Kinerja operasional IPC TPK Panjang tahun 2025 meningkat dibandingkan tahun 2024.
Data dari perseroan menyebutkan total throughput 2025 tercatat 128 ribu TEUs, sedangkan tahun 2024 tercapai 103 ribu TEUs atau naik 26%.
Manager Area IPC TPK Panjang Anang Subagyono menyampaikan bahwa peningkatan itu disebabkan adanya pasar tambahan ekspor seperti kopi mencapai 16 ribu twenty foot equivalent units (TEUs), Gliserin 4000-an TEUs, Tapioka 1.500 TEUs, Karet 1.400 TEUs, Nanas sebanyak 1.224 TEUs.
“Jika dibandingkan dengan 2024, tren ekspor komoditi itu tumbuh signifikan. Bahkan Gliserin tumbuh 438%, Tapioka naik 600%, Karet 76%, dan Nanas tumbuh 18%,” ujar Anang, di kantornya, Rabu (28/1/2026).
Anang tak menampik jika tantangan selalu ada, karena wilayah TPK Panjang berdekatan dengan Jakarta sebagai pelabuhan terbesar nasional. “Apalagi dengan adanya pembatasan impor dari pemerintah. Makanya kalau bisa kebijakan pemerintah supaya mempermudah, lagi pula mayoritas kebutuhan Empty peti kemas kosong masih harus didatangkan dari Jakarta sehingga shipping line di Panjang terpaksa keluar uang lebih. Disini repo petikemas masih sedikit,” ungkapnya.

Untuk meningkatkan layanan, kata Anang, perseroan pada April 2026 akan mendatangkan satu QCC baru dari China merek ZPMC type post panamax. “Saat ini untuk bongkar muat, ada tiga CC, semua jalan. Tapi dengan adanya penambahan satu QCC pada April, layanan bongkar muat bisa lebih cepat, lebih efisien,” jelasnya.
Peralatan bongkar muat di IPC TPK Panjang didukung lima RTG, 1 swat loader, forklift 2, dan 12 head truk. “Dengan draft 12 meter, kapal besar bisa masuk kesini. Karena itu, kami berharap Panjang bisa menjadi Hub port komoditi untuk Sumatera Bagian Selatan,” kata Anang.
Pelayaran
Anang juga menuturkan bahwa selama ini sejumlah pelayaran masuk ke Panjang. Dan pelayaran MSC menjadi penopang terbesar untuk terminal petikemas Panjang yang memiliki rute ke Middle East (Timur Tengah), Eropa, dan China, selain pelayaran domestik Tresnamuda Sejati, dan sebagainya.
Anang menambahkan bahwa saat ini kegiatan melalui TPK Panjang untuk pengapalan internasional mencapai 40% (direct), sekitar 60% kategori feeder atau pengumpan Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. “Kalau dari sisi jenis komoditinya 70% ekspor dan sisanya impor,” ujarnya.
Komoditi dominan di ekspor melalui TPK Panjang antara lain, kopi, gliserin (turunan sawit), Tapioka, Karet dan olahan Nanas.
Anang juga menceritakan, ada empat perusahaan pelayaran berkontribusi throughput terbesar selain Mediterranean Shipping Company (MSC), ada pelayaran dengan layanan feeder Tanjung Priok Jakarta yakni Pelayaran Tresna Muda Sejati (TMS), Sindo Damai dan CMA CGM.
Ocean Week yang pada Rabu (28/1) berkesempatan meninjau TPK Panjang, terlihat terminal ini telah mengoperasikan 3 QCC di dermaga produksi tahun 2010, 1996, dan 1964.
Selain itu, tampak pula 5 rubber tyred gantry cranes (RTG), 2 Reach Stackeer, 1 Side Loader, 2 Forklift, dan 12 Head Truck.
Menurut Anang, dengan kapasitas terpasang per-tahun 580 ribuan TEUs, dan realisasi throughput pertahun saat ini baru 128 ribuan TEUs, TPK Panjang masih sangat memungkinkan untuk terus menambah market peti kemas agar kedepan dapat berperan sebagai hub port Sumatera Bagian Selatan.
Untuk itu, Pemda setempat agar mampu terus mendorong masuknya investasi di kawasan Industri, lantaran kini baru ada dua industri di Lampung yang orientasi ekspor yakni Gliserin dan Komoditi Olahan Nanas yang aktivitas ekspornya dikapalkan via TPK Panjang.
