Pengelola Makassar New Port (T2) dan TPK Makassar (T1) optimis target 715 ribu TEUs (sesuai RKAP) bisa tercapai pada tahun 2024 ini. Sebab, throughput 2023 sudah tercapai 700 ribu TEUs.
“Sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP), pada tahun 2024 ini, ditargetkan mencapai 715 ribu TEUs, dan itu optimis bisa tercapai,” ujar I Nyoman Sutrisna,Terminal Head TPK Makassar, kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (6/6/2024).
Optimisme Komang, panggilan Nyoman Sutrisna, disebabkan adanya pasar tambahan untuk angkutan Nikel.
Kamis sore, Ocean Week berkesempatan melihat langsung terminal petikemas Makassar (T1) dan Makassar New Port (MNP), ditemani pihak SPTP, dan I Nyoman Sutrisna.
Waktu itu, suasana di kedua terminal tersebut sangat terik, meskipun hari masih sore.
Terlihat bahwa di T2 sedang ada kapal milik Meratus sedang melakukan bongkar muat barang (kontainer).
Kata Nyoman, khusus Makassar New Port (MNP), pihaknya terus berupaya memperluas pasar baru, khususnya untuk angkutan peti kemas internasional (ekspor impor).
“Sekarang, sudah ada pelayaran global yakni SITC yang rutin seminggu sekali dengan satu kapal menggunakan fasilitas MNP,” ungkapnya.

Selain melayani pasar internasional, T2 dan T1 melayani kapal-kapal peti kemas domestik dengan customer antara lain SPIL, Temas Line, Tanto Intim Line dan Meratus.
“Baru-baru ini ada dua pelayaran global juga yakni CMA-CGM dan Maersk Line yang visit dan menjajaki untuk melakukan kegiatan di MNP. Semuanya masih sedang dalam proses,” jelasnya.
Seperti diketahui, Makassar New Port merupakan pelabuhan terbesar kedua di Indonesia setelah Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, dan sudah diresmikan presiden Jokowi, beberapa bulan lalu.
Nyoman mengatakan, total throughput yang tercatat di tahun 2023 pada T1 dan T2 mencapai 700 ribu TEUs. “Dari capaian itu, untuk produktivitas di T1 sebanyak 60% dan T2 mencapai 40%. Nantinya target jangka panjangnya (hingga 2028) semua kegiatan pengapalan peti kemas internasional nantinya akan difokuskan ke T2 (MNP),” kata Nyoman.
Nyoman juga menegaskan, pihaknya telah menerapkan sistemisasi, digitalisasi dan standarisasi layanan operasional yang juga sama dengan terminal-terminal petikemas yang dikelola SPTP.
Nyoman pun menyampaikan untuk semua aktivitas di terminal petikemas Makassar maupun New Terminal Makassar, dapat dipantau melalui fasilitas control and planning. “Dari tempat ini semua pergerakan si T1 dan T2 bisa terlihat, dan memang dari sini pula pengaturan layanan dilakukan,” ungkapnya.
Kedepan, control dan planning tower di MNP akan dikembangkan untuk mengakomodir pelabuhan-pelabuhan di seluruh Kawasan Timur Indonesia.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Forwarding dan Logistik Indonesia (Alfi) Sulsel, Syaifuddin Saharudi (akrab disapa Ipho) mengatakan optimistis sejumlah komoditi di Sulsel dapat bertumbuh hingga bisa memenuhi kebutuhan ekspor.
Oleh karenanya, Ipho berharap dengan adanya MNP maka Pemprov Sulsel harus benar-benar dapat menjadikan Sulsel sebagai hub Indonesia Timur untuk distribusi logisitik.
“Harapannya kedepan MNP menjadi hub di indonesia timur, tidak perlu lagi ke Jawa,” ujarnya yang juga menjadi harapan Nyoman.
Ipho mengatakan, untuk mendukung MNP perlu ada sentra ekonomi yang lebih masif mendukungnya.
Sebab, dengan analisa pertumbuhan ekonomi dan penduduk di Sulsel saat ini, sejumlah komoditi kebutuhan pokok masih mesti didatangkan dari pulau Jawa.
“Namun dengan adanya MNP yang infrastrukturnya supermewah, Seharusnya MNP bisa jadi Hub ekspor impor. Dan ALFI mendukung untuk itu, supaya semua masuk MNP. Dengan begitu, otomatis problem kepadatan arus barang di wilayah Barat juga bisa berkurang,” katanya.
Nyoman menambahkan, sekarang ini MNP memiliki panjang dermaga mencapai 1000 meter, dilengkapi dengan 6 Crane pendukung bongkar muat peti kemas, serta lapangan penumpukan petikemas seluas 10 Ha.
MNP juga telah diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Kamis (22/2/2024).
Waktu itu, Presiden menyampaikan bahwa Makassar New Port merupakan pelabuhan terbesar kedua di Indonesia setelah Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta.
Nyoman berharap, terminal ini bisa menjadi hub terminal untuk wilayah Indonesia Timur. (***)






























