Terminal Petikemas Nilam di Tanjung Perak Surabaya merupakan satu dari 15 terminal peti kemas yang sudah dikelola SPTP (Subholding Pelindo Terminal Petikemas) sejak tahun 2022.
Meski lokasinya dihimpit oleh Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI), terminal petikemas Surabaya (TPS), dan Terminal Teluk Lamong, namun terminal Nilam tetap memiliki pasar tersendiri.
Sebab, terminal Nilam yang khusus melayani kegiatan petikemas domestik ini memiliki keunggulan dari sisi kecepatan bongkar muat. Sebagai misal, Terminal ini pernah membongkar muat sebanyak 1.300 kontainer hanya dalam waktu 22 jam atau tak sampai satu hari.
Kinerja bongkar muat Terminal Nilam saat ini sudah bisa membongkar muat peti kemas rata-rata 40 box ship per hour (BSH). Bahkan pernah juga mencapai 58 BSH.
Padahal, sebelum merger Pelindo, kinerja bongkar muat di Terminal Nilam sekitar 20-25 BSH.

Ketika Ocean Week bersama General Manager (GM) Terminal Petikemas Nilam Taufiq Rachman, melihat aktivitas di terminal ini pada Senin siang (20/3/2023), tampak kapal-kapal sedang melaksanakan bongkar muat petikemasnya.
Lapangan penumpukan seluas 12 hektar yang dikelola terminal Nilam juga terlihat sudah penuh menggunung. Ada petikemas milik pelayaran SPIL, pelayaran Tanto, Samudera Indonesia, CTP, dan Meratus.
“Semua aktivitas disini, digerakkan dari pusat planning dan control yang selama 24 jam terus bekerja. Jadi perencanaan dilakukan dari ruangan ini,” ujar Taufiq saat mengajak Ocean Week ke ruangan planning dan control Terminal Nilam.
Mantan GM TPK Tanjung Emas Semarang ini juga bercerita jika tahun 2022, throughput Terminal Nilam tercatat 382 ribu TEUs. “Tahun 2023, kami ditarget 420 ribu TEUs. Kami optimis, semoga target itu bisa tercapai,” ujarnya.
Taufik mengatakan bahwa peningkatan kecepatan bongkar muat di Nilam juga turut mempersingkat lama sandar kapal (port stay) di dermaga, sekaligus bisa mendorong efisiensi bahan bakar yang digunakan. Sehingga bisa menurunkan cost logistik.

Waktu port stay yang semakin pendek, ujar Taufiq, turut menguntungkan para perusahaan pelayaran karena pelayaran bisa menambah kapalnya masuk ke terminal Nilam.
“Pelayaran bisa ambil manfaat tambah call kargo dan schedule bisa on time. Semakin cepat kinerja akan mengurangi biaya pelayaran,” ungkapnya.
Taufik yang didampingi manager operasional, berharap kinerja layanan di terminal ini akan terus membaik, sehingga dapat menarik pengguna jasa untuk melakukan kegiatannya di terminal Nilam.
400 Truk Per Hari
Taufik menjelaskan untuk mendukung kinerja, terminal Nilam yang memiliki panjang dermaga 320 meter, dengan draft 9 meter, dilengkapi dengan 4 CC, 8 RTG, 20 truk.
“Setiap hari sekitar 400 truk keluar masuk melakukan kegiatan disini,” ucapnya lagi.
Menurut dia, window kapal di terminal Nilam sangatlah ketat. Di terminal ini pun sudah melakukan transformasi standarisasi operasional, pelayanan operasional berbasis planning and control.
“Ada perubahan yang massif setelah adanya tim Task force yakni tim yang bekerja menstandarisasikan sistem operasional di semua terminal petikemas dibawah SPTP. Artinya ada Transfer knowledge layanan, sehingga layanan bongkar muat kontainer dimanapun jadi standar,” jelasnya.
Di terminal ini, jumlah pegawai juga tak lebih dari 100 orang, tepatnya hanya 98 orang.
Sementara itu Corporate Secratary SPTP Widyaswendra yang dikonfirmasi Ocean Week, membenarkan jika kinerja BSH terminal petikemas Nilam semakin membaik. “Kami berharap BSH di Nilam bisa menjadi rujukan buat terminal petikemas domestik lainnya di Indonesia,” kata Wendra.
Sangat Ketat
Ketua umum asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur Sebastian Wibisono kepada Ocean Week juga mengatakan kalau kinerja terminal petikemas Nilam semakin membaik.

“Setahu saya nggak ada masalah untuk terminal petikemas Nilam. Sudah hampir memenuhi standar permintaan pengguna jasa dari sisi BSH nya,” katanya.
Menurut Sebastian, isu yang perlu dikaji di Tanjung Perak adalah adanya peraturan pemerintah (Kemenhub) mengenai dwelling time yang dinilainya perlu dipikirkan pemerintah. “Kalau YOR disini hanya sekitar 50, mestinya tak ada lagi dwelling time,” ungkapnya.
Kody Lamahayu (ketua Organda Surabaya) juga menyorot hal yang sama dengan Sebastian. “Untuk truk petikemas, banyak anggota Organda disini yang truknya berkegiatan mengangkut kontainer dari dan ke Nilam. Memang truk-truk yang didalam terminal itu punya mereka (terminal petikemas Nilam),” kata Kody.
Sedangkan Jajang Haris, manager operasional pelayaran Temas, mengatakan bahwa window di terminal Nilam sangat ketat, sehingga jika jadwal kapal yang menggunakan terminal ini tak on schedule, bisa berantakan. “Temas sebenarnya pingin masuk ke Nilam, namun karena jadwalnya sudah full, sehingga kami masih terus menjajagi. Kecuali pihak Nilam bisa memberi jadwal yang sesuai dengan jadwal kapal kami,” ujar Jajang.
Meski begitu, Jajang mengaku akan mencoba berkomunikasi dengan GM Nilam (Taufiq Rachman) untuk membicarakan kemungkinan Temas bisa masuk Nilam. (**)





























