Terminal Petikemas Semarang (TPKS) terus melakukan pengembangan, apalagi setelah tahun 2025 lalu throughput nya tembus 1 juta TEUs.
Widyas Wendra, Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas menyampaikan bahwa pencapaian satu juta TEUs tersebut merupakan hasil dari transformasi operasional dengan tema unlock capacity yang dilakukan di awal tahun 2025 dengan cara optimalisasi peralatan dan fasilitas baik dari sisi seaside maupun landside.
“Konsistensi dalam peningkatan berkelanjutan atas strategi perencanaan dan pengendalian operasi (penguatan fungsi P&C). Selain upaya tersebut, penyelarasan koordinasi dan kolaborasi dengan para pemangku kepentingan juga terus dilakukan di tengah tantangan dinamika arus barang serta berbagai tantangan kondisi eksternal,” ujarnya kepada Ocean Week, Kamis, melalui WhatsApp nya.
Karena pencapaiannya tersebut, ungkapnya, tahun 2026 ini TPKS ditarget bisa mencapai 1,1 juta TEUs.
Wendra (panggilannya) juga menyampaikan jika TPKS akan mendatangkan dan menambah peralatan untuk mendukung kinerja operasional. “Akan ada 4 CC sesuai dengan program dan akan datang di semester 1 tahun 2026,” ungkapnya.
Ocean Week yang hari Kamis berkesempatan ke TPKS, melihat langsung bahwa terminal petikemas di Semarang ini sudah banyak mengalami perubahan.
Tumpukan kontainer di container yard (CY) terlihat cukup menggunung. Lalu lalang truk mengangkut petikemas cukup padat.
Wendra membenarkan jika CY bakal dilakukan peninggian, termasuk dermaga. Nantinya dermaga terminal petikemas akan diperpanjang 275 meter (dermaga samudera) yang rencananya Februari tahun 2026 dipergunakan.
Wendra juga mengatakan bahwa pengembangan TPKS difokuskan pada penguatan kapasitas, modernisasi peralatan dan fasilitas, peningkatan efisiensi, dan akselerasi digitalisasi layanan yang terintegrasi.
Arus Petikemas Tumbuh
Sementara itu, info dari manajemen TPKS mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025, kinerja operasional TPK Semarang menunjukkan tren pertumbuhan positif dibandingkan tahun 2024.
Arus petikemas tercatat tumbuh sekitar ±15%, disertai dengan peningkatan produktivitas bongkar muat, perbaikan efektivitas waktu pelayanan kapal dibandingkan berthing time, serta perbaikan kinerja yard occupancy ratio.
Lonjakan tersebut sejalan dengan pertumbuhan aktivitas industri, peningkatan arus ekspor-impor, serta meningkatnya pergerakan logistik domestik melalui Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.
Capaian 1 juta TEUs ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh insan terminal yang didukung oleh transformasi operasional yang konsisten.
“Pencapaian satu juta TEUs ini merupakan tonggak sejarah bagi TPKS,” kata sumber di TPKS.
Ke depan, pengembangan TPK Semarang akan difokuskan pada penguatan kapasitas, peningkatan efisiensi, dan akselerasi digitalisasi layanan.
Pada tahun 2026, jelasnya, TPK Semarang akan memulai peninggian dermaga dan area container yard, modernisasi peralatan bongkar muat melalui penambahan 27 unit Head Truck dan Chasis, serta pengadaan 4 unit Quay Container Crane (QCC) yang memiliki kapasitas full twin-lift serta jangkauan yang lebih jauh hingga 16 row dibandingkan QCC existing saat ini.
Selain itu, pada tahun 2026 sebanyak 3 unit RTG akan diselesaikan proses elektrifikasinya hingga 100%. Penguatan sistem teknologi informasi terintegrasi dan peningkatan kompetensi SDM juga akan terus dilakukan sejalan dengan transformasi terminal berbasis Planning & Control.
Terminal Booking System
Dalam mendukung kelancaran arus logistik darat, TPK Semarang telah mengimplementasikan Terminal Booking System (TBS) sejak tahun 2022 dan terus menyempurnakannya.
Menurut Wendra TBS berfungsi mengatur kedatangan truck eksternal, sehingga akan mengurangi antrian di dalam pelabuhan.
“Memberikan kepastian pelayanan terhadap truk yang datang, baik receiving maupun delivery. Dan TBS kita juga dilengkapi dengan fasilitas Waiting Area untuk truck dan driver, diberikan fasilitas tempat ruang tunggu, mushola, dan juga toilet,” kata Wendra.
Meski begitu, ujarnya, TPK Semarang masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain fluktuasi volume pada periode tertentu, kepatuhan pengguna jasa terhadap sistem, serta faktor eksternal seperti cuaca, rob, dan penurunan tanah di beberapa area.
Namun demikian, manajemen secara konsisten melakukan mitigasi melalui penguatan perencanaan, koordinasi lintas instansi, serta penyempurnaan sistem dan prosedur operasional.
“Kami berharap TPKS bisa terus tumbuh menjadi terminal yang andal, efisien, dan berdaya saing seiring dengan pertumbuhan industri di Jawa Tengah,” ujar Wendra. (***)





























