Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub R. Agus Purnomo menyatakan bahwa dampak kenaikan biaya pengangkutan (freight) petikemas berpengaruh pada upaya perbaikan kinerja industri pelayaran dan perekonomian nasional.
“Hampir di semua negara harga sea freight dengan kontainer naik signifikan, waktu pelayaran lebih lama, terjadi penumpukan kontainer di pelabuhan, dan bongkar muat di pelabuhan pun lebih lama,” katanya dalam keterangan tertulis, Sabtu, (2/1/21).
Oleh karena itu, Kementerian Perhubungan telah menyiapkan sejumlah langkah untuk membantu kesulitan yang dialami industri pelayaran.
Pertama, jelas Agus, Kemenhub akan mengawasi percepatan proses bongkar muat sehingga petikemas dapat segera didistribusikan dan kapal bisa berlayar kembali.
Kedua, pihaknya akan mempercepat petikemas segera keluar dari pelabuhan sehingga kontainer segera dapat kembali ke depo dengan cepat.
“Agar langkah tersebut lebih efektif, Kementerian Perhubungan berharap kementerian dan lembaga negara terkait, melakukan percepatan yang sama. Kami imbau kementerian terkait bisa mendukung upaya yang dilakukan Kementerian Perhubungan, yaitu mempercepat proses pengeluaran long stay container di pelabuhan,” ungkap Agus.
Adapun operator pelayaran jalur utama (main line operator – MLO) diharapkan, tetap dapat memberi ruang muat dari Indonesia, untuk tujuan ekspor. MLO diharapkan dapat menyediakan petikemas 40 High Cube.
Kemenhub juga meminta perusahaan pelayaran dalam negeri, yang tergabung dalam INSA, mengambil peluang untuk memanfaatkan ruang muat pelayaran luar negeri yang berkurang.
“Kami juga menghimbau perusahaan eksportir melakukan subtitusi dengan memakai peti kemas 20 feet,” tegasnya.
Seperti diketahui, sejumlah negara telah menjalankan kebijakan penutupan (lockdown) lantaran pandemi, sejak awal tahun ini. Hal ini mengakibatkan terjadinya pembatasan pergerakan orang, barang, hingga pergerakan kapal.
Tak sedikit perusahaan pelayaran yang mengurangi kegiatan kapalnya, untuk menekan biaya operasional dan menstabilkan ongkos pengangkutan.
Padahal, industri pelayaran global mulai menggeliat sejak Juli 2020 lalu, ketika Cina mulai menaikkan frekuensi ekspor. Hanya saja, aktivitas di Cina ini tak serta-merta memulihkan industri pelayaran global.
Menurut Dirjen Laut, pengiriman kontainer masih terbatas lantaran sejumlah negara masih menjalankan kebijakan lockdown.
Masalah kelangkaan kontainer 40′ untuk ekspor banyak dikeluhkan para eksportir, sehingga ekspor menjadi terdampak dengan masalah tersebut. (tmp/***)






























