Sepakat terjang Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dinilai mulai meresahkan pelaku usaha di pelabuhan.
Sebab, Menteri Keuangan sudah dengan berani mengobok-obok pelabuhan. Petikemas impor status jalur hijau diperiksa secara acak seperti petikemas kategori jalur merah.
Misalnya pada waktu Menkeu melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, beberapa waktu lalu yang membongkar petikemas impor jalur hijau.
Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur merespon kalau kegiatan tersebut sebagai gebrakan positif. “Kami melihat sasarannya bukan pelaku usaha, tapi Pak Purbaya ingin memastikan orangnya (bea dan cukai – red) sudah melayani dengan benar apa belum,” kata Ketua ALFI Jawa Timur, Sebastian Wibisono, Kamis (23/10).
Menurut Wibi, teknologi informasi dalam pelayanan kepabeanan sekarang ini sudah canggih. “Dokumen dan barang bisa dicek. Kalau ada penyimpangan, tidak mungkin dilakukan sepihak dari pelaku usaha, tapi pasti ada oknum yang terlibat,” katanya.
Dia menyampaikan, bahwa di Surabaya terdapat dua terminal petikemas internasional, yakni Terminal Petikemas Surabaya (TPS) dan Terminal Teluk Lamong (TTL).
Aktifitas di kedua terminal petikemas tersebut cukup bagus. Sebagai contoh, arus petikemas impor di TPS selama Januari – September 2025 tercatat di atas 563 ribu TEUs dari total arus petikemas internasional lebih dari 1,1 juta TEUs. Sementara di TTL arus petikemas impor sekitar 7.500 TEUs. “Kami optimis saja, Surabaya aman,” ungkap Wibi. (**/fail)




























