Mewabahnya pandemi virus Corona yang sudah memakan banyak korban masyarakat Indonesia, menjadikan bisnis pelayaran juga menghadapi tantangan berat kedepannya.
Kalau sampai usaha pelayaran masih bisa bertahan dan tak sampai gulung tikar, pada kondisi serta situasi yang membuat perekonomian terpuruk seperti sekarang ini, sangatlah hebat.
Pada situasi seperti sekarang ini dan kedepan, Pelayaran sangat memerlukan adanya stimulus. Apalagi pelayaran pun belum bisa memprediksi sampai kapan masalah ini berakhir.
“Saat ini, perusahaan pelayaran nasional bisa bertahan dan tidak gulung tikar saja sudah sangat bagus. Kondisi saat ini benar-benar berat bagi pelayaran nasional,” kata Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto, di Jakarta.
Sementara itu, penasihat INSA H. Sunarto juga mengaku kalau sekarang ini keadaan sulit semua. “Sebelumnya kita bisa atur schedule kapal dengan ketat, sekarang pemuatan dan kesiapan cargo drop dan memakan waktu lama, sehingga freightnyanya nggak cukup untuk membiayai operasi secara keseluruhan,” kata Sunarto.

Menurut owner Pelayaran PT Gurita Lintas Samudera ini, barangkali yang bisa dilakukan pelayaran yakni memanaged kapal serta kecepatan bongkar muat. “Kita mau nggak mau harus hadapi situasi yang sulit seperti saat ini. Tapi mesti tetap berusaha, soal hasilnya serahkan kepada Allah,” ujar Sunarto.
Ditempat terpisah, ketua DPC INSA Surabaya Steven Lesawengan kepada Ocean Week mengemukakan bahwa periode Maret menurut data PT Pelindo 3 turun hanya 4% saja.
“Demikian juga informasi dari pelayaran internasional turunnya tidak terlalu signifikan. Prediksi April kemungkinan akan turun 50% untuk import dan export di kisaran 20%,” katanya.
Menjawab kapan situasi sulit ini kembali normal, Steven menyatakan kalau melihat China sudah mulai membaik, importasi mungkin akan kembali normal, karena importasi terbesar itu dari china.

“Mudah-mudahan covids 19 di Indonesia sudah memuncak dan akan turun seiring dengan pemberlakuan disiplin sosial distancing maupun phisical distancing,” ungkapnya.
Sedangkan Ketua DPC INSA Semarang Ridwan mengungkapkan, meski situasi ekonomi nasional juga terdampak adanya wabah Corona, namun pelayaran masih tetap jalan, meskipun volume muatan expor/impor menurun.
“Masih banyak pabrik yang belum berproduksi secara normal dan full capacity sehingga berpengaruh terhadap muatan,” ungkap Ridwan.
Menjawab mengenai sampai kapan kondisi situasi keterpurukan perekonomian disini akibat Corona, Ridwan memprediksi bahwa kondisi seperti ini kemungkinan sampai akhir bulan April ini, dan baru normal kembali sekitar awal Mei 2020.
Suparno, salah satu pelaku bisnis pelayaran di Batam juga menyatakan jika usaha pelayaran di pulau ini pun sama seperti yang dialami oleh pebisnis yang sama di tempat lain.
“Kondisi pelayaran di Batam saat ini lebih kurang 60% general cargo, container dan ferry international maupun domestik, termasuk yang repair,” ujarnya.
Dia memperkirakan, Agustus 2020 akan membaik seiring dengan sudah amannya wabah Corona. “Tapi kita lihat saja nanti bagaimana,” ungkapnya.
Perlu Stimulus
Situasi perekonomian yang belum membaik, ditambah adanya musibah wabah Corona, membuat usaha pelayaran memerlukan beberapa stimulus, yakni Pemberian grace periode pembayaran pinjaman Bank, reschedule pembayaran pinjaman Bank.

Lalu penghapusan pajak (PPN & PBBKB ) atas BBM, Harga BBM yang kompetitif dan supply BBM yang stabil. Kemudian Discount biaya-biaya di pelabuhan, Discount suku bunga pinjaman, Memberikan dispensasi penundaan pengurusan sertifikat-sertifikat kapal, selama sertifikat tersebut dapat ditunda dan tidak membahayakan jiwa pekerja & kapal.
Hal itu sangatlah dibutuhkan mengingat kapal tetap beroperasi seperti biasa mengangkut logistik nasional.
Selain itu juga perlunya dispensasi dengan memberlakukan penundaan docking untuk kapal yang sedang dalam masa operasional, mengingat saat ini perusahaan docking sudah mengurangi jumlah pekerja lapangan.
Lain itu, suplai kebutuhan suku cadang kapal sangat terbatas dengan adanya pengetatan distribusi barang impor.
Ketua Umum DPP Indonesian National Shippowners’ Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan, setidaknya ada empat aspek yang terdampak di bisnis sektor pelayaran akibat mewabahnya virus corona Covid-19.
“Satu, penurunan volume kargo, baik pada ekspor impor yang terdampak seperti ke China yang menurun hingga 14-18 persen dan merembet ke negara tujuan lain, seperti Singapura dan Korea Selatan. Begitu juga pada kargo domestik terutama pada kargo penunjang ekspor impor dan distribusi nasional yang turun 5-10 persen,” katanya.
Disamping itu, proses clearance di pelabuhan lebih lama karena adanya penyemprotan disinfektan kapal, pemeriksaaan kesehatan kru kapal dan pemeriksaan riwayat perjalanan kapal. Hal ini berdampak pada penambahan biaya operasional kapal.
“Lalu kebijakan physical distancing dan work from home juga berdampak pada kinerja instansi di darat karena banyak yang membatasi jam kerja termasuk tenaga operasional di lingkungan Ditjen Hubla pada subdit-subdit terkait kepengurusan sertifikat kapal dan kesyahbandaran,” kata Meme, panggilannya.
Menurut Meme, pelayaran nasional juga mengalami kendala docking kapal. Hal ini disebabkan sejumlah galangan mengurangi jumlah pekerja di lapangan untuk meminimalisasi penyebaran Covid-19.
Akibatnya, pekerjaan perawatan kapal-kapal yang sedang docking terkendala entah sampai kapan, dan kapal lainnya harus antre lama untuk docking dalam dua bulan terakhir. Selain itu, spare part kapal yang impor dari China terkendala sehingga lebih lama dan lebih mahal.
Menurut Carmelita kondisi yang sangat memukul sektor pelayaran nasional saat ini juga akan berdampak pada menurunnya kinerja industri terkait lainnya, seperti kinerja logistik, asuransi, galangan, industri spare part kapal hingga ke instansi pendidikan SDM pelaut. (bi/ow/**)




























