PT Indonesia Kendaraan Terminal (IKT) Tbk menggelar Public Ekspose 2024, bertempat di Jakarta, pada Senin (4/11).
Dalam kesempatan ini, Direksi PT IKT menyampaikan banyak hal, antara lain perkembangan dan pertumbuhan perseroan, pendapatannya, serta pelabuhan Patimban yang dianggap sebagai saingannya, serta rencana perseroan ke depan.
Direktur Utama PT IKT (IPCC-kode di bursa) menyampaikan bahwa selama 6 tahun melantai di bursa sudah banyak melakukan pengembangan.
“Banyak yang sudah kami lakukan untuk pengembangan di sejumlah daerah, seperti di Banjarmasin, Makassar, Surabaya, Lembar, Pare-Pare, Irian Jaya, Pontianak, dan Belawan,” kata Sugeng Mulyadi, Dirut PT IKT kepada pers, di Jakarta.
Ketika menjawab pertanyaan mengenai adanya banyak mobil listrik yang cukup lama berada di lapangan penumpukan IKT, dan Patimban sebagai pesaingnya, Sugeng Mulyadi mengemukakan bahwa untuk mobil listrik kemarin agak lama di IKT, karena terkait perijinan clearance import yang perlu waktu.
“Untuk penumpukan mobil listrik dikenakan biaya sesuai ketentuan, masa I, II dan III,” ujarnya.
Sedangkan terkait dengan pelabuhan Patimban yang juga memiliki terminal kendaraan, kata Sugeng, pihaknya tak pernah merasa tersaingi, dan IKT tetap mengikuti kebijakan dan arahan pemerintah. “Kita tak pernah takut dengan Patimban,” ucap Sugeng.
Sugeng juga bercerita kalau IKT pun sudah melakukan kerjasama dengan auto maker, seperti Jepang, Korea dan lainnya. “IKT akan kolaborasi dengan car carrier, layanan dari pabrik sampai and user bisa kami layani semua,” ungkapnya.
Sugeng juga menyatakan bahwa tahun 2024 ini, pendapatan IKT banyak disokong dari 7 terminal yang dikelolanya, dan terbesar dari Jakarta.
Menyinggung mengenai mobil listrik, Sugeng mengemukakan bahwa kegiatan untuk mobile listrik perkembangannya cukup bagus. Pertumbuhan penjualan mobil listrik juga terus meningkat.
Menurut Sugeng, meski pertumbuhannya bagus, tapi tetap ada tantangan dan risk manajemen 2024-2025 yakni pertumbuhan otomotif, tren kenaikan mobil listrik, dan kompetisi dengan terminal kendaraan lainnya.
Bagaimana strategi menangani semua itu, ujar Sugeng, dengan melalui dedicated car terminal, lalu penerapan single billing, peningkatan status dedicated car terminal, dan peningkatan market share cargo doring dan stevedoring.

Kemudian melakukan peningkatan layanan dengan digitalisasi proses bisnis, optimalisasi KAM, standarisasi operasional & komersial, meningkatkan kapasitas terminal.
“Kita tak bisa sembarang melakukan ekspansi bisnis, karena kami dituntut untuk di semua terminal yang kami kelola harus untung,” jelasnya.
Perkuat Konektivitas Antar Terminal
Sugeng juga menyampaikan, selama sembilan bulan di 2024 (Januari-September) IPCC mencatatkan pertumbuhan trafik konsolidasi sebesar 13,5% secara year on year (yoy) atau 90.820 unit.
Tumbuhnya trafik tersebut berbanding lurus dengan kegemilangan IPCC mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 4% secara year on year (yoy) September2024 menjadi Rp 148,02 Miliar.
Dalam laporan kinerja keuangan periode triwulan III tahun 2024 yang telah disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia(BEI/IDX), peningkatan trafik diperoleh dari ketepatan strategi manajemen yang membuka terminal satelit baru pada akhir tahun 2023 yaitu terminal satelit Semayang di Balikpapan, serta pengoperasian terminal satelit baru di Trisakti, Banjarmasin pada bulan Oktober 2024.
Lebih spesifik lagi untuk penanganan cargo alat berat dan truck/bus di seluruh wilayah kerja Perusahaan mengalami capaian luar biasa dengan peningkatan sebesar 74,1%.
