Setidaknya ada 10 tren global yang harus dihadapi pengelola pelabuhan di tengah pergeseran ke arah digital, yakni semakin besarnya ukuran kapal yang datang di pelabuhan.
“Ada sepuluh pergeseran tren yang harus dihadapi oleh pengelola pelabuhan. Salah satunya adalah banyak pemilik kapal enggan memiliki kapal berukuran kecil,” kata Dirut PT Pelindo II Elvyn G. Masassya, dalam acara Hari Ulang Tahun (HUT) Pelindo II, di Hotel Double Tree, Jakarta, Jumat, (8/12).
Adanya tren ini memberikan implikasi ke pengelola pelabuhan. Pelabuhan mau tidak mau harus membenahi diri bagaimana bisa menerima kapal-kapal yang berukuran besar.
”Dampaknya pelabuhan tidak bisa kerja sendiri dia harus kerjasama dengan pelabuhan lain. Harus ada transhipment,” ujar Elvyn.
Makanya, para pemilik kapal kecil terpaksa beraliansi agar bisa membuat kapal berukuran besar. Bahkan, ungkapnya, di beberapa negara mereka hanya menggunakan 10 kapal saja. “Akhirnya, tren bisnis pelabuhan ke depan bukan lagi port to port melainkan door to door. Pasalnya pada zaman dulu, pengelola pelabuhan adalah pemilik lahan. Implikasinya kalau ingin masa depan pelabuhan kita bagus, maka kita harus jadi trade fasilitator dan harus bisa melayani kapal pengguna jasa. Kalau dibiarkan saja, maka bisnis pelabuhan akan mati sia-sia,” ucapnya.
Kijing
Elvyn G Massasya juga mengungkapkan bahwa pihaknya di tahun depan (2018) akan membangun terminal Kijing di Kalimantan Barat.
“Kita akan membangun Terminal Kijing di Kalimantan Barat, sebagai salah satu terminal internasional yang dimiliki IPC,” ujarnya.
Ada juga akan dibangun Cikarang Bekasi Laut (CBL). “Kita juga akan membangun Cikarang Bekasi Laut, waterways untuk mendistribusikan barang secara cepat, mudah dan murah dari Tanjung Priok ke area industri di Cikarang,” kata Elvyn.
Menurut Elvyn, pihaknya juga akan meremajakan peralatan-peralatan yang ada di pelabuhan, lalu pengerukan, dan meningkatkan kinerja keuangan, dengan cara melakukan efesiensi, pembenahan, restrukturisasi sampai mengembangkan anak-anak usaha miliknya.
Mantan Dirut BPJS itu pun menyatakan adanya gagasan antara Pelindo untuk membangun Pelabuhan Indonesia Incorporated. “Sinergi kongkret dimulai dari kepemilikan bersama terhadap anak-anak perusahaan. Dampaknya adalah operasionalnya tidak lagi dibatasi dalam lingkup wilayah, tapi seluruh Indonesia. Beberapa hal tersebut akan kita eksekusi di 2018 untuk mendorong percepatan menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia,” ungkap Elvyn. (pld2/**)



























