Pelabuhan Tanjung Priok hingga sekarang masih terbebas dari virus Corona. Meski sekitar 35 kapal asal pelabuhan China dari tanggal 1-26 Januari 2020 membawa total 738 crew masuk ke pelabuhan terbesar di Indonesia ini.
Kepala Kantor Kesyahbandaran Utama Tanjung Priok, Capt. Hermanta menghimbau supaya kapal-kapal diharuskan angker di luar, dan semua crew tak diperbolehkan ada yang turun. Mereka diperbolehkan turun setelah mendapat hasil insfeksi dari karantina kesehatan yang menyatakan clear, tidak ada yang suspeck, baru boleh sandar, dan crew tak boleh keluar dari pelabuhan atau stay di kapal karena masih dalam masa pengawasan 14 hari. Sebab, masa inkubasi adalah 7 hari dan masa pengawasan 2x masa inkubasi.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Karantina dan Surveylance Epidiemologi, Kantor Kesehatan Pelabuhanan Tanjung Priok, Brata Sugema menyatakan bahwa dari 35 kapal yang berasal dari pelabuhan China, dan ABK-nya sudah dilakukan pemeriksaan oleh petugas Karantina Kesehatan Pelabuhan Tanjung Priok, belum ada crew kapal yang terindikasi virus Corona.
“Sampai saat ini masih aman dan belum ada yang kena virus Corona di pelabuhan Priok,” kata Brata kepada Ocean Week, di kantornya, Senin (27/1).
Baru-baru ini Kepala Syahbandar Priok juga sudah melakukan rapat koordinasi mengenai penanganan virus Corona ini.
Menurut dia, kapal-kapal yang direct dari China ke Tanjung Priok Jakarta memang cukup banyak. Tahun 2019 lalu, tercatat 422 unit kapal dengan total ABK sebanyak 9.781 crew, dari China datang ke pelabuhan Priok.
Untuk mengantisipasi jika ada para ABK kapal dari China yang terindikasi kena virus Corona, Brata mengungkapkan bahwa pihaknya sudah bekerjasama dengan rumah sakit Sulianti Suroso yang berlokasi di Sunter Jakarta Utara. “Rumah sakit tersebut memang untuk rujukan ABK yang terkena virus Corona,” ungkapnya.
Brata juga meceritakan bahwa untuk mengetahui para ABK itu terindikasi virus atau bukan, yakni melalui pemeriksaan petugas karantina kesehatan kepada para ABK. “Jadi pemeriksaan dilakukan setelah Nakhoda ada Maritime Declaration of Health yang menyatakan jika crew-nya tak ada masalah kesehatan. Barulah petugas kami mengeceknya satu per satu ABK. Di cek dari suhu badannya. Kalau suhu badannya mencapai 38 derajat, langsung kita evakuasi ke RS Sulianti Suroso tadi,” katanya lagi.
Dalam satu kapal, ada tiga petugas pemeriksa yang bergiliran selama 24 jam kerja. Pemeriksaan dilakukan di luar dam pelabuhan.
Brata hanya berharap supaya dalam hal ini ada kerjasama antara pihak-pihak yang terkait disini. Mengingat, Brata masih sering mendengar khabar jika crew kapal asal China yang kapalnya belum sandar dan belum dilakukan pemeriksaan kesehatan, para crew sudah dijemput oleh kapal crew boat dari Arsa. “Itu saya masih suka dengar itu. Makanya kita minta kerjasamanya, karena aturannya sebelum kapal menurunkan bendera kuningnya, ABK belum diperiksa belum boleh turun. Namun ABK belum diperiksa sudah dijemput kapal crew boat dari Arsa,” ungkapnya mengakhiri interview dengan Ocean Week.






