“Dalam laporan kinerja keuangan yang disubmit, IPCC berhasil mencatatkan peningkatan laba perlembar saham di triwulan III yang naik 4,2% (yoy) menjadi Rp 81,40 dari sebelumnya Rp 78,06,” kata Direktur Keuangan, SDM dan Manajemen Risiko IPCC, Wing Megantoro.
Menurut Wing, pelayanan jasa terminal masih menjadi primadona sebagai pencetak pundi-pundi keuangan IPCC utamanya pada Branch Jakarta dimana hal ini ditandai dengan membanjirinya cargo EV (Electric Vehicle) dimulai sejak bulan Juni 2024 dengan berbagai macam merk seperti BYD, Wuling, Citroen, Vinvast dan AION serta brand-brand lainnya dimana meningkat 19% setiap bulannya dengan total sejumlah 15.988 unit.
Sugeng Mulyadi menambahkan bahwa ditengah menurunnya angka penjualan kendaraan bermotor di tahun ini khususnya cargo kendaraan (mobil/CBU), IPCC berhasil membukukan kinerja positif.
“Kenaikan kinerja positif ini didorong adanya strategi-strategi jitu dari manajemen IPCC dalam optimalisasi potensi penggunaan lahan-lahan yang dimiliki dengan berkolaborasi dengan berbagai pihak salah satunya layanan Pre Delivery Centre (PDC) yaitu layanan tempat penyimpanan kendaraan sebelum dikirimkan ke destinasi pelabuhan tujuan,” ungkapnya.
Perubahan pola bisnis dibidang komersial juga mendorong optimalisasi pendapatan Perusahaan berkat sinergi dan komunikasi yang terjalin sangat baik dari IPCC kepada masing-masing pengguna jasa Perusahaan.
Wing pun menceritakan, dari sisi rasio profitabilitas Perusahaan menunjukan kinerja yang cukup baik seiring dengan kenaikan Laba Tahun Berjalan tersebut di atas membuat Net Profit Margin IPCC di triwulan III tahun ini melambung menjadi 26,24% dari periode yang sama di tahun lalu sebesar 25,89% serta diikuti oleh EBITDA Margin yang juga menanjak menjadi 46,7%.

Perseroan sangat concern untuk meningkatkan efisiensi operasi pada semua lini yang diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi investor. Hingga saaat ini IPCC memiliki fondasi keuangan yang sangat kuat ditandai dengan tidak memiliki pinjaman dalam bentuk obligasi, perbankan atau instrument keuangan lainnya sehingga ruang pendanaan untuk melakukan ekspansi bisnis sangat terbuka.
Sementara itu, Bagus Dwipoyono, Direktur Operasi dan Teknik IPCC menyebutkan, dengan telah diimplementasikannya digitalisasi sistem operasi baru yaitu PTOS-C yang merupakan produk pengembangan karya Anak Usaha Pelindo dapat mengintegrasikan sistem yang telah digunakan sebelumnya dan melengkapi hal-hal yang belum ada sebelumnya sehingga segala kebutuhan para pelanggan/pengguna jasa dapat terfasilitasi yang pada akhirnya prinsip service excellent Perusahaan bukan hanya slogan semata.
Selain itu Standarisasi pola operasi, SDM dan transformasi terminal juga terus dilakukan guna menghadapi tantangan serta mengharapkan iklim bisnis otomotif membaik yang pada akhirnya ikut meningkatkan perekonomian nasional.
Dengan masuknya berbagai macam brand-brand asal negeri Tiongkok utamanya dalam ekosistem EV nasional, dimana disusul dengan pembukaan pabrik-pabrik di wilayah penyokong bisnis Ibu Kota Jakarta, diharapkan tahun depan peningkatan cargo EV baik ekspor dan impor yang dapat memacu pertumbuhan penjualan otomotif didalam negeri.
“Sejalan dengan program Perusahaan yang fokus pada pengembangan strategi bisnis yang berkelanjutan serta terus berupaya untuk memperluas pengelolaan terminal kendaraan di wilayah Indonesia khususnya wilayah Indonesia bagian tengah dan timur yang diharapkan tercipta konektivitas antar terminal yang pada akhirnya dapat menurunkan biaya logistik dengan proses yang efisien dan terintegrasi serta selalu memenuhi ekspektasi para pelanggan/pengguna jasa,” kata Sugeng Mulyadi.
Seperti diketahui bahwa PT IKT saat ini berada dalam Subholding Pelindo Multi Terminal/SPMT. (***)





























