Terminal-terminal petikemas di pelabuhan Tanjung Priok berencana menerapkan Terminal Booking System (TBS) per 17 Agustus 2025.
Implementasi TBS tersebut mendapat sorotan dari pelaku usaha logistik di pelabuhan Tanjung Priok. “TBS bagus, tapi perlu disiapkan buffer area atau tempat menunggu sementara untuk trucking, serta kesepakatan service level agreement/service level guaranted (SLA/SLG) sebelum TBS diterapkan di pelabuhan Priok,” kata Adil Karim, Ketua ALFI Jakarta saat dihubungi Ocean Week, Sabtu.
Menurut Adil, buffer area baik disisi timur maupun barat pelabuhan Priok sangat perlu. “Tetapi buffer itu jangan dijadikan sebagai tempat parkir Truk tetapi digunakan hanya untuk truk menunggu sementara. Jadi TBS itu juga mesti mengakomodir kepentingan dunia usahanya, bukan kepentingan pelabuhan semata,” ungkapnya.
Kata Adil, sosialisasi TBS yang dilakukan selama ini di Tanjung Priok hanya bersifat mengatur keluar masuk truk di Terminal. Namun tak mengakomodir kepentingan pelaku usahanya pemilik barang), perusahaan logistik maupun trucking.
“Mengatur TBS itu (jangan dikaitkan) dengan billing terminal. Lalu bagaimana pola pengaturannya, berapa shif dalam 24 jam dan berapa pula total truk setiap shif,” tanyanya.
Adil mewanti-wanti supaya penerapan TBS ini tak menimbulkan masalah baru di pelabuhan Priok. “Niatnya baik untuk efisiensi, kelancaran, tapi kalau ngaturnya tak tepat, bisa-bisa justru masalah yang timbul,” katanya.
Seperti diketahui bahwa saat acara coffe morning yang digelar di Museum Maritim, di Tanjung Priok baru-baru ini, yang dihadiri para stakeholder, dibahas mengenai layanan dan penataan lalu lintas kendaraan untuk meningkatkan layanan kepada pengguna jasa.
Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Yandri Trisaputra menyampaikan bahwa perusahaan (Pelindo) terus melakukan improvement dalam layanan, melakukan evaluasi secara berkala serta upaya – upaya lainnya dalam penataan lalu lintas kendaraan demi meningkatkan layanan kepada pengguna jasa.
Selain penataan lalu lintas di Pelabuhan, acara ini juga menjadi wadah sosialisasi sekaligus diskusi mengenai rencana implementasi Terminal Booking System (TBS) Tahap 1.
TBS hadir sebagai salah satu upaya pengendalian trafik kendaraan khususnya truk di area pelabuhan, keterbatasan lahan parkir, hingga ketidakseimbangan jumlah truk yang datang dalam waktu bersamaan. Melalui sistem TBS ini, para pengguna jasa dapat memilih slot waktu kedatangan truk sesuai kapasitas layanan terminal.
Sementara itu, Kepala KSOP Utama Tanjung Priok, Heru Susanto menyambut baik perluasan sistem digital ini.
Mantan KSOP Balikpapan itu menyebut penerapan TBS sebagai langkah strategis dalam mendukung digitalisasi logistik nasional, sekaligus bagian dari implementasi Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK).
Dalam pemaparannya mengenai TBS, Rino Wisnu Putro menjelaskan bahwa TBS akan mulai diberlakukan secara bertahap, di mana prinsip utamanya truck booking sebelum ke pelabuhan, slot waktu booking terbagi dalam 3 slot dalam 1 hari dan Tidak ada pinalti pelarangan bila truck datang lebih cepat atau lebih awal.
Target utama TBS tahap 1 ini yaitu mengedukasi pengguna jasa petikemas di pelabuhan priok untuk melakukan booking sebelum truck menuju pelabuhan, mendapatkan data behaviour pengguna jasa truck peti kemas sehingga dapat menjadi evaluasi dan peningkatan pada sistem TBS tahap berikutnya.
Selain itu, implementasi sistem yang di rencanakan go live pada tanggal 17 Agustus 2025 ini juga diharapkan akan berdampak positif terhadap peningkatan produktivitas, operasional pelabuhan yang efisien dan pengurangan emisi kendaraan di area pelabuhan, ujar Rino.
Dalam sambutannya EGM Pelindo Regional Tanjung Priok Yandri Trisaputra juga turut menyampaikan komitmen perusahaan untuk terus melakukan peningkatan layanan khususnya penataan lalu lintas kendaraan.
