Indonesian National Shipowner’s Association (INSA) Batam menyatakan siap mensupport penggunaan Crane di pelabuhan BatuAmpar yang direncanakan per 1 Juni 2023 untuk percepatan layanan bongkar muat petikemas.
“Kami pelayaran (INSA) sangat mendukung percepatan layanan bongkar muat kontainer di BatuAmpar menggunakan STS Crane yang baru didatangkan BP Batam,” ujar Saptana, Ketua INSA Batam saat dihubungi Ocean Week, per telpon.
Dia berharap dengan menggunakan crane, bongkar muat petikemas bisa lebih cepat, efisien, dan biaya logistik dapat berkurang. “Harapannya bongkar muat petikemas bisa lebih murah, lebih cepat, dan aman,” ungkapnya.
Sebelumnya, Direktur Badan Usaha Pelabuhan BP Batam, Dendi Gustinandar mengatakan BP Batam siap mengoperasikan satu unit Ship to Shore (STS) asal Korea yang didatangkan pada April lalu, mulai 1 Juni 2023 ini.
BP Batam juga telah melakukan Sosialisasi Penyesuaian Proses Bisnis Kegiatan Bongkar Muat Kontainer Terminal Umum BatuAmpar, kepada para pengguna jasa.
Dengan dioperasikannya STS Crane ini, maka pelayanan bongkar muat peti kemas di Terminal Umum BatuAmpar akan menjadi lebih cepat dan efisien.

“Saat ini, BP Batam berupaya mewujudkan Pelabuhan Batuampar yang lebih modern dengan menggunakan teknologi terkini untuk mempercepat layanan bongkar muat peti kemas,” tegas Dendi.
STS Crane dengan bobot 760 ton ini, memiliki kemampuan bongkar muat hingga 35 box kontainer yang dapat mempersingkat waktu tunggu atau dwelling time di Terminal Umum BatuAmpar yang pada gilirannya dapat berimplikasi pada penurunan beban biaya logistik.
“Dengan alat bongkar muat konvensional, kecepatan bongkar muat peti kemas dalam 1 jam hanya bisa memindahkan 4-8 box kontainer, namun dengan STS Crane yang baru ini kapasitas bongkar muatnya meningkat hingga 35 box kontainer per jam,” ungkapnya.
Dendi menyampaikan, dengan dimulainya pengoperasian STS Crane ini oleh BP Batam, maka proses bisnis Terminal Umum BatuAmpar secara bertahap akan dilakukan beberapa penyesuaian.
“Jika sebelumnya, kegiatan bongkar muat peti kemas di Terminal Umum BatuAmpar dilakukan oleh Perusahaan Bongkar Muat, maka setelah STS Crane milik BP Batam beroperasi, maka kegiatan bongkar muat peti kemas dilakukan oleh pegawai BP Batam,” jelas Dendi.
Penyesuaian proses bisnis ini juga berlaku untuk pengurusan proses administrasi keuangan dan operasional bongkar muat peti kemas yang saat ini dikoordinir oleh BP Batam.
Dengan dioperasikannya STS Crane oleh BP Batam, maka seluruh proses bongkar muat peti kemas baik domestik maupun internasional di Terminal Umum Batuampar akan diprioritaskan menggunakan alat bongkat muat asal Korea ini.
Mengenai tarif bongkar muat peti kemas menggunakan STS Crane ini tetap mengacu pada Peraturan Kepala BP Batam yang berlaku. (***)




























