Para pengusaha truk petikemas yang beroperasi di Jakarta mengeluh dan mengaku berat dengan kondisi saat ini.
Tarif Anjlok, Perang tarif terjadi, bahkan ada yang banting harga demi untuk mendapatkan job.
“Depot antrian macet masih jadi PR kami, belum lagi Pungli yang kadang masih ada. Aturan makin ketat. Banyak unit yanh harus turunin kapasitas,” ujar Darmawan Witanto, ketua Aptrindo Jakarta kepada Ocean Week, Selasa siang, di kantornya.
Tak hanya soal tersebut saja, para pengusaha truk petikemas, ungkap Darmawan, sekarang juga dihadapkan dengan rencana pemerintah menerapkan BBM B50.
“Pemerintah targetkan B50 jalan tahun ini. Solar 50% + FAME 50%. Masalahnya, dengan penggunaan B50 truk terutama filter akan cepet mampet, karena FAME itu sifatnya “nyuci” tangki. Kotoran lama rontok semua. 1-2 bulan pertama pasti sering ganti filter. Seal & Selang: B50 bisa bikin seal karet getas kalau truknya udah tua,” jelas Akong (panggilannya).
Selain itu, ungkapnya, setelah beberapa dilakukan uji coba, konon tenaga kendaraan agak turun 3-5%, konsumsi BBM naik dikit.
Tapi, kata Darmawan, masih ada titik terang, mengingat volume ekspor impor mulai naik lagi. “Kami berharap kuartal 4 tahun ini bisa agak mendingan,” ujarnya.
Jadi, kata Akong, intinya saat ini yang kuat modal plus kuat mental yang mampu bertahan. .
Aptrindo, ujar Akong, sebenarnya tak menolak dengan program pemerintah, namun, mestinya sosialisasi dan uji coba lebih lama lagi, jangan langsung diwajibkan. “Kasih waktu ke kami, waktu PO adaptasi 6 bulan, karena B50 harus benar-benar standar. Jangan sampai bikin injector jebol. Siapa yang ganti rugi?,” ujar Akong menegaskan.
Dia minta kepada pemerintah kalau penerapan B50 membuat biaya perawatan naik, Aptrindo berharap ada kompensasi tarif atau subsidi perawatan.
Dengan penggunaan B50, dia menyarankan supaya trucking rajin ganti filter.
“Mulai sekarang biasakan. Biar pas B50 masuk nggak kaget. Selain itu, cek Selang & Seal, Kalau udah getas, ganti sekalian ke yang tahan biodiesel,” katanya.
Darmawan juga menyampaikan bahwa APTRINDO mau kumpulin data dampak B50 dari lapangan. “Biar kita punya data kuat buat negosiasi ke pemerintah. Dulu pas B20 ke B30 juga gitu awalnya. Lama-lama adaptasi,” ujar Darmawan. (***)