Coffee Morning ini juga menjadi momen silaturahmi antara Pelindo dengan para stakeholder, sekaligus membuka ruang masukan dan diskusi agar layanan jasa kepelabuhanan dan implementasi TBS ke depannya dapat berjalan optimal.
TBS di Tanjung Perak
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur (Jatim) Sebastian Wibisono menyatakan belum banyak mengetahui terhadapq implementasi terminal booking system (TBS) ini, karena masih dalam tahapan sosialisasi.

“Saya belum tahu pemberlakuan TBS di lapangan, apakah semakin baik atau sebaliknya. Yang jelas untuk di Surabaya, terminal-terminal petikemas disini memiliki pintu keluar masuk masing-masing, sehingga memudahkan truk pengangkut barang ke terminal,” ungkapnya.
Dia mengatakan bahwa di TTL penerapan TBS tak masalah, karena fasilitas dan akses jalan baik, untuk di TPS juga begitu. “Saya belum tau untuk Nilam dan Berlian, tapi semoga bisa berjalan bagus,” katanya.
Sebastian menambahkan, bahwa implementasi TBS di Tanjung Perak informasinya diberlakukan penuh pada Oktober atau November mendatang. “Prinsipnya ALFI Jatim mendukung terhadap program pemerintah, karena setiap program pasti untuk kebaikan bersama,” katanya.
Untuk diketahui bahwa PT Terminal Teluk Lamong (TTL) secara resmi meluncurkan Terminal Booking System (TBS) di Terminal Petikemas (TPK) Nilam dan TPK Berlian, Kamis (7/8). Sistem ini sebelumnya telah sukses diterapkan di TPK Teluk Lamong sejak 11 Juni 2025, dan terbukti meningkatkan efisiensi operasional dengan pengaturan arus truk yang lebih terencana.

Peluncuran ini merupakan kelanjutan dari rangkaian sosialisasi yang dilakukan pada 30 Juli 2025, dengan melibatkan terminal, perusahaan pelayaran serta pengguna jasa lainnya. Dalam kegiatan tersebut, TTL memaparkan tahapan implementasi TBS, termasuk manfaat sistem dalam mengurangi kepadatan dan meningkatkan ketertiban operasional di pelabuhan.
Melalui penerapan TBS, truk yang akan masuk ke terminal wajib melakukan pemesanan slot waktu kedatangan (booking time slot) yang telah dibagi ke dalam enam sesi per hari, masing-masing berdurasi empat jam. Sistem ini akan membantu menyesuaikan kapasitas layanan terminal dengan volume kedatangan truk, sehingga kemacetan dapat diminimalisir dan waktu layanan menjadi lebih terukur dan efisien.
Selain itu, TPK Nilam dan TPK Berlian juga telah menggunakan Integrated Billing System (IBS) untuk mendukung proses transaksi yang lebih terintegrasi dan transparan. Dengan penggunaan IBS, proses administrasi menjadi lebih cepat, akurat, dan efisien bagi seluruh pemangku kepentingan.
Kepala KSOP Tanjung Perak, Agustinus Maun menyatakan bahwa penerapan Terminal Booking System (TBS) di TPK Nilam dan Berlian merupakan langkah penting dalam perluasan digitalisasi logistik nasional, khususnya di kawasan pelabuhan. “inisiatif ini mendukung efisiensi layanan dan merupakan bagian dari aksi Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK), menyusul keberhasilan implementasi STID yang kini telah mencatat lebih dari 11.000 truk aktif” ujar Agustinus.
Beliau mengapresiasi kinerja Badan Usaha Pelabuhan dan operator terminal yang telah menyiapkan infrastruktur dan SDM untuk mendukung implementasi TBS. Diharapkan sistem ini dapat mempercepat dan mempermudah layanan secara transparan dan efisien.
Di sisi lain, peluncuran TBS di TPK Nilam dan TPK Berlian kali ini berjalan lebih lancar karena para driver sudah cukup familier dengan sistem ini setelah lebih dulu diterapkan di TPK Teluk Lamong sejak Juni 2025. Hal ini turut membantu proses adaptasi dan penerapan sistem di lapangan.
“TTL akan terus melakukan evaluasi atas hasil implementasi TBS ini, guna memastikan efektivitas sistem sekaligus melakukan penyempurnaan yang diperlukan. TTL berkomitmen untuk terus memberikan layanan terbaik bagi seluruh pengguna jasa melalui inovasi dan peningkatan berkelanjutan,” kata David Pandapotan Sirait, Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong. (***)






























