Para sopir truk kontainer mengeluhkan antrean panjang yang terjadi hampir setiap hari disejumlah depo petikemas di wilayah Cakung, Cilincing, Marunda pada saat truk mengembalikan empty kontainer ke depo.
Keluhan tersebut disampaikan ke Aptrindo Jakarta sebagai induk organisasinya. Mereka mengusulkan Aptrindo segera menindak-lanjuti hal tersebut.
Menurut Dharmawan Witanto, Ketua Aptrindo Jakarta (akrab disapa Akong), para sopir minta Aptrindo berkoordinasi dan melakukan pembahasan dengan pihak depo, Kemenhub, Polri, Asdeki, PTSP Jakarta, Kemenko Ekonomi, Kemendag, Asosiasi Importir Eksportir, serta Asosiasi pelayaran (INSA) untuk mengatasi masalah itu.
“Memang kejadian ini sangat berdampak langsung terhadap kegiatan usaha kita, ritase menjadi sedikit, kesehatan dan keamanan sopir terganggu, mobil juga terganggu, dan itu berdampak terhadap biaya logistik tinggi, bayar demurage jika DO expired, perpanjang Tila karena ketiadaan unit, membuat kemacetan jalan raya sehingga mengganggu aktivitas usaha dan masyarakat sekitarnya, dan akibatnya terjadi keterlambatan pengiriman bahan baku impor dan pengiriman barang ekspor,” ujar Dharmawan, di Jakarta, kemarin.
Dia menambahkan, bahwa untuk mengatasinya mesti ada kesepakatan bersama yang di jadikan peraturan pemerintah untuk izin usaha depot container.
“Jam kerja layanan depo harus 24 jams dan 7 hari dalam seminggu untuk semua depot container, termasuk pelayaran. Adanya kuota maksimal penerimaan container setiap depo, harus ada ketersediaan peralatan cadangan di setiap depo jika tiba-tiba rusak. Yang lebih penting lagi diberikan sangsi kepada depo menanggung kerugian jika terjadi antrian panjang,” katanya mengutip keluhan para sopir tadi.
Dishub Jakarta, mestinya turun tangan, dan segera mengevakuasi perijinan depo petikemas. Mengingat tak sedikit depo petikemas yang belum memenuhi syarat peraturan sudah beroperasi.
Menanggapi hal itu, Ketua Asdeki Jakarta, Yaqub menyampaikan bahwa untuk mengurai masalah ini yang paling penting pelayarannya dan Dishub, serta kementrian perhubungan.
“Pelayaran jangan hanya 1 depo saja, konsentrasi harus di pisah antara Marunda dan Cakung. Kemudian ada depo² yang tidak berizin tapi masih beroperasi. Lalu sisi jalan yang tidak bertambah dan dijadikan lapak usaha. Ini yang perlu segera dibenahi,” ungkapnya.
Untuk diketahui bahwa hampir setiap hari pemandangan kemacetan teruk kontainer terlihat di jalan raya Cakung, Cilincing Marunda. Bahkan terkadang jalan raya mulai dari depan Bogasari hingga pertigaan arah Cakung.
Karena itu, dishub Jakarta mesti segera turun tangan untuk masalah ini. (**)





























