BUP Pelindo mesti memikirkan langkah apa kedepan yang harus dilakukannya, mengingat dalam dua tiga tahun lagi, kapasitas TPKS Semarang dinilai INSA Semarang sudah tak memadai menampung volume barang (petikemas) yang terus bertumbuh.
“Jika tak diantisipasi dari sekarang, khawatirnya akan kongesti Tanjung Emas. Makanya Pelindo harus mengambil kebijakan yang tepat untuk mengantisipasi lonjakan barang yang kian naik,” ujar Hari Ratmoko, Ketua DPC INSA Semarang kepada Ocean Week, Jumat siang (11/9), di Semarang.
Menurut Hari, Tanjung Emas sudah sangat padat, dengan throughput 1,2 juta TEUs di tahun 2025, BUP Pelindo perlu segera mengambil langkah yang tepat. “Perlu menambah dermaga, CY, dan sebagai nya. Atau depo di seputaran pelabuhan dijadikan sebagai areal untuk pengembangan,” ungkapnya.
Hari juga berharap agar pengerukan alur pelayaran, pengerukan kolam pelabuhan, dan breakwater yang sudah tenggelam perlu dikeruk dan diperbaiki.
“Kalau alur dikeruk, kolam juga dikeruk, dan breakwater diperbaiki, kami pun ingin mendatangkan kapal besar dibanding yang sekarang ada,” ungkap Hari.
Sebelumnya, PT Pelindo Terminal Petikemas mengundang para pemangku kepentingan terkait, seperti pelaku usaha dan asosiasi dalam Focus Group Discussion (FGD) untuk menjaring masukan peningkatan kapasitas Terminal Peti Kemas (TPK) Semarang.
“Kami mengundang ‘stakeholder’ untuk datang memberikan masukan. Ada asosiasi pelayaran, kawasan berikat, terus yang ada di kawasan industri,” kata Kepala TPK Semarang I Nyoman Sutrisna, di Semarang, Kamis (10/9).
Mereka hadir pada Focus Group Discussion (FGD) Kajian Proyeksi Pertumbuhan Barang dan Industri untuk Peningkatan Kapasitas TPK Semarang dalam Mendukung Pengembangan Logistik dan Perdagangan.
Dari FGD itu, terdapat sejumlah masukan yang disampaikan, seperti perluasan lapangan kontainer hingga peningkatan kedalaman kolam pelabuhan untuk memudahkan kapal besar masuk.
“Untuk pengembangannya (TPK Semarang, red.) kan kita harus melihat dari semua ‘stakeholder’. Nanti kan ditampung dulu. Kita punya konsultan juga,” katanya.
Hari Ratmoko juga mengungkapkan bahwa TPK Semarang perlu memperpanjang dermaga.
“Pelabuhan Tanjung Mas memang sudah saatnya “naik kelas” menjadi seperti pelabuhan di Jakarta atau Surabaya seiring dengan meningkatnya industri dan investasi. Jangan ragu lagi, harus gerak cepat supaya cepat berkembang, tumbuh, sehingga semua potensi ekonomi bisa kita ‘capture’,” katanya.
Sementara itu, Branch Manager MSC Indonesia Efraim Zakka juga menyampaikan tantangan TPK Semarang adalah keterbatasan lapangan kontainer dan kedalaman kolam terminal.
“Jadi, yang diharapkan adalah itu bisa dilakukan secepatnya sehingga bisa lebih cepat untuk ada solusi. Karena kebutuhan dan demand tinggi sekali,” katanya dikutip dari Antara.
Diakuinya, rencana pengembangan infrastruktur tentu melewati berbagai tahapan dan regulasi, tetapi investasi dan industri saat ini berkembang sedemikian pesat.
“Pemerintah pasti mendukung. Kalau pemerintah kan ada regulasi, dipayungi oleh undang-undang. Tentu saja semuanya harus sesuai. Sementara pertumbuhan pasar ini sangat cepat. Kejar-kejaran dengan waktu,” katanya.
Sementara itu, Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Jawa Tengah dan DIY Teguh Arif Handoko mengatakan bahwa kontainer yang masuk pelabuhan harus terlayani baik.
“Kita enggak usah ngomong 5-10 tahun mendatang nanti bisa 4.000.000 TEUs tidak? Tetapi, sampai 2030 bagaimana kita melayani 1,2 juta TEUs?,” katanya.
Dengan 1,2 juta TEUs per tahun, kata Teguh, jika dibagi secara harian maka menjadi 3.300 TEUs, dan akan dikoordinasikan dengan ketersediaan armada yang ada di Pelabuhan Tanjung Mas, berapa kebutuhan truk petikemas. (**)































