Singapura mempercepat pembangunan Tuas Port, megaport terbesar di dunia yang akan menjadi pusat konsolidasi seluruh operasi peti kemas negara tersebut dalam satu terminal otomatis pada dekade 2040-an.
Pelabuhan Mega Tuas (Tuas Port) adalah Mega proyek pelabuhan otomatis terbesar di dunia yang terletak di barat daya Singapura.
Dibangun dalam empat fase hingga tahun 2040-an dengan investasi US$ 20 miliar, pelabuhan ini dirancang untuk mengonsolidasikan seluruh terminal kontainer lama Singapura dan mencapai kapasitas 65 juta TEUs per tahun.
Pelabuhan Tuas mengambil alih aktivitas logistik secara bertahap. Seluruh operasi di Terminal Tanjong Pagar, Keppel, dan Brani dipindahkan ke Tuas, sementara operasional di Terminal Pasir Panjang akan menyusul dikonsolidasikan pada tahun 2040.
Pelabuhan ini beroperasi hampir sepenuhnya otomatis. Fasilitasnya didukung oleh kecerdasan buatan, ribuan kendaraan berpemandu otomatis (AGV) bertenaga baterai, dan derek lapangan otomatis tanpa pengemudi.
Memiliki panjang dermaga 26 kilometer dengan kedalaman air yang mampu menampung kapal-kapal kargo terbesar di dunia.
Mengutip Clickpetroleoegas, bahwa proyek raksasa ini dirancang untuk mencapai kapasitas hingga 65 juta TEUs per tahun, jauh di atas volume saat ini yang mencapai sekitar 44,66 juta TEUs pada 2025.
Terminal ini juga diproyeksikan mampu melayani kapal kontainer raksasa berukuran hingga 450 meter.
Pengembangan pelabuhan dilakukan dengan reklamasi besar-besaran di laut, termasuk pembangunan 448 struktur beton bawah laut (caisson) berbobot sekitar 15.000 ton per unit. Struktur tersebut membentuk tanggul laut sepanjang lebih dari 17 kilometer dan menghasilkan sekitar 681 hektare lahan baru dari laut.
Secara keseluruhan, Tuas Port akan memiliki luas sekitar 1.337 hektare dan 66 dermaga ketika seluruh tahap pembangunan selesai.
Sementara itu, otoritas pelabuhan Singapura menyebut proyek ini sebagai salah satu rekayasa pesisir terbesar yang pernah dilakukan, sekaligus fondasi utama modernisasi sektor logistik nasional.
Sejak tahap awal, Tuas Port dirancang sebagai terminal berteknologi tinggi dengan sistem otomatisasi penuh.
Truk tanpa awak, crane listrik yang dikendalikan jarak jauh, serta sistem logistik berbasis kecerdasan buatan akan menjadi tulang punggung operasional.
Infrastruktur pelabuhan juga didukung jaringan 5G privat, sensor terintegrasi, serta sistem digital yang menghubungkan seluruh proses pergerakan kontainer secara real-time.
Otoritas Singapura menyatakan bahwa otomatisasi ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, menekan emisi, dan mengalihkan tenaga kerja ke fungsi teknis bernilai lebih tinggi.
Pembangunan dilakukan dalam beberapa tahap sejak 2021, dengan target awal kapasitas 20 juta TEUs pada 2027 setelah fase pertama rampung.
Lahan yang ditinggalkan akan dikembangkan menjadi kawasan perkotaan baru dalam proyek Greater Southern Waterfront yang mencakup hunian, bisnis, dan ruang publik.
Dengan proyek ini, Singapura memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat logistik maritim utama dunia yang berada di jalur perdagangan strategis Asia, Eropa, dan Timur Tengah.
Pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana dengan Batam yang konon digadang-gadang menjadi transhipment internasional, apakah mungkin?.
Pengamat kepelabuhanan Capt Nasution mengatakan jika Batam dikembangkan sebagai transhipment internasional, paling hanya mengambil sebagian pasar kapal, bukan menjadi pesaing Singapura. (**)




























