Enam terminal pelabuhan di Banten akan diintegrasikan dalam satu sistem tata kelola. Kedepannya, pelabuhan Banten diharapkan menjadi terminal non petikemas terbesar di Indonesia.
Keenam terminal itu, yakni Cigading, Ciwandan, Merak Mas, Warnasari, Bojanegara, dan Bandar Bakau Jaya. “Kita kerjasama dengan 6 pelabuhan tersebut, juga akan kita lakukan investasi. Misalnya diantara terminal itu perlu alat bongkar muat, akan kita siapkan. Namun operasional dan sistemnya dari Pelindo II,” kata Hendro Haryono, GM Pelindo II Cabang Ciwandan, Banten kepada Ocean Week, di Cilegon, Selasa sore (23/5).
Kedepan, ujar mantan GM Pelabuhan Tanjung Priok ini, keenam terminal tersebut akan bersatu sebagai Port Integrated Banten. “Itu yang digagas oleh Pak Dirut (ELvy G. Masassya, dirut Pelindo II-red) untuk menyatukan dalam sebuah sistem dan operasional, sehingga nantinya dapat menjadi terminal non petikemas terbesar di negeri ini,” ucapnya dengan ramah.
Untuk saat ini, ungkap Hendro, keenam terminal belum dapat teritengrasikan. “Kami baru jajagi dengan terminal Cigading milik PT Krakatau Bandar Samudera (KBS). Sedangkan untuk Bojanegara masih menunggu proses hukumnya selesai, karena kami sedang proses PK,” kata Hendro.
Hendro menyatakan bahwa target integrasi dengan KBS dapat terealisasi di akhir tahun 2018 ini. Sedangkan dengan terminal Merak Mas, direncanaan di tahun 2019. “Sekarang saya lagi ngawal untuk integrasi dengan KBS,” jelasnya.
Hendro optimistis, dengan total throghput untuk Banten sebesar 40 juta ton (2017), dimasa mendatang kalau terminal-terminal itu sudah terintegrasi akan bisa lebih besar lagi. “Sekarang ini saja, Ciwandan sekitar 8 juta ton, dan Cigading mencapai 18-an juta ton, belum terminal yang lain,” ungkapnya lagi.
Mantan GM Pelindo II Pontianak inipun mengaku prihatin dengan merosotnya kegiatan di pelabuhan Ciwandan selama tiga bulan, sebelum dirinya ditugaskan ke Banten. “Dari Januari, Februari, dan Maret, kapal masuk kesini hanya sekitar 40 call per bulan, padahal normalnya minimal 80 call. Tapi, bersyukur sejak April sudah normal kembali,” kata Hendro.
Dia juga menceritakan bahwa pihaknya saat ini sedang melakukan penataan terhadap kinerja, fasilitas, sistem, dan operasional. Misalnya, tahun 2018 ini akan menambah dermaga sepanjang 400 meter. “Kami juga terus melakukan komunikasi harmonis kepada semua pihak terkait. Alhamdulillah berjalan lancar dan baik,” tuturnya bersemangat.
Seperti diketahui, bahwa Ciwandan merupakan terminal terbesar nomor dua setelah Cigading. Trafik barang melalui pelabuhan Ciwandan yang diperoleh Ocean Week menyebutkan, pada tahun 2017 tercatat 5,285 juta ton, menurun dibandingkan 2016 yang mencapai 6,480 juta ton.
Arus barang terbesar dilima tahun terakhir terjadi pada tahun 2014, mencapai 7,243 juta ton, meroket dibandigkan tahu 2013 yang hanya 4,684 juta ton. Sementara pada tahun 2015 tercatat 6,522 juta ton.
Sedangkan trafik kapal selama lima tahun terakhir, terbanyak juga di tahun 2014 mencapai 2,553 unit. Lebih banyak dibandingkan 2013 yang hanya 1,978 unit kapal. Sementara di tahun 2017 hanya ada 302 unit, separuhnya dari 2016 yang tercatat 617 unit. Padahal di tahun 2015 mencapai 1,864 unit.
Hendro berharap dengan terintegrasi keenam terminal, dampak yang akan ditimbulkan setelah berjalan, geliat ekonomi di bidang industri akan semakin tumbuh. Selain itu, distribusi barang juga menjadi terpusat, dan terkontrol. (***)



























