Riuh aktivitas pelabuhan di Batam tak pernah benar-benar reda. Sejak pagi hingga senja, kapal cepat penumpang hilir mudik mengangkut penumpang menuju Singapura dan Malaysia. Di balik mobilitas tinggi itu, ada satu hal yang terus diperkuat yakni keselamatan pelayaran.
Hal tersebut menjadi benang merah dalam kegiatan Sosialisasi Keselamatan Kapal Cepat Penumpang yang digelar di Batam, baru-baru ini.
Forum ini bukan sekadar pertemuan formal, melainkan ruang temu regulator, badan klasifikasi, hingga pelaku usaha pelayaran untuk menyatukan langkah dalam menjaga standar keselamatan di laut.
Acara tersebut turut dihadiri oleh Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, bersama jajaran regulator, BKI, dan para pemangku kepentingan pelayaran lainnya.
Di tengah dinamika pelayaran lintas negara yang kian padat, kapal cepat penumpang memang menghadirkan tantangan tersendiri. Karakteristiknya yang berbeda dari kapal konvensional membuat aspek keselamatan tidak dapat disamakan begitu saja.
Direktur Operasi Bisnis Klasifikasi PT BKI (Persero), Arief Budi Permana, menyoroti hal tersebut. Menurutnya, kapal cepat memiliki tingkat risiko operasional yang lebih tinggi sehingga membutuhkan pendekatan khusus dalam penerapan standar teknis.
“Sebagai badan klasifikasi nasional, BKI berperan memastikan kapal-kapal tersebut laik berlayar. Proses klasifikasi dan sertifikasi menjadi gerbang awal untuk menjamin setiap kapal telah memenuhi standar keselamatan yang ditetapkan,” ujar Arief.
Namun, di lapangan, persoalan tak selalu sesederhana regulasi di atas kertas. Salah satu tantangan yang mengemuka adalah menyelaraskan aturan nasional, standar teknis klasifikasi, dan praktik operasional sehari-hari.
Di sinilah forum ini menemukan relevansinya. Diskusi yang terbangun tidak hanya membahas aturan, tetapi juga mencari titik temu agar keselamatan tetap menjadi prioritas tanpa menghambat kelancaran operasional pelayaran.
Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan mampu menghapus ruang multitafsir dalam proses sertifikasi kapal. Dengan kesepahaman yang lebih solid, setiap pihak memiliki acuan yang jelas dan terukur dalam menjalankan perannya.
Pemilihan Batam sebagai lokasi pun bukan tanpa alasan. Kota ini merupakan salah satu simpul utama pelayaran kapal cepat di Indonesia, dengan rute internasional yang sibuk dan intensitas perjalanan yang tinggi. Di tempat inilah berbagai persoalan keselamatan dapat dilihat secara nyata dan dibahas langsung oleh para pemangku kepentingan.
Pada akhirnya, upaya memperkuat keselamatan kapal cepat bukan hanya soal kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga tentang menjaga kepercayaan publik: bahwa setiap perjalanan laut, secepat apa pun lajunya, tetap mengedepankan keselamatan sebagai prioritas utama. (batampos/**)




