Integrated Planning & Control
Mengawali tahun 2026, di pelabuhan Panjang juga telah diresmikan wajah baru fasilitas integrated Planning & Control sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam melakukan standarisasi fasilitas dan layanan kepelabuhanan.
Transformasi ini menjadi langkah strategis untuk mendorong peningkatan efisiensi waktu, akurasi perencanaan, serta kinerja operasional terminal secara menyeluruh.
Pembenahan Integrated Planning & Control ini dirancang untuk memperkuat peran pengendalian pelayanan operasional, optimalisasi jadwal sandar kapal, hingga peningkatan kualitas pengambilan keputusan berbasis data.
Seluruh inisiatif tersebut sejalan dengan komitmen IPC TPK Area Panjang untuk turut bersinergi dalam menghadirkan layanan di Pelabuhan yang andal, terstandar, dan berdaya saing.
“Wajah baru Integrated Planning & Control sebagai wujud komitmen terhadap sinergi pelayan di Pelabuhan Panjang yang mendorong semangat baru IPC TPK Panjang dalam menghadirkan layanan yang semakin profesional, terukur, dan berorientasi pada kinerja,” ujar Anang.
Manajemen IPC TPK Panjang menilai bahwa pembaruan fungsi Planning & Control menjadi fondasi penting untuk menjaga momentum pertumbuhan tersebut. Dengan sistem perencanaan dan pengendalian yang semakin terstandar, diharapkan proses operasional menjadi lebih efisien, waktu layanan semakin singkat, serta produktivitas terminal terus meningkat.
“Pembaharuan Integrated Planning & Control ini merupakan bagian dari komitmen IPC TPK Panjang dalam melakukan standarisasi fasilitas dan layanan terminal. Kami ingin memastikan seluruh proses perencanaan dan pengendalian operasional berjalan lebih terukur, responsif, dan efisien. Dengan fondasi ini, kami optimistis kinerja ke depan dapat terus tumbuh dan pelayanan kepada pengguna jasa semakin andal,” ungkap Anang.
Ke depan, IPC TPK Panjang optimistis transformasi ini akan memperkuat daya saing terminal, menjaga kepercayaan pelanggan, serta mendukung pencapaian target kinerja perusahaan secara berkelanjutan.
Sementara itu dalam rangka meningkatkan level of service dan memenuhi kebutuhan fasilitas reefer plug bagi pengguna jasa khususnya produk fresh fruit (frozen shrimp, fresh pineapple, fresh bananas), IPC TPK Panjang telah menyediakan fasilitas reefer plug sebanyak 140 unit.
“Ke depan kami akan terus berupaya meningkatkan performance kinerja melalui penguatan operasional dan layanan, antara lain berkolaborasi dengan customer guna menggali potensi baru untuk meningkatkan volume ekspor dari pelabuhan Panjang,” ujar Anang.
Komunikasi Terus Dilakukan
Kepala Cabang PT Pelayaran Tresnamuda Sejati, Inge Djumadi saat dimintai tanggapannya mengenai layanan IPC TPK Panjang, mengatakan jika service terminal ini sudah bagus dan tak ada masalah.

“Selama menggunakan terminal petikemas Panjang, layanan sudah bagus dan nggak ada masalah. Kalau toh ada kendala, kami selalu berkomunikasi dengan pihak IPC TPK, dan langsung direspon, sehingga masalah dapat segera teratasi,” kata Inge, di Panjang.
Inge yang sudah cukup lama menjadi Kepala Cabang Pelayaran Tresnamuda Sejati yang juga mengageni pelayaran raksasa asing WAN Hai Lines, terus berusaha mengembangkan pasar.
Saat ini, pihaknya sudah menangani
volume petikemas ekspor sebanyak 28.855 box di 2025, dan 20.050 box pada 2024. Sedangkan empty 13.832 box per tahun.
Kapal Tresnamuda Sejati sendiri menurut Inge sudah terjadwal. “Kapal kami sudah window, jadwal Rabu masuk, Kamis keluar,” katanya.
Dia berharap layanan yang sudah bagus tetap bisa dipertahankan, namun kedepan harus lebih baik lagi, apalagi dengan didatangkannya QCC nanti, mesti lebih baik lagi,” ucap Inge. (**)





























