Indonesia National Shipowners Association (INSA) Dumai, Kepulauan Riau mengeluhkan antrean kapal yang akan sandar di pelabuhan Dumai, terutama kapal-kapal curah kering maupun general kargo. Apalagi kapal-kapal untuk kontainer, karena tidak adanya dermaga khusus kontainer.
“Kondisi nya untuk hari ini (Minggu, 27/9/2026), Waiting time sandar kapal-kapal curah kering dan Gencar (general cargo) cukup lama. Lebih dari 1 minggu. Bahkan ada yang sampai 14 hari,” ujar Herman Buchari, Ketua DPC INSA Dumai, kepada Ocean Week, Minggu siang.
Selain itu, katanya, INSA juga mengeluhkan pendangkalan kolam dermaga pelabuhan yang saat ini antara 6-11 meter saja.
Sendimentasi di dermaga pelindo sangat cepat, sementara volume pengerukan kecil.
“Makanya kapal ukuran besar kesulitan berkegiatan di Dumai. Apalagi untuk kontainer, karena tidak ada dermaga khusus kontainer,” ungkap Herman.
Menurut dia, fasilitas untuk bongkar muat kontainer tidak memadai. Bongkar muat kontainer menggunakan mobile crane. Tidak ada CC. Discharging / loading rate kontainer sangat rendah. Jangkauan mobile crane sangat terbatas. “Kapal harus keluar masuk bolak balik ganti posisi sandar,” jelasnya.
Herman juga menyampaikan jika pelayanan kepabeanan khususnya impor sangat lambat.
Lagi pula, ucapnya, lahan punya Pelindo sudah sangat terbatas untuk pengembangan dermaga.
Herman juga menyayangkan sering rusaknya peralatan bongkar muat milik Pelindo. “Peralatan bongkar muat tidak memadai dan sering rusak. Hari Jumat kemarin alat sangat terbatas. Bahkan Pelindo masih sewa alat untuk kegiatan curah kering,” kata Herman.
Kembangkan Dimai
PT Pelabuhan Indonesia/Pelindo (Persero) berencana mengembangkan Pelabuhan Dumai di Riau menjadi Dumai Transshipment Hub untuk memperkuat sistem logistik nasional.
Pelindo menilai bahwa Dumai memiliki lokasi yang sesuai untuk dikembangkan sebagai pelabuhan internasional dan pusat transshipment (alih muat).
Selain itu, Dumai memiliki posisi strategis yang berdekatan dengan Selat Malaka sebagai jalur maritim global.
Konin konsep pengembangan ini bukan untuk menjadi kompetitor langsung terhadap Singapura. Melainkan untuk menampung yang tak bisa dilayani oleh Singapura. (***)






























