pelaku usaha menjadi faktor yang sama pentingnya.
“Pembenahan pelabuhan tidak hanya soal hardware. Yang tidak kalah penting adalah konektivitas dan sinergi antara seluruh pelaku usaha di sektor ini,” katanya.
Sebagai mitra pemerintah, ABUPI mendorong percepatan transformasi sektor pelabuhan melalui penguatan konektivitas dan peningkatan kerja sama antar pemangku kepentingan. Ia menegaskan bahwa kata kunci dari pengembangan pelabuhan ke depan adalah sinergi.
Menurut Liana, seminar nasional ini juga diharapkan dapat menjadi landasan dalam penyusunan program kerja ABUPI ke depan. Hasil diskusi dari berbagai pemangku kepentingan akan dirumuskan menjadi rekomendasi strategis untuk mendorong transformasi sektor pelabuhan nasional.
Acara diisi dengan seminar Nasional yang terbagi dalam tiga sesi. Pertama dengan tema ‘Peran dan kebutuhan kargo owner dalam mendukung efektifitas rantai pasok dan Pelabuhan Nasional’. Para nara sumber antara lain I Komang Wisnu Dananjaya mewakili Hubla, Fajar Budiono (Sekjen Inaplas).
Sesi II dengan tema Layanan dan Inovasi Pelabuhan Untuk Mendukung Rantai Pasok Nasional. Menampilkan Nara sumber antara lain, Dirut PT Krakatau Bandar Samudera Noor Fuad, lalu Direktur Komersial PT Pelindo Farid Padang, dan Firman Kartasasmita (Dirut PT Samudera Pelabuhan Indonesia.
Pada sesi III seminar mengambil tema Kebutuhan Sinergi dan Integrasi Pemangku Kepentingan Dalam Sistem Distribusi & Pengangkutan Pelabuhan Nasional. Para Nara sumbernya antara lain, Wamenhub Komjen Pol (Purn) Drs Suntana, lalu Darmansyah Tanamas (Sekum INSA), Akbar Djohan Ketum ALFI, Liana Trisnawati, Ketum ABUPI, Sekjen APBMI Capt. Korompis, dan Ketua Umum GPEI Benny Sutrisno. (***)



























