Isu wabah Corona yang sudah masuk Indonesia membuat dunia usaha khawatir, termasuk usaha pelayaran di Surabaya.
Apalagi jika sampai muncul kebijakan lockdown sebagaimana kebijakan yang diambil oleh Malaysia dan banyak negara lainnya.
“Kita sangat tidak menginginkan lockdown di pelabuhan. Untuk mengantisipasi tidak di lockdown kami bersama instansi terkait memberlakukan standard penanganan bagi siapa saja yang masuk di area lini 1. Jika lockdown saya rasa sudah pasti semua akan ada stimulus dari pelindo,” kata Steven H Lesawengan, Ketua DPC INSA Surabaya kepada Ocean Week, Rabu pagi (18/3).
Menurut Steven, bahwa pada Selasa kemarin (17/3), pihaknya (INSA) sudah melakukan rapat dengan pihak Pelindo untuk minta beberapa stimulus, misalnya storage, term of payment kalau bisa diperpanjang. Tapi untuk CHC masih belum.
Menjawab pertanyaan mengenai kondisi bisnis pelayaran khususnya di Surabaya, Steven mengungkapkan kalau kondisi usaha pelayaran di Surabaya dan Jakarta dinilainya hampir sama. Bahkan di seluruh indonesia tak jauh berbeda, sebelum ada virus corona liftingnya sudah turun karena pengaruh economic global. “Kalau wabah corona akan dirasakan 1 bulan lagi,” ungkapnya.
Karena itu, Steven sekali lagi mengatakan tak ingin ada lockdown di pelabuhan.
Sayang, ketika apa yang menjadi aspirasi INSA Surabaya dikonfirmasikan ke Dirut Pelindo III Doso Agung, Ocean Week diminta untuk menanyakan ke Direktur Operasi Pelindo III Putut Sri Mulyanto. “Ke Putut aja Mas,” jawabnya singkat.
Dan saat Ocean Week menanyakannya kepada Putut, dia menyatakan bahwa isu lockdown tidak benar.
“Ndak benar info lock down pelabuhan, kami tetap akan operasi 24-7,” ujarnya.

Putut juga mengungkapkan kalau soal insentif, dia mengaku bahwa pihaknya sudah memberikan untuk kemudahan pelayanan penumpukan petikemas ekspor dan impor. Termasuk untuk pelayanan tol laut juga sudah diberikannya.
“Usulan Insentif tambahan lain memang telah disampaikan oleh temen temen INSA, tentu kami perhatikan, untuk dipelajari dan diskusikan lebih lanjut jalan keluarnya,” tegas Putut.
Steven memprediksi jika ada penerapan lockdown di pelabuhan diyakini nilai importasi Indonesia akan bisa turun hingga 60%.
“Apalagi, sesuai lifting performance kami, untuk kargo in out atau dari dan ke Surabaya, hampir 70 persen berasal dari China. Kondisi ini akan terasa dalam 1 atau 2 bulan ke depan,” kata Stenven.
Steven menambahkan, area pelabuhan di Tanjung Perak masih terbilang aman dari maraknya wabah Covid-19. Sebab Tanjung Perak telah menjalankan standard operational procedure (SOP) pencagahan virus yang bermula dari Wuhan, Cina tersebut. (***)





























