Indonesia National Shipowners Association (INSA) pada hari Sabtu (9/8/2025), merayakan ulang tahun ke 58. Banyak sudah kontribusi organisasi yang lahir pada tahun 1967 ini terhadap perkembangan dan kemajuan sektor pelayaran di negeri ini.
INSA berperan aktif dalam memperjuangkan kedaulatan wilayah dan ekonomi maritim Indonesia, serta mewakili kepentingan Indonesia di berbagai forum maritim internasional.
Cabotage menjadi salah satu capaian INSA untuk membentengi eksistensi usaha pelayaran di dalam negeri. Bagaimana liku-liku dan kontribusi asosiasi ini, serta kiprahnya di dalam usaha ini, Ocean Week (OW) berkesempatan mewawancarai Carmelita Hartoto (CH), Ketua Umum DPP INSA, berikut petikannya.
OW : Selama 58 tahun perjalanan INSA , apa capaian yang paling ibu lihat sebagai sebuah keberhasilan buat usaha pelayaran domestik ?
CH : Sebenarnya saya tidak ingin membuat penilaian sendiri, biarlah pihak lain yang menilai. Kalau berbicara tentang keberhasilan pelayaran domestik, sudah klasik bicara menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Akan tetapi bagi kami, mempertahankan dari usaha relaksasi azas cabotage adalah suatu tantangan yang sangat berat. Dan kami terus mengawal dan mengajak semua stakeholder, legislative, K/L dan para diplomat kita untuk bersama sama menjaga kedaulatan transportasi kita. Bukan hanya Laut, tapi juga Udara dan Darat. Kami juga senang bahwasanya satu-satunya organisasi kita ini berhasil kembali diakui dan disegani di regional dan international.
OW : Bagaimana menurut INSA mengenai perusahaan pelayaran nasional yang dinilai semakin barat, bukan makin maju ?
CH : Ya, memang kita masih banyak menghadapi tantangan didalam negeri sendiri. Bagaimana sulitnya kita mendapatkan pendanaan yang efficient dengan tenor yang panjang untuk peremajaan armada-armada kita. Usaha-usaha untuk memasukkan dalam pendanaan infrastruktur masih terus kami suarakan.
OW : Sebagai tokoh pelayaran, bagaimana supaya perusahaan pelayaran dalam negeri bisa tetap eksis, dan mendunia seperti era 70-an ?
CH : Ini memang mimpi yang sudah lama sekali kita idamkan semua. Kendala untuk menaikkan daya saing selalu terbentur di pendanaan. Di satu sisi, muatan komoditi container sangat-sangat bersaing dalam volume sehingga banyak MLO melakukan merger. Untuk itu kami melihat bahwa Beyond Cabotage untuk komoditi unggulan kita, merupakan celah yang bisa kita lakukan. Oleh karenanya kita berjuang agar batasan DWT beyond Cabotage bisa dinaikkan tonnagenya. (***)






























