Mayoritas bisnis pelayaran mulai membaik di tahun 2018, terkecuali sektor kontainer. Karena, di angkutan petikemas ini terjadi persaingan yang saling ‘mematikan’, tidak sehat, sampai pada banting harga.
Untuk sektor angkutan seperti batubara, offshore, dan Migas sepanjang memiliki kontrak dengan buyer tidak terengaruh dengan kondisi, mengingat sudah ada pasar pasti.
Penilaian tersebut disampaikan Soenarto, owner Pelayaran Gurita Lintas Samudera (GLS) dan Asmari Herry, direktur Samudera Indonesia Shipping, kepada Ocean Week, disela acara buka puasa DPP INSA, di RUmah Imam Bonjol Jakpus, Jumat (25/5) malam.
“Sekarang ini situasi usaha angkutan laut (pelayaran) mulai naik, terkecuali kontainer,” ujar Asmari.
Sebab, ungkapnya, di sektor angkutan petikemas ini persaingan sangat ketat. Pelayaran yang bermain di bidang ini pun banyak. “Jadi mereka (pelayaran) beradu kekuatan modal, terutama di domestik, siapa yang kuat modal dialah pemenangnya,” ungkapnya.
Sementara itu Soenarto menyatakan, bahwa pelayaran di sektor angkutan batubara khususnya, sepanjang memiliki kontrak dengan buyer, apalagi jangka panjang tidak akan menghadapi masalah.
Yang berat itu, ujar penasihat DPP INSA ini, pelayaran yang tak mempunyai kontrak muatan. “Mereka itulah yang biasanya merusak pasar, misalnya dumping harga. Tapi apa, akibatnya berat sendiri,” kata Soenarto,
Kendati begitu, keduanya berharap kondisi perekonomian global segera membaik, sehingga industri pelayaran dalam negeri pun ikut terkerek naik. (***)




























