Sekitar 100 kapal kontainer dari total 750 kapal saat ini terjebak antrean di sekitar Selat Hormuz menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran baru-baru ini.
“Sekitar 10% dari armada kapal kontainer global terjebak dalam situasi ini,” ujar Jeremy Nixon, CEO Ocean Network Express (ONE), perusahaan pengangkut kontainer, dalam sebuah konferensi industri pelayaran kontainer di Long Beach, California, Senin (2/3), dikutip dari Reuters.
Apakah kondisi dan situasi tersebut bakal berdampak terhadap perdagangan dan pelabuhan di Indonesia, pengamat kemaritiman nasional Capt. Asmari Heri menyatakan masih terlalu dini untuk mengatakan akan berdampak besar terhadap perdagangan di Indonesia.

“Bahwa itu akan sedikit banyaknya berpengaruh iya terutama terhadap potensi kenaikan harga minyak, berdampak besar terhadap distribusi angkutan energi terutama minyak dan gas (yang menggunakan selat Hormuz), tapi terhadap barang dengan angkutan kontainer mungkin dampak langsungnya akan bertahap dan tidak sedrastis angkutan energi (minyak dan gas) karena sebagian besar (jalur utama) pelayaran kontainer melalui terusan Suez,” ujar Asmari saat dihubungi Ocean Week, Selasa pagi.
Menurut Asmari, jika ada beberapa kapal kontainer yang terjebak itu hanya untuk tujuan daerah (pelabuhan-pelabuhan) didalam selat Hormuz.
“Terhadap angkutan kontainer global dan dampaknya terhadap Indonesia ada tapi saya pikir relative kecil karena barang-barang dari dan ke Indonesia umumnya dengan tujuan Eropah, Asia timur dan Timur Tengah yang melalui Terusan Suez,” ungkapnya.
Asmari menyampaikan keprihatinannya terhadap ketegangan antara AS-Iran. “Kita doa’kan saja semoga ketegangan nya cepat selesai dan kembali ke meja perundingan,” hatapnya.
Untuk diketahui, bahwa Perusahaan asuransi maritim telah menghentikan pemberian layanan asuransi pelayaran melalui Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar seperlima dari konsumsi minyak dunia serta sejumlah besar gas, setelah Iran membalas serangan AS dan Israel.
Komandan Garda Revolusi Iran mengatakan kepada televisi pemerintah Iran pada hari Senin bahwa kapal apa pun yang mencoba melintasi selat tersebut akan dibakar.
“Semua kargo itu akan mulai menumpuk,” kata Nixon, merujuk pada pusat-pusat pelayaran dan pelabuhan utama di Eropa dan Asia.
Menurut dia, ONE dan para pesaingnya di sektor kapal kontainer, termasuk pemimpin industri MSC, telah menghentikan pemesanan kargo ke Timur Tengah.
Perusahaan tersebut merupakan usaha patungan tertutup yang didirikan oleh perusahaan pelayaran Jepang Nippon Yusen Kaisha (NYK), Mitsui O.S.K. Lines (MOL), dan K Line. (**)





























