Kinerja PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) bersama ketiga anak usaha menunjukkan capaian yang solid sepanjang tahun 2025 dan berlanjut positif hingga triwulan I 2026.
Kinerja ini mencerminkan keberhasilan transformasi bisnis serta penguatan fundamental perusahaan dalam mendukung ekosistem industri baja nasional.
Krakatau Bandar Samudera sebagai anak usaha Krakatau Steel (Persero) Tbk mengambil langkah strategis dalam mendukung penguatan hilirisasi industri dan rantai pasok nasional.
Upaya tersebut diwujudkan melalui penguatan kapasitas operasional, peningkatan efisiensi layanan kepelabuhanan, serta pengembangan sistem logistik terintegrasi.
“Transformasi ini menjadi bagian dari langkah berkelanjutan perusahaan dalam meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat peran sebagai simpul utama distribusi bahan baku dan produk industri,” kata Dirut PT KBS Noor Fuad kepada Ocean Week, di Kantornya, Kemarin.
Kinerja Keuangan dan Operasional
fuad juga menyampaikan bahwa sepanjang tahun 2025, PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) sebagai anak usaha Krakatau Steel (Persero) Tbk mencatatkan kinerja yang solid dengan dukungan dari perusahaan-perusahaan anak di bawahnya.
“Capaian ini mencerminkan stabilitas operasional serta penguatan struktur bisnis di sektor kepelabuhanan dan logistik,” ungkapnya.
Secara keseluruhan, kinerja KBS Group terus menunjukkan pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya, dengan pendapatan mencapai sekitar Rp2,2 triliun dan laba bersih sebesar Rp207 miliar pada tahun 2025.
Pertumbuhan ini didukung oleh kontribusi lini bisnis kepelabuhanan sebagai core business, serta penguatan layanan logistik dan jasa pendukung lainnya.
“Kinerja anak perusahaan juga menunjukkan perkembangan yang positif, seiring dengan upaya berkelanjutan dalam meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat struktur bisnis di masing-masing lini usaha,” katanya.
Dari sisi operasional, total tonase bongkar muat sepanjang tahun 2025 tercatat relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan ketahanan aktivitas logistik baik dari pelanggan afiliasi maupun pihak ketiga.
Triwulan I 2026
Memasuki tahun 2026, Dirut KBS Noor Fuad mengatakan bahwa kinerja KBS hingga triwulan I menunjukkan pertumbuhan yang berlanjut.
Secara keseluruhan, kinerja pendapatan dan laba bersih Perusahaan menunjukkan pertumbuhan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan efisiensi operasional serta perbaikan kinerja di berbagai lini bisnis, termasuk penguatan kontribusi dari anak usaha.

Dari sisi operasional, realisasi tonase bongkar muat hingga triwulan I 2026 juga menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencerminkan pemulihan aktivitas logistik dan meningkatnya arus barang.
Hilirisasi Baja
Sebagai operator infrastruktur kepelabuhanan dalam ekosistem Krakatau Steel, ungkap Fuad, Krakatau Bandar Samudera memegang peran vital dalam memastikan kelancaran arus bahan baku dan distribusi produk industri baja.
KBS berfungsi sebagai penghubung utama antara sumber daya bahan baku, fasilitas produksi, serta jaringan distribusi nasional dan global.
Melalui penguatan kapasitas dermaga dan integrasi sistem logistik, KBS terus mendorong efisiensi operasional baik dari sisi waktu maupun biaya.
Kesiapan ini menjadi faktor kunci dalam mendukung peningkatan kapasitas produksi Krakatau Steel, termasuk optimalisasi fasilitas Hot Strip Mill (HSM) yang ditargetkan mencapai hingga 120.000 ton per bulan.
Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri berbasis sumber daya mineral, termasuk iron sand dan nikel.
Cadangan iron sand nasional diperkirakan mencapai sekitar 941 juta ton, dengan konsentrasi terbesar di Pulau Jawa yang memberikan keuntungan logistik bagi industri baja nasional.
Menurut Fuad, KBS berperan penting dalam memastikan kelancaran distribusi bahan baku tersebut melalui dukungan infrastruktur pelabuhan yang memadai. Hal ini memungkinkan proses hilirisasi menjadi produk carbon steel slab dan billet dapat berjalan secara efisien dan berkelanjutan.
Selain itu, potensi cadangan nikel Indonesia yang mencapai sekitar 42% dari total cadangan dunia juga membuka peluang besar dalam pengembangan industri stainless steel. Integrasi antara sektor industri, logistik, dan kepelabuhanan menjadi faktor kunci dalam memaksimalkan nilai tambah dari komoditas strategis tersebut.
Strategi Penguatan Bisnis
Ke depan, Krakatau Bandar Samudera akan terus memperkuat posisinya sebagai ekosistem pelabuhan dan logistik terintegrasi yang mendukung pertumbuhan industri nasional.
Fokus strategi diarahkan pada peningkatan trafik, optimalisasi aset, efisiensi operasional, serta pengembangan layanan bernilai tambah.
Selain itu, penguatan sinergi antar entitas dalam grup akan terus didorong guna menciptakan rantai pasok yang lebih efisien dan kompetitif.
Dengan memanfaatkan momentum hilirisasi industri dan pertumbuhan sektor manufaktur, KBS optimistis dapat menjaga kinerja positif serta memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional. (***)





























