Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta menterinya menghitung ulang harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Hal ini menyusul lonjakan harga minyak dunia yang jatuh ke level USD 30 per barel.
Jokowi menyampaikan hal itu dalam rapat terbatas mengenai penyesuaian harga gas untuk industri dan juga BBM non-subsidi yang digelar melalui video conference, Rabu (18/3).
“Saya minta dikalkulasi, dihitung dampak dari penurunan ini pada perekonomian kita. Terutama BBM baik BBM bersubisidi maupun BBM non subsidi,” kata Presiden Jokowi.
Presiden juga minta agar jajaran menterinya menghitung berapa lama penurunan harga minyak dunia berlangsung dan perkiraan harga ke depan.
“Kita harus merespons dengan kebijakan yang tepat dan kita juga harus bisa memanfaatkan momentum dan peluang ini, dari penurunan minyak ini untuk perekonomian negara kita,” ungkapnya.
Seperti diketahui, harga minyak dunia semakin terperosok. Mengutip market data BBC, Selasa (17/03), harga minyak Brent (Brent Crude Oil) masih berada di posisi USD 30,72 per barel dan minyak WTI (West Texas Intermediate Crude Oil) masih dipatok di angka USD 29,92 per barel.
Anjloknya minyak dunia disebabkan karena perang dingin antara Arab dan Rusia, dimana Arab mencoba mengambil kembali pasar dengan mengguyur pasokan minyak mentah gila-gilaan.
Ditambah lagi adanya wabah pandemi Corona yang semakin meluas, tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengendalikan gejolak harga ini.
Sementara itu Menteri Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan menyatakan bahwa terlalu awal untuk kita memprediksi karena kita belum tahu. “Kalau nanti Saudi dan Rusia damai, harga minyak naik lagi ke atas. Nanti terlalu cepat kita antisipasi itu,” ujar Luhut.
Sedangkan Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Resiko PT Pertamina (Persero) Heru Setiawan sebelumnya mengatakan masih perlu berkoordinasi terkait dampak penurunan harga minyak dunia.
“Harga BBM turun? Wah itu masih jauh, kita masih pelajari, tapi yang pasti tidak semudah itu perlu koordinasi dengan pemangku kepentingan, seperti Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan ,dan pihak lain yang terdampak, ada formulanya itu,” katanya seperti dilansir Antara, belum lama ini.
Pengamat ekonomi energi dari UGM Fahmy Radhi menyarankan Pertamina segera menurunkan harga BBM karena harga minyak dunia turun drastis sampai di bawah US$ 50 per barel. Hal ini terjadi setelah OPEC berupaya menurunkan produksi hingga 1,5 juta barel, tetapi Rusia yang non OPEC menolaknya.
Sementara itu Goldman Sachs Group Inc. memperingatkan harga minyak bisa turun ke level US$ 20 per barel seiring dengan perang harga yang terjadi antara Arab Saudi dan Rusia. Harga tersebut merupakan posisi ongkos produksi untuk beberapa negara produsen minyak. (ant/**)





























