Kadin Indonesia menggelar diskusi Forum Ekspor 500 persen melalui digitalisasi dan efisiensi logistik nasional, bertempat di lt 7 kantor pusat Pelindo II, Jakarta Utara, Selasa (8/5).
Para Nara sumber yang hadir, antara lain Wakil Ketua umum Kadin Indonesia bidang perdagangan Benny Sutrisno, ketua umum ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi, Direktur Pelindo II Saptono RI, dan perwakilan Kementerian Perindustrian.
Diskusi yang dimulai dari pukul 10.30 wib, berlangsung hangat, pertanyaan peserta dijawab oleh para Nara sumber dengan proporsional dan terarah.
Benny Sutrisno menyatakan, peningkatan ekspor 500 persen melalui digitalisasi dan efisiensi logistik nasional pada dasarnya adalah implementasi dari roadmap yang disusun oleh Kadin bidang perdagangan dan disampaikan ke pemerintah pada TEI 2016.
“Perusahaan yang masuk 500 pendongkrak meliputi eksportir, produsen barang ekspor, pengelola pelabuhan, perbankan, asuransi ekspor, perusahaan pelayaran, dan lain-lain. Diharapkan ada 500 perusahaan yang mengikuti program mendongkrak ekspor 500 persen,” katanya, di Tanjung Priok, hari ini.
Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P. Roeslani dalam press releasenya menyebutkan, peningkatan ekspor Indonesia sebesar 500 persen diharapkan akan dicapai dalam waktu 10-15 tahun mendatang.
“Setidaknya sebesar USD 750 miliar pada tahun 2030 dari peningkatan ekspor 500 persen itu dapat tercapai melalui lima pilar,” kata Rosan.
Lima pilar utama strategi itu, ungkapnya, pertama dengan penambahan jumlah eksportir, lalu diversifikasi produk ekspor, pengembangan pasar ekspor, peningkatan harga ekspor, dan kelima yakni pengembangan ekosistem ekspor.
Rosan juga menyatakan, bahwa efisiensi sistem logistik meliputi, informasi, transportasi, inventori, warehousing, material-material dan packaging diyakini akan memberi kontribusi positif pada peningkatan ekspor nasional.
Dukung Ekspor Nasional
Sementara itu, Saptono RI pada kesempatan tersebut menyatakan dalam rangka mendukung ekspor nasional, pihaknya juga terus berupaya memberikan pelayanan yang prima.
“Kita sudah memperbaiki fasilitas, sistem layanan. Misalnya perbaikan dermaga, alur kolam untuk bisa melayani kapal besar. Namun fasilitas yang eksisting juga perlu kita perbaiki,” kata Saptono.
Selain itu, ungkapnya, pihaknya pun melakukan peningkatan kualitas SDM-nya.
“Terkait optimalisasi penggunaan teknologi informasi, kami telah menerapkan berbagai aplikasi seperti vessel traffic System (vts), marine operating System (MOS), petikemas dan non petikemas terminal operating System. Seluruh pelabuhan yang dikelola IPC menerapkan aplikasi Auto talky, auto Gate serta E-service,” ungkap Saptono.
Saptono juga menyatakan, digitalisasi pelabuhan telah meningkatkan kinerja operasional dan pelayanan. Pada tahun 2017 lalu misalnya, total arus barang mencapai 57 juta ton lebih, atau melampaui target sebesar 5,56 persen. Arus petikemas naik 0,8 persen dari target sebesar 5.144.240 box.
Menurut Saptono, saat ini Tanjung Priok sudah mampu melayani kapal raksasa kapasitas 10 ribu TEUs Engan rute direct call Tanjung Angeles- dan Oakland, Amerika Serikat.
“Penggunaan kapal kontainer berkapasitas besar berdampak terhadap penurunan biaya pengiriman kontainer yang akan ditanggung eksportir maupun importir, sehingga ikut menekan biaya logistik nasional,” ucap Saptono. (***)



























