Alur pelayaran Pelabuhan Cirebon sedang dilakukan pengerukan mencapaisekitar 9 meter. Diharapkan segera selesai, sehingga kedepan bisa melayani kapal-kapal kargo umum, termasuk kontainer.
“Saat ini sedang dikeruk hingga kedalaman 9 meter. Karena kami ingin nantinya bisa untuk kegiatan kontainer,” kata Solikhin, GM Pelindo II Cabang Cirebon, saat dihubungi Ocean Week melalui telponnya.
Menurut dia, sembari menunggu selesainya pengerukan pelabuhan, Pelabuhan yang ada di kota Cirebon ini juga didorong untuk dapat melakukan kegiatan kontainerisasi, mengingat fasilitas pendukungnya sangat menunjang.
Rencana Induk Pelabuhan (RIP) dari Kementrian Perhubungan juga sudah turun.
Ocean Week yang beberapa bulan lalu pernah diajak GM Solikhin mengelilingi pelabuhan Muara Jati ini, melihat bahwa sejumlah fasiitas pendukung, seperti lapangan penumpukan untuk kegiatan kontainer sudah siap. Kata Solikhin, kargonya pun sudah ada, jadi tinggal realisasi saja.
Seperti diketahui, pengerukan serta penyiapan berbagai fasilitas itu merupakan bagian dari revitalisasi Pelabuhan Cirebon yang konon membutuhkan anggaran antara Rp 5 triliun sampai dengan Rp 7 triliun, berasal dari PT Pelindo II. Dalam revitalisasi itu, akan ada lahan seluas 50 hektare yang direklamasi untuk dermaga baru.
Dermaga yang berjarak sekitar dua kilometer dari bibir pantai tersebut akan dikeruk dengan kedalaman sekitar sembilan meter. Dengan demikian, maka dermaga itu bisa dilabuhi oleh kapal-kapal besar, seperti kapal kargo. Fasilitas pelabuhan pun akan dilengkapi dengan lokasi penempatan peti kemas.
Revitalisasi ditargetkan selesai dalam dua tahun. Dengan demikian, dermaga yang baru itu sudah bisa digunakan pada 2020 mendatang.
Sambil menunggu selesainya pengembangan, pihak Pelindo Cirebon juga sudah menandatangani MoU dengan Himpunan Pengusaha Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI). Sehingga begitu revitalisasi rampung, maka ekspor mebel rotan dari Cirebon bisa dilakukan dari Pelabuhan Cirebon.
Selama ini, ekspor mebel rotan dilakukan melalui Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Sekitar 3 ribu kontainer per bulan komoditi mebel rotan dari Kabupaten Cirebon diekspor melalui pelabuhan Priok.
Dengan dibukanya akses jalan Tol Cipali (Cikopo-Palimanan) yang merupakan kelanjutan dari Tol Palikanci (Palimanan-Kanci), mulai banyak investor melirik Cirebon sebagai lokasi strategis untuk industri.
Sekarang ini, Kawasan industri yang ada di Cirebon masih banyak yang terletak di Wilayah Cirebon Barat, seperti pabrik semen Palimanan, Pusat pengrajin rotan, Pabrik Tekstil termasuk sentra Batik Trusmi Cirebon yang sudah sangat terkenal terletak di wilayah Cirebon Barat.
Untuk Kawasan Timur Cirebon yang merupakan jalan Pantura (Pantai Utara), sudah mulai bermunculan pabrik-pabrik. Dengan dibangunnya PLTU Kanci 1 bahkan sekarang mulai dibangun PLTU Kanci 2 di wilayah timur Cirebon, memungkinkan kawasan ini bisa menjadi kawasan industri karena akses listrik yang besar bisa mudah didapatkan.
Sekedar informasi, beberapa pabrik yang sudah beroperasi di wilayah timur Cirebon, antara lain, PT.Charoen Pokphand Indonesia Tbk yang merupakan Pabrik Pakan Ternak sudah beroperasi mulai Januari 2014. Lalu PT Smart Techtex, berlokasi di jalan Raya Kanci Cirebon desa Pangenan kabupaten Cirebon. PT. Sido Agung Agro Prima, di daerah Losari kabupaten Cirebon, dan PT. Samudra Luas Paramacitra di Jl Raya Kanci desa Astana japura Kabupaten Cirebon. (***)




























