Presiden China Xi Jinping menjadi tuan rumah bagi 28 kepala negara pada pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) selama dua hari yang berfokus pada inisiatif “Belt and Road”, pada Minggu (14/5).
Beijing berharap pertemuan tersebut akan menggalang dukungan internasional untuk rencana membangun Jalur Sutra baru tersebut. Presiden Rusia Vladimir Putin turut hadir di antara para pemimpin dunia di ibukota China untuk membicarakan prakarsa yang dirancang untuk membuka kembali Jalur Sutera yang bersejarah tersebut.
Sewaktu membuka konferensi itu, Presiden China Xi Jinping menyampaikan pidato dengan mengatakan, lebih dari 2 ribu tahun yang lalu, nenek moyang kita, dengan melintasi padang rumput dan gurun pasir membuka jalur antar benua yang menghubungkan Asia, Eropa, dan Afrika yang dikenal sekarang sebagai Jalur Sutra.
“Dengan menghubungkan ribuan mil dan tahun, jalur sutra kuno merupakan perwujudan semangat perdamaian dan kerjasama, keterbukaan dan kebersamaan, saling belajar dan saling memberi manfaat,” kata pemimpin China itu.
“Jalur sutra kuno ini membuka jendela dialog bersahabat di antara negara-negara, dan menambah bab yang menarik dalam sejarah kemajuan manusia,” katanya.
China berharap dapat menghidupkan kembali “jalur sutra” modern dan menyiapkan program infrastruktur terbesar di dunia untuk menghubungkan Asia dan Eropa. Untuk itu, China akan menyiapkan biaya sebesar USD 1 triliun, bahkan lebih.

China ingin menciptakan kembali “Jalur Sutra” seperti halnya Marco Polo yang menghubungkan Eropa dan Asia. Tapi bukan jalur yang dilalui unta atau karavan untuk mengangkut rempah-rempah dan sutra ratusan tahun yang lalu, tapi China akan membangun sebuah jalur yang merupakan jaringan perdagangan modern senilai USD 1,4 triliun.
Dapat dibayangkan betapa kolosal pembangunan Jalur Sutra baru yang diinginkan China, berupa rel dengan kereta kecepatan tinggi, pembangkit listrik, jaringan pipa, pelabuhan dan bandara serta jaringan telekomunikasi yang akan meningkatkan perdagangan antara China dan 60 negara di Asia, Eropa, Timur Tengah dan Afrika Utara.
“Rencana ambisius itu bukanlah omong kosong,” tulis kantor berita resmi Xinhua yang juga menyoroti bahwa China telah menginvestasikan lebih dari USD 50 miliar di 20 negara di sepanjang rute tersebut, meliputi, Proyek pelabuhan Gwadar di Pakistan, yang akan membuka rute perdagangan ke wilayah barat daya China di Xinjiang.
Pipa minyak China-Myanmar, yang telah memberi Beijing akses darat pertama ke minyak mentah Timur Tengah melewati titik di Selat Malaka. Kemudian Pelabuhan Piraeus yang dikuasai mayoritas China, yang akan berfungsi sebagai pintu gerbang maritim ke Eropa Tengah dengan jalur rel kecepatan tinggi Belgrade-Budapest yang sudah direncanakan.
Mantan Asisten Menteri Pertahanan AS Chas Freeman menggambarkan bahwa proyek Belt and Road sebagai “upaya rekayasa paling transformatif dalam sejarah manusia”.
Dia menyoroti, bahwa negara-negara yang terlibat merupakan sekitar 55 persen output ekonomi global, 70 persen populasi dunia dan sekitar 75 persen cadangan energi yang diketahui.
“Orang Amerika saat ini memahami kekuasaan dalam istilah militer yang hampir eksklusif, ironisnya, kita percaya pada kekuatan pasar untuk membentuk peristiwa, dan Inisiatif Belt and Road bergantung pada pasar,” kata Freeman kepada NBC News.
Pada tahun 2013, Presiden China Xi Jinping meluncurkan inisiatif “One Belt, One Road” (OBOR) raksasa yang lebih dikenal sebagai “Jalur Sutra Baru”.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan konektivitas antara Asia, Eropa dan Afrika dengan membangun jaringan transportasi dan infrastruktur fisik lainnya seperti jalan, kereta api, pelabuhan laut dan jaringan pipa di berbagai negara di sepanjang rute “Jalur Sutra” kuno.
Proyek tersebut diharapkan dapat memfasilitasi peningkatan perdagangan antara China dan negara-negara sepanjang rute tersebut. Hal itu juga bisa menarik mereka lebih dekat ke Beijing. (***)





























seperti apa jalur sutra ini??