Pelemahan nilai tukar rupiah atas dolar AS yang menembus Rp 15.000 per dolar AS dinilai INSA dapat memberi pengaruh yang signifikan pada bisnis di bidang pelayaran, karena masih banyak perusahaan pelayaran yang berhubungan dengan bank dalam bentuk dolar AS.
“Kurs rupiah yang terus melemah atas dolar AS, pasti berdampak. Karena pinjaman pelayaran dari bank sebagian besar dalam bentuk dollar AS. Bagi pelaku-pelaku besar pelayaran yang usahanya di Indonesia, serta bayar dengan rupiah pasti akan terkena imbas, karena untuk bayar bunga harus pakai dolar,” kata Wakil Ketua Umum DPP INSA Darmansyah Tanamas, di Jakarta.
Darmansyah mengungkapkan, pelemahan rupiah ini tentu akan berimbas pada laba bersih perusahaan yang bisa tergerus. Dampaknya, tambahnya, memang cukup signifikan, apalagi struktur biaya dari bisnis pelayaran antara lain terdiri dari biaya investasi dan bahan bakar, serta operasional.
Apalagi, perusahaan banyak juga yang melakukan pembelian suku cadang sebagian besar masih impor.
“Kalau impor dan rupiah melemah, otomatis biaya yang kita gunakan lebih besar, makanya struktur-struktur ini memang sangat diperhatikan dan menjadi konsen kami ” ujarnya.
Sementara itu Menko Perekonomi Darmin Nasution usai menghadiri rapat terbatas di Istana Kepresidenan, mengatakan 13 kebijakan pemerintah masih efektif untuk mengendalikan nilai tukar rupiah. Merosotnya nilai mata uang tak hanya terjadi di Indonesia. “Merosotnya mata uang juga terjadi negara berkembang akibat krisis yang terjadi di Argentina,” katanya.
Namun, ungkap Darmin, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam keadaan baik. Dia meminta masyarakat tidak membandingkan anjloknya nilai tukar rupiah saat ini dengan tahun 1998 lalu saat terjadi krisis. (***)






























