Salah satu program andalan pemerintahan Indonesia Maju adalah Tol Laut. Saat ini tol laut sudah memasuki jilid 2. Namun, masih saja menuai masalah dalam implementasinya. Bahkan konon, para pengusaha di wilayah Timika Papua menyatakan kurang meminati terhadap angkutan tol laut ini.
Direktur Pelayaran PT Temas Line Tedy Arif Setiawan membenarkan kondisi tersebut. “Mungkin karena saat ini harga swasta (angkutan kapal swasta) cukup bersaing dengan harga tol laut,” kata Tedy saat dihubungi Ocean Week, Selasa siang (18/2).
Kapal tol laut yang dioperatori Temas Line memang bermain di T-11, yakni trayek dari Tanjung Perak-Fak-fak-Kaimana-Timika (Pomako)-Agats-Tanjung Perak. Menurut Tedy, sekarang ini cukup banyak kapal yang melayani rute ke Timika Papua.
Sementara itu, Inocentius Yoga Pribadi, Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) mengatakan sejauh ini hanya ada sekitar tiga pengusaha dan perusahaan yang rutin memasok barang ke Timika memanfaatkan program tol laut yang menggunakan armada kapal PT Temas.
Ketiganya adalah UD Senja Indah, UD Dua Jaya dan UD Amko. “Kebanyakan barang yang mereka datangkan menggunakan tol laut yaitu air mineral, daging ayam, tapi ada juga pupuk dan pakan ternak. Sementara barang-barang lain lebih banyak disuplai oleh kapal niaga karena pelayarannya lebih rutin dan tidak memakan waktu sampai satu bulan baru tiba di Timika,” katanya seperti dikutip dari Antara, baru-baru ini.
Dulu, ungkap Yoga, setiap bulan jatah Timika itu bisa mencapai 70-80 TEUs dan hampir terisi.”Tapi sekarang alokasi untuk Timika berapa, tak pernah kami dapatkan laporannya. Apakah alokasi tol laut kesini termasuk untuk kabupaten Asmat, Yahukimo, kami tidak tahu,” ujarnya.
Karena itu, Disperindag Mimika berharap program tol laut khusus ke Pelabuhan Pomako Timika dievaluasi kembali agar program subsidi angkutan laut ini benar-benar membantu para pengusaha pemasok bahan kebutuhan di Timika dan sekitarnya.
Selain itu, katanya, dengan adanya subsidi angkutan perhubungan laut maka harga barang kebutuhan pokok masyarakat di Timika dan sekitarnya bisa ditekan.
Yoga juga bercerita, bahwa dulu harga daging ayam beku di pasaran Timika bisa sampai Rp27.000 per kilogram, tapi sekarang harganya sudah lebih dari Rp40 ribu per kilogram. “Apakah kenaikan harga ini ada efek dari pengelolaan tol laut, itu semua perlu evaluasi total,” katanya.
Padahal, sebelum ada tol laut tarif pengiriman barang per kontainer dari Surabaya ke Timika antara Rp15 juta hingga Rp20 juta.Namun, setelah ada program tol laut, harga per kontainer turun drastis mencapai rp. 7.500.000.
Beberapa waktu lalu, Direktur Lala Capt. Wisnu Handoko mengungkapkan jika suatu wilayah sudah ramai dengan muatan datang dan balik, tak perlu lagi ada kapal tol laut ke situ. Swasta saja yang menangani. “Kalau sudah ramai ya tak perlu ada tol laut lagi, serahkan kepada swasta, nanti rute tol laut yang kesitu bisa dipindahkan ke wilayah lain,” katanya. (ant/**)






























