Statistik dari Otoritas Pelabuhan Filipina (PPA) menyebutkankan bahwa throughput kargo dari Januari hingga Maret mencapai 77 juta metrik ton (MT) dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya yang tercatat 58,7 juta MT atau meningkat sebesar 31 persen, hal itu didorong oleh lonjakan impor.
Dari total throughput pada kuartal pertama, kargo domestik menyumbang 23,9 juta MT dan kargo luar negeri, 53,3 juta MT, dengan impor sebesar 44,5 juta dan ekspor sebesar 8,8 juta MT.
Throughput kargo terdiri dari total volume kargo yang dibongkar dan dimuat di pelabuhan.
Ini termasuk breakbulk, curah cair, curah kering, kargo kemas, kargo transit dan transshipment.
Volume lalu lintas peti kemas pada kuartal pertama tahun ini naik 5,3 persen menjadi 1,99 juta TEU, dari 1,89 juta TEU pada periode yang sama tahun lalu.
Untuk tahun 2023, PPA menargetkan pertumbuhan volume kargo sebesar 7 hingga 8 persen meskipun terjadi inflasi yang tinggi, lapor Malaya Business Insight.
Bagaimana Indonesia
Sementara itu, BPS mencatat nilai ekspor Indonesia Januari–Maret 2023 mencapai US$67,20 miliar atau naik 1,60 persen dibanding periode yang sama tahun 2022. Sementara ekspor nonmigas mencapai US$63,19 miliar atau naik 0,55 persen.
Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Maret 2023 terhadap Februari 2023 terjadi pada komoditas bahan bakar mineral sebesar US$568,8 juta (14,29 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada lemak dan minyak hewani/nabati sebesar US$260,0 juta (10,53 persen).
Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–Maret 2023 turun 5,40 persen dibanding periode yang sama tahun 2022, demikian juga ekspor hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 5,69 persen, sedangkan ekspor hasil tambang dan lainnya naik 28,10 persen.
Ekspor nonmigas Maret 2023 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$5,67 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,97 miliar dan Jepang US$1,78 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 42,51 persen. Sementara ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa (27 negara) masing-masing sebesar US$4,09 miliar dan US$1,53 miliar.
Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Maret 2023 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$9,19 miliar (13,68 persen), diikuti Kalimantan Timur US$7,95 miliar (11,83 persen) dan Jawa Timur US$6,31 miliar (9,38 persen).
Untuk nilai impor Indonesia Maret 2023 mencapai US$20,59 miliar, naik 29,33 persen dibandingkan Februari 2023 atau turun 6,26 persen dibandingkan Maret 2022.
Impor migas Maret 2023 senilai US$3,02 miliar, naik 25,28 persen dibandingkan Februari 2023 atau turun 13,67 persen dibandingkan Maret 2022.
Impor nonmigas Maret 2023 senilai US$17,57 miliar, naik 30,05 persen dibandingkan Februari 2023 atau turun 4,86 persen dibandingkan Maret 2022.
Peningkatan impor golongan barang nonmigas terbesar Maret 2023 dibandingkan Februari 2023 adalah mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya US$582,9 juta (29,45 persen). Sedangkan penurunan terbesar adalah serealia US$87,6 juta (19,47 persen).
Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Maret 2023 adalah Tiongkok US$15,04 miliar (32,26 persen), Jepang US$4,25 miliar (9,12 persen), dan Thailand US$2,92 miliar (6,26 persen). Impor nonmigas dari ASEAN US$8,07 miliar (17,31 persen) dan Uni Eropa US$3,38 miliar (7,24 persen).
Menurut golongan penggunaan barang, nilai impor Januari–Maret 2023 terhadap periode yang sama tahun sebelumnya terjadi peningkatan pada golongan barang modal US$896,5 juta (10,50 persen) dan barang konsumsi US$125,5 juta (2,73 persen), namun bahan baku/penolong turun US$2.884,0 juta (6,60 persen).
Neraca perdagangan Indonesia Maret 2023 mengalami surplus US$2,91 miliar terutama berasal dari sektor nonmigas US$4,58 miliar, namun tereduksi oleh defisit sektor migas senilai US$1,67 miliar. (***)






























