Terminal petikemas (TPK) Koja mentargetkan bisa menangani throughput tahun 2025 sebesar 986.039 TEUs.
Karena itu, TPK Koja menyiapkan investasi sebesar ratusan miliar untuk mendatangkan sejumlah peralatan baru. Upaya yang dilakukan untuk menjawab tantangan dan peningkatan kinerja di tengah persaingan antar terminal peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok yang semakin ketat.
Untuk diketahui bahwa di pelabuhan Tanjung Priok ada sejumlah terminal petikemas, yakni JICT, TPK Koja, NPCT1, MAL, IPC TPK, dan Adipurusa.
“Secara keseluruhan, investasi baru ini akan menambah kapasitas Koja sebesar 25 persen,” kata GM TPK Koja Indra Hidayat Sani, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, dikutip dari Antara, belum lama ini.
“Tahun 2025, Kami (TPK Koja) menargetkan arus barang (throughput) sebesar 986.039 TEUs. Makanya kami akan investasi peralatan. Tender peralatan baru ini dilakukan pada awal tahun 2023. Investasinya sekitar Rp803 miliar,” katanya.
Sementara itu, Juru Bicara TPK Koja Safuan menyatakan tujuan investasi baru itu untuk memperbarui peralatan dengan yang lebih modern, lebih efisien dari sisi energi, dan memiliki kapasitas yang lebih besar. Peralatan baru tersebut bertenaga listrik, tidak lagi berbahan bakar fosil.
Selain itu, sebagian crane milik Koja sudah berumur lama dan memiliki kapasitas yang terbatas.
Tiga quay container crane (QCC) jenis Panamax yang dimiliki TPK Koja sudah tidak memadai lagi karena tidak bisa menurunkan atau menaikkan kontainer ke kapal-kapal besar yang memiliki stack (tumpukan) peti kemas tinggi.
Adapun dua dari tiga QCC Panamax akan diganti dengan jenis terbaru New Super Post Panamax.
TPK Koja juga akan membeli satu lagi New Super Post Panamax, sehingga pada 2024 nantinya memiliki total delapan QCC.
Crane baru tersebut juga memiliki kapasitas yang lebih besar, yakni 189.098 TEUs per tahun, sementara kapasitas Panamax hanya 132.068 TEUs. Utilisasi crane baru tersebut juga bisa ditingkatkan sampai 90 persen, sedangkan Panamax hanya 65 persen.
Dengan tambahan tiga QCC baru tersebut, kapasitas TPK Koja akan mencapai 1.293.671 TEUs atau 862.448 peti kemas berukuran 20 kaki per tahun.

Sebelumnya, kapasitas terminal yang memiliki panjang dermaga 650 meter adalah 1.293.671 TEUs atau 660.343 peti kemas. TPK Koja mengharapkan tiga unit QCC itu bisa tiba pada semester II-2024.
Selain QCC, TPK Koja juga akan mendatangkan empat unit e-RTG (Rubber-Tyred Gantry) listrik, serta enam unit head truck (chassis) dan satu unit reach stacker. Derek yang akan dipakai di container yard itu akan tiba pada triwulan II-2024.
Dengan tambahan itu, ujarnya, TPK Koja akan memiliki 29 RTG, 26 di antaranya siap operasional sehingga kapasitas lapangan penumpukan kontainer akan menjadi 845.001 boks atau 1.267.501 TEUs.
TPK Koja juga akan membeli enam unit head truck (chassis) dan satu unit reach stacker baru. Dengan 54 head truck dan tiga reach stacker, kapasitas pemindahan kontainer dari pelabuhan ke lapangan penumpukan dan sebaliknya naik 14,22 persen menjadi 1.301.419 TEUs.
Menurut Indra Sani, dengan investasi baru tersebut akan menambah kapasitas TPK Koja sebesar 25 persen.
Di sisi laut, TPK Koja akan memperkuat dermaga dan memperdalam kolam dermaga menjadi minus 16 meter, dari sebelumnya minus 14 meter. Pendalaman kolam itu dilakukan agar TPK Koja bisa menampung kapal dengan ukuran yang lebih besar.
Sampai sekarang ini, kapal terbesar yang pernah dilayani TPK Koja adalah MV Navious Verde. Kapal dengan berat 40 ribu GT, panjang length over all (LOA) 260 meter, dan lebar 32 meter ini mengangkut kontainer sebanyak 4.253 TEUs.
Indra juga mengatakan arus barang di TPK Koja sampai Oktober 2022 mencapai 750.920 TEUs. “Sampai akhir tahun, kami optimis akan mencapai di atas 900 ribu TEUs,” ungkapnya.
TPK Koja dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2022 menetapkan target arus barang (throughput) sebesar 955.342 TEUs. Tahun lalu, arus barang di Koja mencapai 930.087 TEUs, lebih tinggi dibandingkan tahun 2020 sebesar 851.041 TEUs. (ant/**)




























