Truk otonom atau truk tanpa sopir bakal menjadi ancaman terhadap para sopir dan pebisnis angkutan truk di Indonesia, jika para pengelola pelabuhan menerapkan truk yang dikendalikan oleh teknologi itu dioperasikan di pelabuhan-pelabuhan disini. Namun di pelabuhan China sudah mengoperasikan truk otonom itu.
Seperti dikutip dari China Daily, sebanyak dua puluh lima truk tanpa sopir atau disebut pula dengan truk otonom sudah memulai debutnya di pelabuhan Tianjin, China. Truk otonom ini menampilkan kemajuan teknologi yang dikembangkan secara independen oleh perusahaan-perusahaan domestik.
Truk-truk tersebut, yang dikembangkan bersama oleh perusahaan domestik Sinotruk dan Truck Tech, yang telah menyelesaikan operasi pengujian hingga 30.000 jam di pelabuhan Tianjin, menangani pengiriman kontainer hingga 8.000 kali.
Pada tahun 2018 lalu, Sinotruk telah menandatangani perjanjian dengan Pelabuhan Tianjin untuk pengembangan dan pengoperasian pilot truk penggerak diri cerdas di pelabuhan dan truk listrik tanpa pengemudi pertama mulai beroperasi pada bulan April tahun itu.
Menurut siaran pers dari pelabuhan Tianjin, dalam dua tahun terakhir, kemajuan truk tanpa sopir tersebut telah memungkinkan pelabuhan Tianjin untuk meningkatkan efisiensi dan memotong biaya operasi, serta pengeluaran energi masing-masing sebesar 25 persen dan 50 persen.
“Pada tahun 2020 ini, pelabuhan akan mempercepat pembangunan pelabuhan cerdas, dengan melanjutkan penerapan teknologi seperti 5G,” kata Chu Bin, presiden Tianjin Port Group dalam siaran persnya.
Bagaimana dengan pelabuhan di Indonesia, tidakkah akan juga mencoba alih teknologi, namun pasti akan mendapat perlawanan, terutama dari para pengusaha truk di negeri ini. Karena dampak yang ditimbulkan dengan truk tanpa sopir tersebut sangat besar, pastinya bakal menambah pengangguran. (***)






























