Pelabuhan Umum Teluk Nibung Tanjung Balai Asahan, selama tahun 2017 menghandle 628 call (120.780 Grt) kapal luar negeri, sedangkan kapal dalam negeri tercatat 22 call (4.366 Grt).
Hal itu dikatakan GM Pelabuhan Tanjung Balai Asahan Pelindo I, Aulia Rahman saat menerima Ocean Week,d i Kantornya, kemarin. “Mayoritas aktifitas melalui pelauhan ini didominasi sayur mayur, maupun barang ekspor dan domestik. Tapi impor tidak ada,” katanya didampingi Khairul Tampubolon dan Khudri Akbar, keduanya manajer.
Pelabuhan umum Teluk Nibung yang berada di wilayah Pantai Barat SUmatera Utara ini, bisa ditempuh menggunakan kendaraan umum (bus) atau kereta api dari Kota Medan hanya seitar 4 jam.
Aulia juga menyatakan bahwa selama tiga tahun ini, kegiatan di pelabuhan ini menurun, terutama semenjak adanya larangan impor pakaian bekas ke wilayah ini.
Aulia bercerita, bahwa pada rapat gabungan di Kantor Walikota Tanjung Balai yang dihadiri unsur terkait, Walikota Tanjung Balai M Syahrial menyatakan kalau penurunan yang terjadi belakangan ini dikarenakan adanya larangan untuk jenis produk tertentu masuk ke Tanjung Balai melaluis pelauhan Teluk Nibung.
“Impor produk tertentu harus melalui Pelabuhan utama, misalnya ke Belawan,” kata Aulia mengutip pernyataan Walikota.
Dari hasil rapat terpadu itulah, ungkap Aulia, kemudian Pemkot Tanjung Balai berkirim surat ke pemerintah pusat (Kemendag), meminta agar aturan pelarangan produk tertentu ke Tanjung Balai tidak cabut di tahun 2019. “Supaya Kota Tanjung Balai Bangkit dan Pelabuhan pun dapat melakukan Peranannya,” ungkapnya.
Seiring menggeliatkan jenis barang umum nantinya, Aulia yang masih baru menjabat GM Pelabuhan Tanjungg Balai, optimistis, pelabuhan Teluk Nibung dapat berkembang.
“Tak lama lagi disini juga segera mengoperasikan Gedung Terminal Penumpang baru, berkapasitas menampung 500 orang. Paling lambat akhir 2018, terminal penumpang itu dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, juga foot court,” ujar Aulia.
Dengan beroperasinya gedung baru ini, Aulia berharap jumlah penumpang meningkat. Sebab, di wiayah SUmatera Utara banyak objek wisata yang menarik untuk dikunjungi wisatawan manca negara, terutama dari Malaysia, mengingat dari negeri Jiran tersebut ke Tanjung Balai, jarak tempuhnya lebih dekat dibandingkan dari Medan ke Tanjung Balai.
“Mereka mungkin bisa ke Brastagi, Danau Toba. Jadi dari Port Klang Malaysia dan Perak lebih dekat,” ungkapnya.
Data mencatat, tahun 2017 ada 43.441 penumpang lewat pelabuhan ini, sedangkan tahun 2018 (Januari-September) ada 23.644. “Kita akan dongkrak melalui pelayanan, diantaranya, kapal Fery kedepan harus yang lebih baik,” katanya.
Aulia sudah melakukan pendekatan ke pelayaran dan Pemilik Kapal Fery, untuk mengisi trayek Fery yang sudah ada, mungkin dalam waktu dekat, akan bertambah dua kapal, seiring peresmian Terminal Penumpang Baru. (rat/ow)





























